SURGA YANG TERLUKA 2

Bab 2

“Jangan kurang ajar kamu, Bik! Sadar diri, kamu cuma pembantu!”

Tamparan itu terdengar nyaring. Tubuh Bik Ninik terhuyung hingga punggungnya menghantam nakas.

“Pembantu satu ini memang harus dikasih paham! Lama-lama omongannya sengak, nggak enak didengar!” Emosi Bagas sudah sampai di ubun-ubun.

“Udah, Dik. Jangan terbawa emosi! Ingat kita lagi di rumah sakit!” Farhan menahan Bagas.

"Den Farhan dan Den Bagas jangan lupa, dimana asal usul njenengan berdua dulu. Kalau bukan karena Tuan dan Nyonya berbaik hati mengadopsi dan merawat kalian berdua, mungkin hidup Aden berdua ndak akan seberuntung ini."

Ucapan Bik Ninim membuatku teringat kejadian puluhan tahun silam. Aku dan almarhum Mas Harno menemukan Farhan di depan pintu rumah makan sederhana kami yang sudah tutup.

"Jaga mulutmu, Bik Ninik! Jangan sampai kami lempar kamu ke jalanan!" Bagas menunjukkan wajah Bik Ninik.

“Den Bagas juga jangan lupa jasa Nyonya dan Tuan. Kalau bukan karena keikhlasan beliau berdua, Den Bagas udah digugurkan sejak ketahuan kalau Siti, karyawan rumah makan yang hamil diluar nikah!”

“Kamu jangan ngaco, Bik! Pakai bawa-bawa asal usul kami. Di mata hukum kami ini sudah menjadi anak dari Ibuk dan Bapak secara resmi!”

Bagas naik pitam, Farhan sampai kewalahan menahannya agar tidak berbuat kasar pada Bik Ninik.

"Masa depan saya sudah hancur, Nyonya. Laki-laki yang menghamili saya kabur tidak tahu dimana rimbanya. Sebaiknya saya gugurkan saja janin ini."

Siti menangis sesenggukan di hadapanku dan Mas Haryo waktu itu. Wanita itu sudah sangat putus asa, ditinggal sang kekasih dalam kondisi berbadan dua.

"Siti, punya anak itu anugerah. Kamu ndak lihat aku sama Mas Haryo yang berkali-kali kehilangan calon bayi?"

"Biar kami rawat anakmu nanti. Kamu tetap bekerja dan lahirkan dia dengan selamat. Aku yang tanggung biaya lahiranmu."

Ujian niat baik kami muncul sekarang. Benar pepatah yang mengatakan bahwa niat baik dan keikhlasan tidak selalu berakhir bahagia. Buktinya di saat aku dalam kondisi terpuruk karena serangan stroke, dua anak yang kuadopsi, menunjukkan sifat asli mereka.

“Sekarang Nyonya terbaring sakit begini. Aden berdua tega banget, bahkan membiayai Nyonya pengobatan di Singapura juga ndak mau. Padahal harta sebanyak itu, Nyonya dan Non Nungkilah yang paling berhak."

"Udah deh, Bik. Nggak usah lebay! Aku yang jelas-jelas satu-satunya anak kandung Ibu aja, nggak sengotot kamu!" Nungki mendebat Bik Ninik.

“Nungki benar, Bik. Jangan lupa siapa yang membuat Rumah Makan Masakan Iboe berkembang? Dari satu restoran jadi punya cabang di mana-mana. Ya cuma aku, Farhan."

“Kamu pasti punya maksud. Mau adu domba kita, kan? Aku yakin sebenarnya kamu iri dengan kami semua, karena anakmu nggak dapat fasilitas sebagus kami. Tapi jangan lupa loh, kalau kamu itu cuma pembantu.”

Bagas yang merasa di atas angin karena dukungan Nungki dan Farhan berkata sambil mendorong pundak Bik Ninik.

