Kau Hina Ibuku Aku Blokir ATM mu (5)
Bab 5 Berani Selingkuh Aku Miskinkan kamu
"Saya pinjam sebentar saja, Besan. Jangan bilang sama Rena ya," pesan ibu mertua. Cih kalau ada maunya aja, ibuku dibaikin kemarin saja di hina.
"Yo wes gak papa, mbak Yu. Tapi nanti jangan cerita ke Rena ya, saya gak enak," jawab ibuku.
"Iya besan tentu, pokoknya aku pasti nggak akan bilang sama Rena. Terus itu tas sama baju juga aku pinjam ya,"
"Oh iya mbak Yu."
Aku melihat Ibu segera menuju ke almari
"Gak boleh! Enak aja mau pinjam," ucapku.
"Oalah, Rena. Mbok ya biarin toh, mertua mulu cuma pinjem bukan minta,"
"Ibu cuma pinjam sebentar kok Ren. Ibu besok mau arisan masa iya besok Ibu nggak pakai perhiasan," ucap Ibu mertua.
"Ya kalau nggak punya ya udah nggak masalah to," jawabku.
"Ya Malu dong ibu Ren. Masak yang lain pakai tapi Ibu nggak pakai," jawabnya.
"Ngapain malu, malu itu kalau ibu nyuri apalagi nyuri uangnya menantu. Menjadikan menantunya sebagai ATM selama bertahun-tahun apalagi menantunya itu perempuan. Apa anak ibu gak ada harga dirinya sebagai laki-laki,"
"Kamu kok gitu to, Ren. Yo wis kalau nggak boleh," ucapnya
"Eh tunggu. Itu baju sama tas mana? Aku membelikan barang-barang itu untuk menyenangkan Ibuku bukan menyenangkan ibu. Kalau ibu mau juga minta lah sama anak-anak ibu," balasku.
"Rena, kamu jangan begitu nak."
"Iya, Ren. Ibu ini kan orang tuamu juga apa salahnya sih Kamu menyenangkan Ibu," ucap mertuaku. Dasar gak tau diri.
"Memang selama ini aku nggak pernah menyenangkan ibu. Gak cukup ya ibu memeras tenaga dan hartaku selama ini. Ingat ya, Bu, semut juga akan melawan kalau selamanya diinjak,"jawabku.
"Ren.."
"Sudah, Bu. Sudah cukup Rena menyenangkan hati orang lain."
"Ada apa sih ribut-ribut?"
"Kamu dari mana Mas, kok rambutmu basah?"tanyaku.
"Ouh ini dek," pria itu memegang hidungnya," tadi aku mancing sama teman eh malah kecebur.
"Kok gak tenggelam sekalian," balasku.
"Kamu kok gitu sih, dek," balas suamiku.
"Imran, tolong bilang sama Rena. Ibu minta izin mau pinjam perhiasan Ibunya, besok mau arisan, ibu malu kalau nggak pakai perhiasan," bisik mertuaku.
"Sudahlah, Bu. Kalau memang nggak ada ya udah nggak usah pakai. Lagian ibu hobby banget sih pamer," jawab Mas Imran.
"Kok gitu sih sekarang kamu mas, kok jadi kamu selain Ibu sih Mas," protes Desi.
"Kamu juga, anak gadis jam segini baru pulang. Dari mana saja kamu?"tanya suamiku sengit.
"Aku ada tugas lho Mas."
"Tugas apaan dihotel."
Eit tumben dia memarahi adiknya
"Urus keluargamu Mas, bilang sama ibumu jangan ganggu ibuku, apalagi meminjam perhiasan ibuku. Kalau miskin itu miskin aja, gak usah berlaga!"
Aku segera membersihkan diri lalu kemudian ganti baju.
Kling
[Hai lo tau gak siapa bos baru kita?]
Aku diamkan saja pesan dari Yessi,
Kling
Ponsel Kembali berbunyi kali ini pesan dari Yesi bukan teks melainkan sebuah foto.
