Kuntilanak merah
Dendam di Bawah Pohon Beringin Tua
Di ujung Desa Sukamaju, terdapat sebuah pohon beringin raksasa yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Warga desa selalu menghindari area tersebut setelah matahari terbenam. Bukan karena hantunya biasa, tapi karena dia—Kuntilanak Merah.
Konon, puluhan tahun lalu, seorang wanita hamil bernama Ratna dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Dalam keadaan emosional dan buta oleh amarah, sang kekasih membunuh Ratna dan janinnya di bawah pohon itu, lalu mengubur mereka secara sembunyi-sembunyi. Darah Ratna meresap ke dalam akar pohon, mengubah roh gentayangnya menjadi merah menyala, tanda dendam yang tak pernah kering.
Malam itu, Andi, seorang pemuda kota yang tidak percaya takhayul, nekat melewati jalan pintas di dekat pohon beringin demi sampai lebih cepat ke rumahnya. Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Hening. Hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan.
Tiba-tiba, angin berhembus kencang membawa bau anyir yang menusuk hidung. Bukan bau tanah basah, melainkan bau besi berkarat bercampur darah segar. Andi menghentikan motornya. Di depan sana, di bawah cahaya rembulan yang redup tertutup awan, ia melihat sesosok wanita berbaju putih. Namun, semakin ia mendekat, warna putih itu berubah menjadi merah gelap, seolah bajunya direndam dalam lautan darah.
"Kreeek... kreeek..."
Suara tawa melengking memecah keheningan, bukan tawa sedih seperti kuntilanak biasa, melainkan tawa penuh kemarahan yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Wanita itu menoleh perlahan. Wajahnya pucat, namun matanya merah menyala seperti bara api, dan dari sudut bibirnya mengalir darah hitam pekat.
"Andi..." suaranya parau, memanggil nama pemuda itu meskipun mereka belum pernah bertemu. "Kau laki-laki... sama seperti dia."
Andi mencoba menstarter motornya, tapi mesinnya mati total. Sosok itu melayang mendekat, kakinya tidak menyentuh tanah. Bau darah semakin kuat hingga Andi merasa mual. Tiba-tiba, sosok Kuntilanak Merah itu menghilang.
Andi menghela napas lega, mengira hantu itu telah pergi. Tapi saat ia menoleh ke spion motor, jantungnya hampir berhenti. Di jok belakang motornya, duduk sosok wanita itu, wajahnya kini sangat dekat dengan telinga Andi. Kuku-kukunya yang panjang dan berwarna merah darah siap mencengkeram.
"Semua laki-laki harus membayar..." bisiknya dingin tepat di telinga Andi.
Motor Andi akhirnya menyala sendiri dengan gas penuh, melaju liar menuju jurang di tepi jalan. Teriakan Andi tertelan oleh deru angin dan tawa melengking yang menggema di seluruh desa, meninggalkan noda merah di batang pohon beringin keesokan paginya.
Sejak malam itu, tidak ada lagi warga yang berani melewati jalan pintas tersebut. Dan jika Anda berjalan di dekat pohon beringin tua di Desa Sukamaju pada malam bulan purnama, Anda mungkin masih bisa mencium bau anyir darah dan mendengar tawa marah yang menunggu korban berikutnya.
Selain kisah menyeramkan Kuntilanak Merah, ada fenomena menarik yang sering diceritakan warga di sekitar pohon beringin tua tersebut. Banyak yang melaporkan melihat sosok hantu duduk di kursi tua yang terletak di bawah pohon itu, terutama saat malam hari saat bulan purnama. Sosok hantu duduk di kursi ini biasanya muncul dengan penampilan yang samar namun cukup menggetarkan hati. Mereka yang pernah melihat menggambarkan hantu itu mengenakan pakaian lusuh dan tampak menatap kosong ke arah mereka. Beberapa pemuda yang penasaran mencoba mendekati kursi tersebut, tetapi merasa ada energi dingin yang membuat mereka segera mundur. Kehadiran hantu duduk di kursi itu dipercaya sebagai manifestasi lain dari dendam dan kesedihan yang bersemayam di pohon beringin raksasa itu. Seperti halnya Kuntilanak Merah yang menunjukkan amarahnya melalui warna merah yang khas, hantu duduk di kursi tersebut membawa suasana sedih yang intens, menambah aura mistis di sekitar lokasi. Jika kamu suatu saat melewati pohon beringin tua ini, ada baiknya untuk menghormati kisah yang ada dan menghindari berinteraksi dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan ini. Pengalaman pribadi saya yang pernah terjebak di lokasi itu pada malam hari membuat saya benar-benar sadar, bahwa legenda bukan hanya sekedar cerita, melainkan sebuah peringatan agar kita selalu berhati-hati dengan tempat-tempat yang menyimpan sejarah kelam dan misteri.
