BIARKAN AKU PERGI (9)

9

“Masih berani kamu bertanya sama, Ayah? Jawab sendiri pake otak kamu!” sahut Mas Farhan. Tangannya sudah siap menonjokku jika saja Ayah mertuaku itu tidak menghalanginya.

“Sebaiknya kamu pergi, Nak." Ibu Mertuaku berusaha menengahi.

Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi sungguh.

Tapi, keluarga Fahira sepertinya enggan memberitahuku di mana keberadaan Fahira. Apakah mereka menyembunyikan Fahira dari sisiku?

Aku memutuskan meninggalkan rumah itu dengan memesan taksi online dari mulut gang.

Tak hanya keluarga Fahira. Sebentar lagi papa dan mamaku tentu juga akan murka kepadaku jika orang tua Fahira tidak terima.

Tapi, aku tetap belum tahu akar masalahnya apa? Apakah benar Fahira pergi karena dia tahu aku telah mengkianatinya? Tapi, dia tahu dari mana? Apakah penting aku mencari tahu Fahira tahu apa yang kulakukan?

Sore hari, aku sudah menaiki taksi dari bandara menuju rumah. Sebenarnya sudah sejak tadi aku sampai Jakarta. Tapi aku memilih menghabiskan waktu di café sambil mengisi perutku yang sejak pagi belum terisi apa-apa.

Aku sengaja memblokir nomor Nabila untuk sementara, karena aku tidak ingin dia mengangguku. Emosiku memuncak jika melihat panggilan darinya, sedangkan masalahku dengan Fahira belum tuntas.

Tiba-tiba perasaanku tidak enak saat taksi yang aku tumpangi berhenti di depan rumahku. Terlihat Nabila sudah duduk di teras bersama papa dan mama nya. Ada dua koper besar di sana.

“Kurang ajar kamu, Bayu! Kamu pikir anak saya apa? Ha?” Papa Nabila sudah mendekatiku. Kedua tangannya mencengkeram kerah kaos yang aku kenakan.

“Sudah, Papa!” Nabila berusaha mencegah Papanya melakukan kekerasan terhadapku.

Sebenarnya pembelaan Nabila tak membuatku simpati padanya. Tapi, baiklah. Dia memang istriku dan aku tak pantas berbuat dzalim kepadanya dengan meninggalkannya di malam pertama.

“Kita menginap di rumah yang kemaren kita sewa saja,” ujarku sambil masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.

“Kenapa? Kenapa tidak disini? Rumah itu masih perlu di bersihkan, Bay. Tidak bisa langsung ditempati. Ini sudah sore. Sebaiknya besok saja kita suruh orang membersihkannya,” rajuk Nabila.

Aku terdiam. Kenapa sih, Nabila tidak bisa bersabar menungguku di rumahnya saja? Kalau sudah selesai urusan, aku pasti menjemputnya.

Ah, sudahlah. Aku sungguh lelah. Sebaiknya kubiarkan Nabila malam ini menginap di ruang tamu saja. Toh, aku belum tahu keberadaan Fahira saat ini.

Kudorong dua koper besar itu masuk ke dalam rumah, lalu aku meletakkannya di kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.

Nabila mengikutiku masuk ke kamar itu.

Rumahku dengan Fahira ini hanya ada tiga buah kamar. Satu kamar di bawah yang biasanya untuk tamu menginap dan dua kamar di lantai atas, kamarku dan satu kamar yang masih kosong. Rencananya buat anakku jika kami nanti punya anak.

“Mas, kamar buat mama dan papa di mana?” Pertanyaan Nabila sontak membuatku terkaget.

“Aku antar saja mama dan papa pulang malam ini, atau aku panggilkan taksi,” ujarku.

Buat apa mereka ikut menginap di sini. Toh, rumahnya tidak terlalu jauh.

“Mama dan papa akan tinggal sama kita, Mas. Rumah yang kami tinggali akan di sita bank,” ujar Nabila.

“Apa?!” Mataku kembali membelalak sempurna.

BERSAMBUNG

Baca selengkapnya di KBM app

Judul: BIARKAN AKU PERGI

Nama penulis: ET. Widyastuti

2/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadapi konflik keluarga yang rumit seperti yang dialami oleh Bayu dalam cerita BIARKAN AKU PERGI memang tidak mudah. Dari pengalamanku, ketika ada ketegangan yang memuncak dalam sebuah hubungan, sangat penting untuk menjaga komunikasi tetap terbuka walaupun secara emosional terasa sangat berat. Kisah Bayu yang harus berhadapan dengan keluarga Fahira yang menutup-nutupi keberadaan istrinya dan tekanan dari keluarga Nabila menunjukkan bagaimana konflik keluarga bisa menjadi sumber stres yang luar biasa. Selain itu, saya juga pernah mengalami situasi di mana saya harus menunda komunikasi dengan salah satu pihak karena perasaan emosi yang belum stabil, seperti Bayu yang memblokir nomor Nabila agar tidak terus menerus dihubungi. Namun, cara ini memang perlu dilakukan dengan penuh perhitungan agar tidak memperparah masalah yang ada. Kadang memberi ruang untuk menenangkan diri bisa membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Dalam cerita ini juga terlihat bagaimana Bayu harus mengambil keputusan sulit, apakah tetap mengabaikan masalah Fahira atau berusaha mencari tahu kebenaran di balik kepergiannya. Ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan nyata, menghadapi masalah seperti pengkhianatan atau ketidakpastian pasangan memang memerlukan keberanian dan ketegasan. Mencari tahu akar masalah sangat penting agar tidak hidup dalam kebohongan atau kecurigaan yang berkepanjangan. Selain itu, situasi kedua keluarga yang saling menuntut dan tekanan eksternal seperti rumah yang disita bank menambah beban yang dirasakan oleh Bayu dan Nabila. Ini mengajarkan kita bahwa masalah finansial juga bisa memperparah ketegangan dalam rumah tangga. Penting bagi pasangan untuk saling mendukung dan berkomunikasi terbuka agar bisa mencari solusi bersama dalam menghadapi tekanan ekonomi. Bagi pembaca yang sedang menghadapi situasi serupa, saya sarankan agar tetap menjaga ketenangan dan jangan ragu mencari bantuan pihak luar seperti konselor keluarga atau teman dekat yang bisa dipercaya. Cerita seperti ini mengingatkan kita bahwa kehidupan rumah tangga penuh liku dan kadang memerlukan keteguhan hati untuk melewati masa-masa sulit. Teruslah berusaha memahami perasaan satu sama lain dan jangan sampai konflik berkembang menjadi luka batin yang tak tersembuhkan.