"Dasar edan, sudah dibilang aku tidak peduli masih juga kirim fotonya dia. Tapi gak papalah penasaran juga setampan apa dia," gumamku.
Aku menunggu beberapa
"Loh dia, kok dia ada di sini?"
Prank
"Pokoknya aku mau hp baru, aku malu sama teman-temanku!"
Ah apalagi sih itu?
"Desi! Kamu paham sedikit dong posisi mas, untuk sekarang ini Mas gak bisa berbuat apa-apa selain nurut sama Rena," balas suamiku.
"Imran, memangnya nggak bisa kamu butuh istrimu supaya mau memberikan atm-nya lagi sama kamu. Kita butuh uang itu." Ibu mertua ikut membujuk.
"Aduh ibu, Aku juga mau ATM itu tapi untuk sekarang ini kita harus pura-pura nurut sama Rena sampai dia lengah. Supaya dia percaya lagi sama aku."
Huhu kambing, benarkan dugaanku.
"Masa kamu gak punya tabungan sih Mas sedikitpun."
"Benar Imran, masa sedikitpun kamu nggak punya tabungan ?"
"Gak bisa, Bu. Kemarin aku punya sedikit tabungan tapi sudah habis buat biaya lahiran Mona."
Brak
"Siapa Mona, mas?"
Wajah mas Imran pucat, bibirnya gemetar. Awas saja kalau kamu selingkuh mas, bukan hanya ATM yang aku blokir, aku juga akan buat kamu dipecat dari pekerjaanmu!
Baca selengkapnya di kbm
Judul Kau Hina Ibuku Aku Blokir ATM mu
Penulis AuthorPena
Dalam kehidupan rumah tangga, konflik antara mertua dan menantu sering kali menjadi sumber ketegangan yang sulit dihindari. Dari pengalaman pribadi, saya pernah menyaksikan bagaimana ketidakseimbangan dalam hubungan ini bisa menyebabkan pergolakan yang besar, terutama soal finansial. Kasus di mana seorang istri memblokir ATM suaminya setelah merasa ibunya dihina dan selalu dimanfaatkan oleh ibu mertua sangat relevan dengan masalah nyata yang banyak dialami keluarga. Sungguh menyakitkan ketika perasaan dihargai dalam keluarga tidak seimbang, apalagi jika disertai dengan perilaku yang membuat istri merasa seperti bank berjalan. Saya pernah berhadapan dengan situasi yang tidak jauh berbeda, di mana ibu mertua sering kali meminjam barang dan uang tanpa batas, berharap menantunya selalu sedia. Namun, tidak ada yang abadi. Ketika batas kesabaran terlampaui, sikap tegas menjadi penting untuk menjaga harga diri dan kestabilan rumah tangga. Dalam cerita ini, penggunaan kata-kata seperti "menjadikan menantunya sebagai ATM" sangat menggambarkan penderitaan seorang istri yang harus berjuang mempertahankan hak dan martabatnya. Selain itu, penggalan dialog yang memperlihatkan suami yang harus berperan sebagai penengah, bahkan pura-pura menuruti istri demi membangun kembali kepercayaan, menambah dimensi realistis dalam dinamika keluarga. Selain konflik finansial, terdapat juga misteri yang menarik yaitu munculnya karakter Mona yang sepertinya terkait dengan rahasia yang belum terungkap, menambah ketegangan cerita. Ini mengajarkan bahwa di balik segala perselisihan, sering ada hal yang lebih dalam yang perlu diselesaikan dengan komunikasi terbuka dan jujur. Bagi pembaca, cerita ini bisa menjadi pengingat pentingnya menghargai dan menjaga hubungan dalam keluarga, terutama ketika berkaitan dengan keuangan dan kepercayaan. Jangan sampai kesalahpahaman dan kebiasaan buruk merusak ikatan yang sudah terjalin. Saya menyarankan agar setiap individu dalam keluarga selalu berusaha memahami perasaan satu sama lain dan mencari jalan tengah demi kebahagiaan bersama.

