BERSINAR USAI BERCERAI 7

Bersinar Usai Bercerai (TAMAT) – anquindienna

Part 7

Dengan sigap, Aldo kembali menggendong Davika dalam pangkuannya dengan posisi bridal style. Meski berusaha tampak dingin, hati kecilnya tetap berontak. Ia sangat menyayangi adik-adiknya. Bahkan saat keluarga mereka terpuruk, Aldo rela mengorbankan kuliah S1 demi menjadi tulang punggung bersama sang ayah, Diaz, sebelum ayahnya wafat.

Aldo dan Erna segera masuk ke mobil milik Chika, istri Aldo. Chika tidak ikut karena baru tiga hari melahirkan anak kedua mereka secara caesar. Sepulang dari rumah sakit, Aldo langsung pamit untuk menemui Davika, dan Chika mengizinkan dengan penuh pengertian.

Aldo mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju klinik terdekat. Wajahnya dan Erna sama-sama dipenuhi kecemasan. Setibanya di sana, Aldo langsung menggendong Davika.

“Sus, tolong bantu adik saya!” serunya panik.

“Mari, Pak, ikuti saya,” jawab perawat sambil membawa mereka ke ruang gawat darurat. Davika segera ditidurkan, diperiksa, dan dokter dipanggil.

Aldo dan Erna menunggu dengan gelisah di luar. Begitu dokter keluar, Aldo langsung bertanya, “Bagaimana, Dok, kondisi adik saya?”

“Mari kita bicara di ruangan saya,” jawab dokter.

Di dalam ruangan, Aldo diliputi berbagai pikiran buruk. Ia sempat takut Davika hamil lagi, namun segera menepisnya.

“Ibu Davika terlalu banyak pikiran hingga asam lambungnya naik, itu yang membuatnya pingsan,” jelas dokter. “Selain itu, ia juga kekurangan gizi. Sepertinya sering menahan lapar. Apa ada alasan tertentu?”

Aldo mengepalkan tangannya, menahan amarah. Di tempat semewah itu, adiknya justru kelaparan?

“Mungkin Vika diet untuk memenuhi keinginan suaminya, Dok,” jawab Erna pelan.

“Dietnya tidak tepat. Setelah sadar, mohon diberi pemahaman. Jika ingin diet, lakukan sesuai arahan ahli gizi. Dan hindari stres berlebihan,” lanjut dokter. “Kami sudah memasang infus. Jika sudah sadar dan kondisi membaik, pasien boleh pulang.”

“Terima kasih, Dok,” ucap Aldo sambil merangkul ibunya.

Begitu keluar, Erna tak kuasa menahan tangis. “Ya Allah, tega sekali Rafi… sampai Vika kurang gizi seperti ini…”

Aldo menahan emosinya. “Sudah, Ma. Mama harus kuat. Nanti kita pikirkan bagaimana menghadapi Rafi.”

Erna menangis semakin keras. “Semua salah Mama… andai dulu Mama bisa mempertahankan keluarga, Vika tak akan memilih jalan seperti ini…”

“Ma, ini bukan salah Mama. Ini jalan hidup kita,” ujar Aldo lembut. “Sekarang Mama istirahat saja, biar Aldo yang jaga Vika.”

“Kamu enggak pulang? Chika pasti khawatir,” tanya Erna.

“Enggak apa-apa, nanti Aldo kabari,” jawabnya.

Aldo kemudian menelepon Chika dan menjelaskan semuanya. Chika justru menasihatinya.

“Davika butuh kita, Pi. Jangan dimarahin terus. Dia lagi rapuh,” ucap Chika lembut.

Aldo terdiam, lalu bertanya, “Aretha gimana, Mi?”

“Alhamdulillah baik. Mami ditemani Papa dan Kak Indira. Papi fokus dulu ke Vika ya,” jawab Chika.

Setelah menutup telepon, Aldo kembali ke ruang rawat. Ia menatap Davika dengan perasaan bersalah. Ia sadar tadi terlalu keras.

Tak lama, Davika mulai membuka mata. Ia mengerjap, silau oleh cahaya. Aroma klinik menyergap inderanya. Ia melihat infus di tangannya, ibunya tertidur di sofa, dan Aldo yang tertidur sambil menggenggam tangannya.

Saat Aldo terbangun, Davika bertanya pelan, “Kenapa Vika dirawat, Kak?”

Tatapan Aldo melembut, menyimpan rasa khawatir dan penyesalan yang tak terucap.

---

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App

4/14 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPas baca lanjutan cerita ini, aku langsung kepikiran sama kisah-kisah artis yang cerai tapi tetap kelihatan kuat dan bersinar, kayak banyak orang bahas soal perceraian Natasha Rizky. Bukan buat gosip ya, tapi lebih ke bagaimana sosok perempuan bisa tetap tenang, fokus sama anak, karier, dan kesehatan mentalnya setelah rumah tangga berakhir. Yang paling ngena buatku dari part ini adalah kondisi Davika yang sampai kurang gizi karena terlalu banyak pikiran dan salah diet, cuma demi menyesuaikan standar suami. Jujur, ini sering banget kejadian di dunia nyata. Banyak istri yang rela mengorbankan kesehatan fisik dan mentalnya demi terlihat "sempurna" di mata pasangan. Padahal kalau dipikir, setelah bercerai, yang benar-benar menemani kita itu diri sendiri dan keluarga yang tulus sayang. Kalau aku bayangin posisi Davika, pingsan, masuk klinik, lalu dengar dokter bilang dia kurang gizi karena sering nahan lapar, rasanya pasti campur aduk: sedih, marah sama diri sendiri, dan mungkin juga menyesal kenapa dulu begitu tunduk sama standar orang lain. Di sisi lain, dia masih beruntung punya keluarga seperti Aldo dan Erna yang tetap ada di sampingnya. Banyak perempuan di luar sana yang setelah cerai justru harus berjuang sendirian tanpa support sistem. Menurutku, momen-momen kayak gini sering jadi titik balik. Dari yang awalnya rela disakiti, pelan-pelan sadar bahwa dirinya berharga. Perempuan karier yang pernah ditarik lagi oleh mantan suami setelah bertahun-tahun berpisah, seperti gambaran di teks overlay gambar, juga sering mengalami dilema yang sama: apakah harus rujuk dan membuka luka lama, atau memilih tetap melangkah dengan luka yang sedang sembuh? Kalau kamu lagi di fase mirip Davika—banyak pikiran, mungkin baru saja berpisah, atau lagi proses cerai—penting banget buat jaga diri sendiri. Makan teratur, cari bantuan profesional kalau perlu, dan jangan ragu cerita ke orang yang kamu percaya. Perceraian itu memang berat, apalagi kalau sudah ada anak, karier, dan masa lalu yang panjang. Tapi bukan berarti hidup berhenti di situ. Buatku, "bersinar usai bercerai" bukan berarti langsung bahagia dan sukses secara instan. Lebih ke pelan-pelan bisa tertawa lagi, punya mimpi baru, dan berani bilang: aku pantas sehat, bahagia, dan dicintai dengan cara yang lebih baik. Kisah Davika ini bikin aku makin sadar kalau kadang hancur dulu itu perlu, supaya kita bisa membangun versi diri yang lebih kuat di kemudian hari.