SURGA YANG TERLUKA (1)

“Astaghfirullah haladzim! Nyonya Sari, sejak kapan tergeletak di lantai kamar mandi?”

Suara panik Bik Ninik kudengar terasa begitu jauh. Kepalaku berat, separuh wajahku mati rasa. Lidah terasa kelu, tak sanggup berkata-kata.

"Aku terpeleset setelah wudhu, Bik," ucapku, tetapi yang terdengar hanya lenguhan seperti suara keledai.

"Ya Allah, Nyonya! Mau ngomong apa toh? Bibik ndak paham."

“Non Nungki! Bangun, Non! Nyonya jatuh di kamar mandi!!”

"Apaan sih, Bik? Berisik aja pagi buta. Aku ini masih ngantuk karena semalaman begadang ngerjain skripsi!"

"Nyonya Sari, Non! Jatuh di kamar mandi. Bibik coba angkat ndak kuat. Minta tolong --"

"Astaghfirullah haladzim, Ibu!"

*

"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok? Saya Farhan, anak sulungnya."

"Saya mohon semua anak-anak Bu Sari kumpul. Demi kesembuhan Bu Sari, saya harap kita semua bisa bekerja sama."

"Kami sudah lengkap, Dok. Saya Nungki putri ketiganya dan ini Mas Bagas, kakak saya yang kedua. Ada juga Bik Ninik yang nantinya akan merawat Ibu."

"Baiklah, pertama yang ingin saya sampaikan Bu Sari mengalami stroke parsial. Separuh tubuhnya lumpuh dan nantinya harus ditopang kursi roda."

"Astaga! Nyonya Sari."

"Saya harap semua membantu memantau dan mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol pasien. Bu Sari harus menjalai fisioterapi, terapi okupasi dan terapi wicara untuk mengembalikan fungsi tubuh yang hilang."

"Aduh, repot banget. Mana sempat aku ngerawat Ibu kayak gitu?" Kulihat Bagas langsung patah arang.

"Selain itu, Mas dan Mbak harus memastikan pasien minum obat secara teratur sesuai jadwal."

"Ribet banget. Aku nggak mungkin bisa, skripsiku bisa berantakan kalau harus merawat Ibu," ucap Nungki panik.

"Demi kesembuhan Bu Sari kalian semua harus kompak. Sering membantu pasien bergerak, miring kanan-kiri, duduk, dan berjalan, untuk mencegah kaku otot dan luka tekan. Kalian juga harus mengajak bicara untuk memulihkan kemampuan komunikasi dan melatih kognitif."

"Dok! Kami ini sibuk semua. Nggak mungkin sanggup mendampingi merawat Ibu!" Tegas Farhan sambil sepintas menatapku di brankar.

“Begini saja. Saya punya kenalan dokter hebat di Singapura. Beliau adalah spesialis terapi penyembuhan untuk pasien stroke. Beberapa pasien saya yang dananya cukup dan dirawat di pusat pengobatan beliau bisa sembuh dan normal 100%."

"Berobat ke Singapura? Mahal dong, Dok?" Bagas nyeletuk.

"Silahkan didiskusikan saja dengan anggota keluarga yang lain."

Setelah menyampaikan analisisnya, dokter yang memeriksaku lalu pamit. Suster di sampingnya mencatat lalu memberikan obat yang kemudian diterima Bik Ninik.

"Bik, saya mau kamu urus semuanya. Tanggung jawab proses penyembuhan Ibu, kamu yang pegang ya."

"Den Farhan, tadi dokter bilang kan kita harus bekerja sama."

"Bik Ninik ini nggak paham kah? Kami semua itu sibuk. Mana mungkin punya waktu?" Suara Bagas langsung melengking.

Aku menelan saliva sambil masih pura-pura tak sadar. Diam menyaksikan perdebatan anak-anakku di ruang rawat inap VVIP ini.

"Kalau begitu sesuai saran dokter saja. Kirimkan Nyonya Sari berobat ke Singapura. Biar saya dampingi agar proses penyembuhan Nyonya Sari lebih cepat."

"Ih, ngapain sih? Bibik pikir berapa biaya yang harus kami keluarkan untuk pengobatan itu? Belum biaya hidup kalian selama di Singapura. Enak amat Bik Ninik mau tinggal di luar negeri!"

“Ibu kan emang udah tua,” suara Farhan datar, dingin. “Ngapain sih kita bawa berobat sampai ke Singapura?”

Dadaku bergetar. Aku ingin memarahinya, tetapi tubuhku kaku.

“Mas Farhan bener,” Bagas menyambar. “Nggak ada gunanya buang-buang duit buat biaya berobat Ibu. Nanti warisannya yang harus dibagi malah berkurang.”

“Aku sependapat. Belum tentu juga kalau kita ikuti saran dokter, Ibu bakal sembuh 100%. Semua pasien stroke itu kecil kemungkinannya kembali normal lagi.”

Tangisku mengalir dari sudut mata. Kecewa, itu adalah kata yang paling pantas mendeskripsikan perasaanku kali ini. Anak-anak yang kubesarkan dengan peluh dan air mata, teganya berbuat begini.

Judul : Surga yang Terlvka

Penulis : Miss Rain

4/20 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadapi anggota keluarga yang mengalami stroke memang bukan perkara mudah, terutama jika kondisi tersebut mengharuskan perawatan intensif dan perhatian penuh. Dalam pengalaman saya, peran keluarga sangatlah krusial untuk mempercepat proses pemulihan pasien stroke. Contohnya, seperti yang diceritakan pada kisah Nyonya Sari, keberadaan dukungan emosional dan fisik dari anak-anak serta pengasuh merupakan bagian penting agar pasien tidak merasa terabaikan dan tetap termotivasi untuk proses terapi. Namun, seringkali beban tanggung jawab ini membuat anggota keluarga merasa kewalahan, apalagi jika ada perbedaan pendapat seperti terkait biaya dan waktu yang harus dicurahkan. Dalam kasus ini, komunikasi yang terbuka dan kompromi sangat diperlukan agar semua pihak dapat berkontribusi sesuai kemampuan mereka tanpa saling menyalahkan. Selain terapi fisik, komunikasi dan stimulasi kognitif juga sangat membantu untuk memelihara fungsi otak pasien stroke. Aktivitas sederhana seperti mengajak bicara, mendengarkan cerita, atau melakukan permainan ringan bisa mempercepat pemulihan kemampuan bicara dan koordinasi otak. Lalu, jangan abaikan juga pentingnya memonitor tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol agar kondisi pasien tetap stabil. Pemberian obat secara telaten juga berperan besar dalam menghindari komplikasi yang bisa memperberat kondisi. Tentang pilihan pengobatan di luar negeri seperti Singapura, meskipun menawarkan fasilitas canggih dan program terapi modern, keluarga harus mempertimbangkan aspek finansial dan kesiapan psikologis pasien. Jika tidak memungkinkan, pengobatan dan perawatan di rumah dengan pengawasan ketat bisa menjadi alternatif yang tetap efektif jika dilakukan dengan disiplin. Saya juga menyarankan agar keluarga mencari komunitas atau dukungan dari tenaga medis profesional yang dapat memberikan edukasi dan panduan dalam merawat pasien stroke di rumah. Hal ini membantu meringankan beban keluarga sekaligus meningkatkan kualitas perawatan. Yang terpenting, kasih sayang dan kepedulian akan menguatkan semangat pasien untuk terus berjuang. Meski perjalanan penyembuhan kadang penuh liku, kesabaran dan kerja sama keluarga menjadi kunci utama mengubah luka menjadi harapan.