THR SUAMIKU BUKAN UNTUKKU 1
Cuplikan bab 1a
U ang THR Cuma Numpang Lewat
"Mas, THR kali ini… aku kebagian, kan?"
Aku memberanikan diri bertanya saat melihat Mas Rafi baru saja melepas seragam kerjanya. Ada binar penuh harap di mataku yang mungkin terlihat menyedihkan. Aku hanya membayangkan mukena baru untuk salat Ied nanti, atau sekadar beberapa lembar u ang untuk kukirimkan pada Emak di kampung yang atap dapurnya sedang bocor.
Namun, Mas Rafi justru mendengus kasar. Suara napasnya terdengar begitu berat, seolah pertanyaanku adalah beban tambahan yang tak diinginkan.
"Mas mohon pengertiannya, Jihan. Rena itu ga jinya kecil, cuma cukup buat kebutuhannya dia. Roni mau UTS, Rara juga pengen beli baju atau sepatu baru buat lebaran, kayak temen-temennya. Ibu apalagi, obatnya mahal. Kamu kan istri Mas, masa kamu tega hitung-hitungan sama keluarga Mas sendiri?”
Kalimat itu menghantam da daku seketika. Aku menahan napas, berusaha agar air mata ini tak jatuh saat itu juga. Ternyata, berharap pada suami sendiri adalah kesalahan besar bagiku.
Mas Rafi keluar dari ka mar tanpa peduli pada raut wajahku yang mulai pias. Ia menuju meja makan kayu jati yang sudah kusam dimakan usia. Di sana, pemandangan yang menyayat hati sudah tersaji. Empat amplop cokelat tebal sudah berpindah tangan.
Satu di depan Ibu mertuaku, satu di depan Rena, satu untuk Roni, dan satu lagi sudah dipe luk erat oleh Rara yang sedari tadi cekikikan kegirangan.
Aku duduk di samping suamiku, mencoba mencari sisa-sisa keberanian. “Mas, bukannya tadi ada satu amplop lagi? Apa boleh yang itu, buat aku?”
Mas Rafi menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyuap kolak pisang. Ia mendongak, menatapku dengan ta jam.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia merogoh saku kemejanya. Aku sempat berharap ia akan memberikannya padaku. Namun kenyataannya, amplop terakhir itu justru digesernya ke arah Rena, adik pertamanya yang sebenarnya sudah bekerja sebagai staf admin di pabrik sepatu.
"Ini buat tambahan cicilan motor Rena, Ji. Kasihan dia kalau ga jinya kepotong terus buat ba yar angsuran. Nanti dia nggak punya pegangan u ang buat Lebaran," ucap Mas Rafi santai, lalu kembali menyeruput teh hangatnya seolah tak ada beban.
Aku terpaku. Rasanya kerongkonganku mendadak kering, lebih perih daripada tenggorokan orang yang sedang berpuasa di bawah terik matahari.
"Tapi Mas... Rena itu kan kerja? Dia punya ga ji sendiri loh, Mas. Dia juga punya THR sendiri. Masa, Mas nggak bisa menyisihkan sedikit saja buat aku?" Suaraku bergetar hebat. Aku tidak bisa lagi menahan sesak yang kembali merambat naik ke da da.
Rena yang sedang asyik menghitung lembaran u ang di dalam amplopnya mendongak. Bi birnya mengerucut sinis.
"Dih, Mbak Jihan ini … perhitungan bener sih, sama adik iparnya sendiri? Aku ini kan adik kandungnya Mas Rafi. Wajar dong kalau Mas Rafi bantu ba yar cicilan motorku. Mbak mah enak, di rumah terus, nggak kena debu, nggak panas-panasan."
"Bener itu, Rafi," sahut ibu mertuaku sambil cepat-cepat memasukkan amplopnya ke dalam saku daster jumbonya.
"Istri itu tugasnya berbakti sama suami. Kamu kan sudah dikasih makan, nggak mikirin ba yar kontrakan, nggak mikir isi token listrik. Semua Rafi yang ba yar. Mau minta apa lagi toh, Nduk-Nduk? Sudah, jadi perempuan itu mbok ya, jangan serakah!"
Aku mere mas pinggiran daster batikkku yang sudah mulai menipis dan kusam. Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu.
"Bukannya serakah, Bu. Tapi, aku pengen ganti mukena. Yang lama sudah kuning warnanya, karetnya juga sudah molor. Aku cuma mau be li satu yang baru buat sholat Ied nanti. Sama... aku mau kirim sedikit buat Emak di kampung. Atap dapurnya bocor, Mas," bisikku lirih. Mataku memanas menatap lelaki yang seharusnya menjadi pelindungku itu.
Prak!
Bersambung…
Selengkapnya di KBM App
Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)
Penulis : Dhea Sukma
Pengalaman seperti yang dialami Jihan bukan hal yang jarang terjadi dalam keluarga besar di Indonesia. Banyak istri yang merasa terpinggirkan dan tak dianggap saat pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), terutama jika suami lebih mengutamakan keluarga besar daripada istri dan anak sendiri. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa sakit hati dan kekecewaan yang dalam, terutama ketika kebutuhan pribadi dan keluarga inti dianggap tidak penting. Dalam kisah ini, Jihan hanya berharap mendapatkan sebagian kecil dari THR suaminya untuk membeli mukena baru dan membantu ibunya yang sedang mengalami kesulitan. Namun harapannya justru berakhir pilu karena seluruh THR dialokasikan untuk anggota keluarga lain, bahkan adik suami yang sebenarnya sudah bekerja dan memiliki gaji sendiri. Situasi seperti ini mencerminkan bagaimana budaya pengutamaan keluarga besar dapat menjadi beban bagi beberapa individu dalam rumah tangga. Sebagai seseorang yang pernah mengalami situasi serupa, saya mengerti betapa kerasnya perjuangan batin yang harus dilewati. Rasa dihargai dan diperhatikan soal keuangan di dalam rumah tangga sangat penting untuk menjaga keharmonisan. Ketika pengeluaran keluarga tidak didiskusikan secara terbuka dan adil, ketidakpuasan akan semakin besar. Komunikasi terbuka antara pasangan dan keluarga besar sangat krusial agar semua pihak dapat memahami kondisi masing-masing tanpa merasa terabaikan. Selain itu, penting juga bagi istri seperti Jihan untuk membangun kemandirian ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada suami sepenuhnya. Dengan memiliki penghasilan sendiri, baik melalui pekerjaan maupun usaha sampingan, istri bisa lebih dihargai dan memiliki posisi tawar dalam pengelolaan keuangan keluarga. Kasus seperti Jihan juga membuka diskusi lebih luas tentang hak istri dan keadilan dalam pembagian THR. Mengingat THR merupakan hak setiap pekerja, maka dalam konteks keluarga, pembagian yang adil dan bijaksana sangat dibutuhkan agar tidak menimbulkan rasa iri atau sakit hati di antara anggota keluarga. Membaca kisah ini mengingatkan saya bahwa tiap keluarga memiliki dinamika dan masalah masing-masing. Namun, dengan sikap saling menghargai, saling mengerti, dan komunikasi yang baik, berbagai tantangan tersebut bisa diatasi bersama. Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat dan pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya memperhatikan hak dan perasaan semua anggota keluarga dalam menghadapi momen penting seperti pembagian THR.


ah harusnya teriak aja jihan, GREGETTNYAA