BERSINAR USAI BERCERAI 12
Bersinar Usai Bercerai (TAMAT) – anquindienna
Part 12
Usaha keluarga besar Davika untuk mengembalikan senyumnya akhirnya berhasil. Perlahan, luka itu mulai terobati. Tak terasa, sudah satu bulan sejak ia meninggalkan apartemen Rafi. Berkas perceraian pun telah masuk ke pengadilan dan menunggu sidang.
Dalam prosesnya, Rafi mengajukan cerai talak, sementara Davika juga mengajukan gugatan cerai. Pada sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan mereka, namun gagal. Rafi tetap ingin berpisah, begitu pula Davika yang tidak menolak.
Proses mediasi pun tak membuahkan hasil. Sidang berlanjut ke tahap pembacaan permohonan, jawaban, pembuktian, hingga kesimpulan. Namun, hakim menolak permohonan talak Rafi karena alasan yang tidak kuat. Akhirnya, Davika mengajukan gugatan balik dengan alasan perselingkuhan, ketidakcocokan, dan KDRT.
Persidangan berlangsung alot hampir tiga bulan. Rafi sempat menyangkal semua bukti, namun visum dan chat yang diajukan Davika memperjelas kesalahan di pihaknya.
Hari ini, keputusan dibacakan.
“Dengan ini majelis hakim memutuskan gugatan penggugat diterima. Hak asuh Ananda Keenan jatuh kepada ibunya, Nyonya Davika,” ucap hakim.
Ketukan palu terdengar tiga kali.
Davika menghela napas lega. Air matanya jatuh, namun kali ini karena bahagia. Ia akhirnya bebas dari pernikahan toxic itu.
Rafi menghampirinya. “Thank, Vik, untuk lima tahun kita. Semoga kamu dapat lelaki lain. Kalau butuh sesuatu untuk Keenan, hubungi Kakak.”
Davika tersenyum miring. “Enggak usah sok baik. Luka dari Kakak enggak akan hilang. Aku enggak akan minta apa pun. Aku bisa biayai Keenan sendiri.”
Ia pergi meninggalkan Rafi dan menuju Aldo.
---
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Davika masih duduk di mobil, keringat dingin membasahi keningnya. Perutnya kembali nyeri seperti sepuluh tahun lalu.
“Ada apa dengan tubuhku?” gumamnya.
“Hallo, assalamualaikum,” ucapnya saat mengangkat telepon.
“Waalaikumsalam. Vik, kamu baik-baik aja? Dari tadi mobilmu enggak jalan,” suara Devanno terdengar cemas.
“Vanno? Aku masih di sini… perutku sakit,” jawab Davika pelan.
“Aku ke sana sekarang,” katanya.
Tak lama, Devanno mengetuk kaca mobil. “Vik, buka pintunya.”
“Are you okay?” tanyanya khawatir.
Davika hanya menggeleng sambil memegangi perutnya.
“Aku antar pulang ya. Aku yang nyetir.”
Devanno membantu Davika pindah ke kursi penumpang, lalu melajukan mobil menuju rumahnya di kawasan Dago.
“Perut kamu kenapa?” tanyanya di perjalanan.
“Kayaknya asam lambung naik…”
“Ada hubungannya sama mantan suami kamu?”
“Maybe…”
“Perlu ke rumah sakit?”
“Enggak. Aku cuma butuh istirahat… Aku tidur ya, Van.”
Devanno mengangguk, tetap fokus menyetir.
Sesekali ia menatap Davika yang tertidur dengan wajah pucat. Hatinya terasa perih melihat wanita itu seperti ini. Perasaannya semakin dalam.
Namun, Davika selalu menutup diri. Setiap kali ia mencoba membahas masa lalu, wanita itu menghindar.
“Apa yang sebenarnya terjadi di hidupmu, Vik?” batin Devanno. “Aku tahu kamu trauma, tapi aku ingin mengerti…”
Ia menghela napas panjang.
“Kalau aku berusaha lebih keras… apa kamu akan menerimaku?”
Mobil terus melaju, membawa dua hati dengan luka dan harapan yang berbeda.
---
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App
Setelah menyelesaikan proses perceraian yang penuh liku, perjalanan Davika bukan berarti berakhir begitu saja. Dari pengalaman pribadi, berpisah dari pasangan yang toxic seringkali meninggalkan dampak emosional dan fisik yang mendalam, seperti yang dialami Davika saat kerap merasakan sakit perut dan trauma masa lalu yang kembali muncul. Dalam situasi seperti ini, penting untuk mencari dukungan dari keluarga dan teman dekat agar dapat membangun kembali rasa percaya diri dan kekuatan mental. Sama seperti Davika yang mendapatkan perhatian dan kepedulian dari Devanno, memiliki seseorang yang peduli bisa menjadi sumber penguatan besar dalam masa pemulihan. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dengan istirahat cukup, pola makan sehat, dan manajemen stres juga sangat penting untuk mengatasi gangguan seperti asam lambung yang dialami. Kadang, luka psikologis dapat menimbulkan gejala fisik yang perlu ditangani secara serius. Davika juga menunjukkan sikap mandiri dan tegas saat menyatakan kemampuannya untuk membiayai anak sendiri tanpa bergantung pada mantan suami. Sikap ini menjadi contoh positif bagi banyak wanita yang tengah menjalani proses perceraian, bahwa kebebasan finansial dan kemandirian dapat dicapai meski melalui masa sulit. Akhir cerita yang dibuka dengan perasaan yang saling mengingat dan keinginan untuk move on ini mengisyaratkan bahwa pemulihan pasca-cerai bukan hanya tentang menyembuhkan luka lama, namun juga membuka peluang baru untuk kebahagiaan di masa depan. Kisah Davika mengajarkan kita untuk berani melangkah maju, menerima diri, dan membuka hati kepada harapan baru.

