THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu) 4

Judul: THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)

Penulis: Dhea Sukma

Baca selengkapnya di: KBM App

---

Kepalaku masih berat, pusing semalam belum hilang. Badanku panas, dan gema takbir di televisi justru membuat dadaku sesak. Lebaran tinggal hitungan hari, tapi bukan bahagia yang kurasa—melainkan rindu kampung, rindu emak.

Aku sengaja tak keluar kamar sampai Mas Rafi mengetuk pintu dengan tidak sabar.

“Ji, kenapa belum ada sarapan? Ibu sudah lapar, harus minum obat!”

Aku turun dari ranjang.

“Kan sudah kubilang Mas, aku nggak masak. Kalau lapar beli saja. Uang dari Mas kemarin masih banyak sisanya.”

“Kamu kenapa sih? Masih pagi bahas uang terus? Mbok ya ikhlas kalau jadi istri itu,” keluhnya, melirik dasterku yang kusam.

Hatiku getir. Aku berjalan ke sumur. Tumpukan baju kotor Rena sudah menunggu.

“Mbak Jihan! Baju kerjaku yang putih jangan dicampur sama dastermu! Mahal itu harganya!” teriak Rena dari kamar mandi, baru selesai mandi air hangat yang kupanaskan subuh tadi.

“Cuci sendiri, Ren. Mbak lagi nggak enak badan.”

“Lho? Biasanya juga Mbak yang cuci! Mas Rafi! Lihat Mbak Jihan makin malas!” Rena mengadu.

Mas Rafi datang dengan wajah jengkel.

“Ji, cuma nyuci baju adik sendiri apa susahnya? Kamu kan nggak kerja, waktumu banyak.”

“Waktuku memang banyak, Mas. Tapi bukan berarti aku bisa diperbudak sama adikmu!” balasku tegas.

Mas Rafi terdiam. Saat itu Rara datang membawa belanjaan.

“Mas, lihat kaftanku! Tapi sepatu yang kemarin kapan dibeli? Teman-temanku bilang kalau nggak pakai itu, kaftannya kelihatan murahan.”

“Iya, nanti Mas usahakan,” jawabnya lembut.

Hatiku perih. Sepatu baru untuk Rara terasa lebih penting daripada obat atau sekadar uang untukku.

Ponselku bergetar. Pesan dari tetangga emak di kampung:

Nduk Jihan, emakmu jatuh di dapur. Atap rumah jebol kena hujan. Kakinya bengkak, nggak bisa jalan.

Duniaku runtuh. Aku mengejar Mas Rafi.

“Mas, tolong aku…”

“Ada apa sih, Ji? Mas mau berangkat.”

“Emak kecelakaan. Atap rumahnya ambruk. Mas punya simpanan, kan? Tolong Mas… kali ini saja.”

Mas Rafi ragu. Sebelum menjawab, ibu mertua muncul sambil memegangi dada.

“Aduh… dadaku sesak lagi, Rafi. Kayaknya Ibu harus ke dokter spesialis. Biayanya mungkin sejuta lebih…”

Mas Rafi menatapku lalu ibunya.

“Ji… uang Mas nggak cukup. Emakmu kan ada tetangga. Minta tolong dulu sama mereka.”

“Mas, itu ibuku!” teriakku. “Kenapa tiap aku butuh, ibu selalu sakit? Kenapa tiap aku minta hakku, adik-adikmu selalu punya kebutuhan baru?!”

“Jihan! Jaga bicaramu!” bentaknya. “Kamu tega kalau ibuku kenapa-kenapa gara-gara kamu egois?”

“Egois?” aku tertawa getir. “Tiga tahun aku jadi istrimu, nggak pernah sekali pun kirim uang ke emak karena semua habis buat parfum Rena, gym Roni, sepatu Rara! Sekarang emakku kecelakaan, aku disebut egois?”

Mas Rafi pergi begitu saja.

Ibu mertua yang tadi sesak napas langsung berdiri tegak.

“Jadi menantu itu harus tahu diri. Jangan dikit-dikit minta uang. Emakmu itu tanggung jawab saudara-saudaramu, bukan anakku!”

Roni keluar kamar.

“Mbak, nanti kalau kurir datang bawa paketku, bayarin dulu, ya. Pakai uang kembalian gas.”

Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Pesan dari Dini masuk:

Han, komisi sudah cair. Kontrakan sudah dapat. Kecil tapi bersih.

Air mataku jatuh.

Cukup sudah.

Jika Mas Rafi memilih jadi pahlawan bagi keluarganya dengan menjadi penjahat bagi istrinya sendiri, maka aku akan jadi pahlawan bagi diriku dan emak.

Aku mengemas baju-bajuku.

“Selamat bersenang-senang, Mas. Biar beban pikiranmu berkurang satu…”

Besok, rumah ini akan benar-benar sepi.

Bersambung…

📖 Baca versi lengkapnya di KBM App

3/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadapi masa-masa Lebaran, banyak dari kita tentu mengharapkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga. Namun, cerita dalam "THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)" mengingatkan bahwa tidak semua merasakan momen tersebut dengan suka cita, terutama ketika hubungan keluarga tidak harmonis. Saya pernah mengalami situasi serupa, dimana saya merasa posisi saya dalam keluarga suami kurang dihargai. Uang THR suami lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan keluarganya, sementara saya bahkan tidak mendapatkan bagian sedikit pun. Rasanya seperti menjadi tamu di rumah sendiri. Perasaan kecewa dan sedih menghampiri, terutama saat sedang membutuhkan dukungan. Menurut pengalaman saya, penting untuk membangun komunikasi terbuka dengan pasangan. Mengungkapkan perasaan dan kebutuhan kita secara jujur dapat membantu suami mengerti dilema yang kita hadapi. Namun demikian, jika situasi merugikan terus berlanjut, tidak ada salahnya untuk mulai memikirkan langkah-langkah mandiri demi kesejahteraan diri dan keluarga asal, seperti yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita. Selain itu, saya juga belajar bahwa menjaga kesehatan mental sangat penting. Jangan biarkan beban keluarga yang menekan kita sampai membuat stress berkepanjangan. Cari dukungan dari sahabat atau orang yang dipercaya agar perasaan tidak terpendam sendiri. Dalam kasus ibu yang sakit dan rumah yang butuh perbaikan, mengatur prioritas dan mencari solusi bersama pasangan adalah kunci, walaupun terkadang situasi seperti dalam cerita membuat kita harus berani mengambil keputusan tegas demi kebaikan bersama. Cerita ini sangat menggugah, memperlihatkan realitas pahit yang dialami menantu dalam keluarga yang kurang harmonis. Tetapi juga mengajarkan bahwa kita harus tetap berani berjuang untuk diri sendiri dan orang yang kita cintai. Semoga kisah ini membuka mata para pembaca untuk lebih memahami pentingnya keadilan dan empati dalam hubungan keluarga, terutama pada momen penting seperti Lebaran.