DIKEJAR MANTAN SUAMI, DICINTAI CEO TAMPAN (8)

Judul: DIKEJAR MANTAN SUAMI, DICINTAI CEO TAMPAN

Penulis: anquindienna

Baca di aplikasi: KBM App

Aldo menyeret lengan Davika dengan kasar. Amarahnya meledak begitu melihat sang adik kembali ke rumah setelah lama menghilang demi Rafi. Dengan nada keras, Aldo mengusir Davika dan menuduhnya hanya kembali karena sudah tak dibutuhkan lagi oleh Rafi. Ia menegaskan agar Davika mengurus hidupnya sendiri dan tidak lagi pulang ke rumah keluarga.

Dengan tangis tertahan, Davika memohon maaf. Ia mengakui kebodohannya yang dulu rela meninggalkan Mama, Kakak, Irvan, dan seluruh keluarga hanya demi Rafi. Kini ia kembali tanpa siapa-siapa, hanya membawa Keenan. Ia memohon agar dimaafkan dan tidak diusir, karena keluarga inilah satu-satunya tempat pulang yang ia miliki.

Aldo semakin tersulut. Ia menuduh Davika bodoh karena masih berharap Rafi bisa berubah. Ia mengungkit masa lalu: KDRT, luka fisik yang membuat Davika dirawat di rumah sakit, dan bagaimana keluarga hancur saat Davika memutus komunikasi demi kembali pada Rafi. Menurut Aldo, Rafi sudah pantas dilaporkan ke polisi, namun Davika memilih memaafkan dan kembali hidup dalam penderitaan.

Davika hanya bisa menangis. Semua tuduhan itu benar. Ia mengingat bagaimana hidupnya bersama Rafi tidak pernah benar-benar mewah. Setelah rujuk, Rafi hanya memberi uang belanja sepuluh ribu rupiah, melarangnya bekerja meski ia lulusan S1 Manajemen Bisnis, dan hanya menunjukkan “kemewahan” di media sosial. Realita yang ia jalani hanyalah keterbatasan dan kontrol.

Aldo meluapkan seluruh kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa Mama sampai jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena perbuatan Davika. Ia menyebut Davika berdosa besar karena mengabaikan orang tua, keluarga, dan ridho mereka. Bagi Aldo, amarah itu lahir dari rasa sayang dan kepedulian.

Tekanan emosi membuat Davika semakin lemah. Tangisnya pecah, dadanya sesak, kepalanya berdenyut hebat. Hujan turun, seolah menyatu dengan air mata dan kepedihannya. Tubuhnya limbung, penglihatannya menggelap, dan Davika pun pingsan.

Erna, sang ibu, berteriak panik dan segera menghampiri putrinya. Ia menegur Aldo karena keterlaluan, lalu memintanya membantu mengangkat Davika ke kamar. Aldo menurut, meski masih diliputi amarah. Saat menggendong adiknya, ia terkejut melihat tubuh Davika yang sangat kurus dan wajahnya yang pucat, membuatnya bertanya-tanya apa lagi yang telah Rafi lakukan.

Di kamar, Keenan bertanya polos. Aldo berusaha menenangkan keponakannya dan menyuruhnya bermain dengan Om Irvan. Setelah itu, Erna menceritakan semua yang dialami Davika. Aldo semakin murka saat tahu Davika ditalak hanya karena status Instagram. Baginya, alasan itu tak masuk akal. Ia yakin Rafi punya selingkuhan dan hanya mencari pembenaran untuk menalak Davika.

Erna menenangkan Aldo, meminta ia melunak karena Davika sudah cukup menderita. Namun, Davika tak kunjung sadar meski diberi minyak kayu putih. Wajahnya pucat pasi. Erna panik dan berteriak agar Aldo segera membawa Davika ke rumah sakit.

****

KBM App bisa download di Amazon, Samsung galaxy store atau aplikasi store di hp masing-masing dan KBM App juga bisa diakses di playstore.

2/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi sering kali mengajarkan kita betapa pentingnya dukungan keluarga ketika menghadapi tekanan hidup yang berat, seperti yang dialami oleh Davika. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan hanya berdampak secara fisik, tetapi juga psikologis sehingga korban sering merasa terisolasi dan kehilangan arah. Dalam situasi seperti ini, keberanian untuk kembali dan menghadapi keluarga yang mungkin semula marah atau kecewa sangatlah berat, namun menjadi langkah penting untuk memulai pemulihan. Saya pernah melihat seorang teman yang mengalami situasi serupa, di mana keluarganya awalnya sulit menerima keputusan untuk kembali setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Namun, dari waktu ke waktu, dengan komunikasi dan pengertian, mereka mulai memberikan dukungan yang dibutuhkan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kemarahan keluarga sering kali lahir dari rasa sayang dan kekhawatiran, seperti yang dialami Aldo terhadap Davika dan ibunya. Selain faktor emosional, aspek finansial dan sosial juga menjadi tantangan tersendiri. Melarang korban untuk bekerja dan memberi sedikit uang belanja, seperti yang dialami Davika, merupakan bentuk kontrol yang sering tersembunyi dalam hubungan abusif. Hal ini membuat korban semakin sulit untuk mandiri dan melangkah keluar dari hubungan beracun tersebut. Penggunaan media sosial sebagai alat manipulasi juga patut diperhatikan. Status yang dibuat Rafi hingga akhirnya menalak Davika menunjukkan bagaimana teknologi bisa menjadi sarana penyebaran fitnah dan penyebab konflik baru. Oleh karena itu, penting untuk bijak menggunakan media sosial dalam konteks hubungan pribadi, dan mencari bantuan profesional jika sudah mengalami tindakan kekerasan. Bagi pembaca yang mungkin mengalami hal serupa, alangkah baiknya untuk mencari perlindungan dan pendampingan dari keluarga atau lembaga terkait yang bisa membantu. Ingatlah bahwa setiap orang berhak mendapatkan hidup yang aman dan bahagia tanpa kekerasan. Kisah Davika mengingatkan kita semua bahwa walau sakit dan dikecewakan, ada harapan baru yang bisa diperjuangkan demi masa depan yang lebih baik.