“Demi Allah, saya ndak punya maksud apa-apa. Saya hanya minta Aden dan Non untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang pada Nyonya Sari. Ingatlah jasa-jasa beliau selama ini."

Bik Ninik duduk bersimpuh di samping brankar. Bisa terlihat dari sudut mata yang setengah terpejam ini, bagaimana kepedihan tergambar di raut wajahnya

Pintu ruang rawat terbuka, membuat perdebatan mereka terhenti. Suster masuk dengan amplop cokelat di tangan.

“Maaf menyela sebentar. Administrasi dan pembayaran biaya tindakan selama Bu Sari di IGD harus segera dibereskan."

Suster memberikan amplop coklat itu pada Farhan dan bergegas keluar dari ruangan. Wajah Farhan berubah malas, saat menatap tagihannya.

"Udah ya, jangan ngajak ribut. Malu kalau sampai dilihat suster. Kamu jaga Ibu selama di rumah sakit. Aku sibuk, sejam lagi ada janji ketemu suplier." Farhan angkat kaki duluan, memberikan amplop itu pada Bagas.

"Mas, aku bareng. Ada janji ketemu dosen siang ini. Mau pulang dulu siap-siap." Nungki kabur tanpa peduli.

"Rawatlah Ibu dengan baik, Bik. Aku harus segera balik ke rumah makan."

Judul : Surga yang Terlvka

Penulis : Miss Rain

4/22 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman membaca cerita seperti ini sangat mengingatkan saya pada betapa kompleks dan pahitnya konflik keluarga yang melibatkan warisan dan rasa keadilan. Dalam cerita Surga yang Terluka 2 ini, hubungan antara anak angkat dan ibu angkat yang sakit sangat menyakitkan, terutama ketika kasih sayang dan kewajiban keluarga mulai pudar karena pertengkaran dan ego masing-masing pihak. Banyak dari kita mungkin pernah menyaksikan atau bahkan mengalami situasi serupa dalam kehidupan nyata, di mana perbedaan latar belakang keluarga, status sosial, dan keegoisan bisa merusak ikatan yang seharusnya kuat. Konflik yang melibatkan perebutan harta warisan memang seringkali membuat hubungan darah menjadi retak dan menyisakan luka yang dalam. Dalam cerita ini, ada juga pesan moral penting tentang betapa besar jasa dan pengorbanan orang tua atau wali, yang bahkan terus-menerus diuji di saat mereka rentan dan membutuhkan perhatian. Sikap Bagas dan Farhan yang menolak membantu biaya pengobatan, serta perlakuan mereka terhadap Bik Ninik yang dianggap pembantu, mencerminkan sisi gelap dari hubungan keluarga yang sudah kehilangan rasa hormat dan kasih sayang. Selain itu, kisah tentang Siti yang hamil di luar nikah dan ditolong oleh keluarga Mas Haryo dan Bu Sari, memberikan sudut pandang tentang kebaikan yang tanpa pamrih, sekaligus realitas pahit yang harus dihadapi oleh korban situasi sulit. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan niat baik kadang tidak berakhir dengan kebahagiaan seperti yang diharapkan, terutama ketika ego dan konflik manusia masuk ke dalamnya. Saya percaya kisah seperti Surga yang Terluka ini penting untuk dibagikan karena memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghargai dan menjaga hubungan keluarga, terutama di saat ujian dan kesulitan datang. Dengan membaca dan merenungkan kisah ini, kita bisa lebih peka dan sadar betapa kasih sayang dan perhatian dalam keluarga sangat menentukan kebahagiaan dan kedamaian. Untuk pembaca yang mengalami hal serupa, kisah ini mengingatkan agar tetap menjaga komunikasi, memupuk empati, dan tidak membiarkan hal materi menjadi penghalang utama dalam mencintai dan merawat keluarga. Karena pada akhirnya, kasih sayang tulus adalah fondasi terkuat yang bisa menyembuhkan luka keluarga terpecah.