YA ALLAH AKU LELAH (2)
Judul: Ya Allah Aku Lelah
Penulis: Mafaza
Aplikasi: KBM App
2
“Di mana kamu?! Anak-anak nangis semua! Kamu keluyuran, ya? Cepat pulang atau aku bakar semua barang-barangmu!”
Teriakan Hendra membuat orang-orang di pasar takjil menoleh. Wajah Anna pucat. Ia segera pamit pada Piana dan berlari pulang dengan sandal jepit tipis, mengabaikan perih di kakinya.
Di depan rumah, hatinya hancur. Zea, anak keempatnya, duduk menangis dengan pipi merah bekas tamparan. Sementara si kembar, Lilis dan Lily, merayap tanpa dihiraukan.
“Ya Allah, Mas. Kamu nampar Zea?!” suara Anna bergetar.
“Aku muak, dia nangis terus. Berisik!”
“Astaghfirullah, Mas!”
Anna memeluk Zea erat. “Ayo kita beli takjil, Nak,” bisiknya lembut. Zea mengangguk pelan.
“Zea bantu Ibu gendong kembar, ya.”
Hendra memperhatikan dengan senyum miring. *Jadi Anna punya uang?* pikirnya, terselip niat untuk merebutnya.
---
Minggu kedua Ramadan, Anna seharusnya khusyuk berdoa. Namun sore itu, pintu rumah digedor keras.
Brak! Brak! Brak!
“Keluar! Anna Annisa! Keluar sekarang!”
Anna gemetar. Ia mengintip—dua pria berjaket hitam berdiri di depan pagar.
“Siapa kalian?” bentak Tia, berdiri melindungi.
“Kami cari Anna! Suaminya utang lima belas juta! Sudah jatuh tempo. Katanya istrinya yang bayar pakai tabungan anak-anak!”
Dunia Anna berputar. Lima belas juta?
Ia membuka pintu sedikit. “Pak, saya tidak tahu. Saya tidak pernah pinjam uang sebanyak itu.”
“Jangan bohong! Ini KTP kamu! Serahkan perhiasanmu atau rumah ini kami hancurkan!”
Salah satu pria menendang pintu hingga retak. Anak-anak berkerumun di belakang Anna, ketakutan.
Di tengah kericuhan, Hendra datang. Ia sempat ingin kabur, tapi Tia melihatnya.
“Ayah! Selesaikan ini!”
Hendra turun dengan wajah marah. Ia menarik Anna ke samping.
“Kenapa kamu tidak kasih perhiasan mas kawinmu? Pelit sekali! Itu cuma sementara!” bisiknya kasar sambil mencengkeram lengan Anna.
“Mas kawin itu sudah kujual dua tahun lalu untuk operasi sesar bayi kita! Kamu lupa?!” suara Anna meninggi.
“Kamu pakai uang itu buat siapa? Untuk perempuan itu atau laki-laki itu lagi?!” teriak Anna, tak peduli tetangga mulai menonton.
Hendra kehilangan muka. Dengan tega, ia mendorong Anna ke arah penagih.
“Bawa saja dia kalau perlu! Dia masih bisa kerja! Jangan tagih saya!” katanya enteng, lalu masuk rumah dan mengunci diri.
Anna terpaku. Enam anaknya gemetar di belakangnya.
Piana yang datang langsung memanggil warga. Para penagih akhirnya pergi setelah diancam akan dilaporkan, tapi mereka berjanji kembali.
---
Malam itu, azan Magrib berkumandang tanpa kehangatan. Hanya isak tangis di meja makan. Piana duduk di samping Anna yang mengompres lengannya.
“Na... lihat anak-anakmu. Mereka gemetar. Tia hampir berkelahi demi kamu.”
Anna menunduk.
“Hendra itu monster. Dia bahkan menjual kamu demi utangnya. Sampai kapan kamu bertahan?”
Anna menatap Tia yang menyuapi adiknya dengan tangan gemetar.
Di kamar, terdengar Hendra tertawa sambil menelepon—seolah tak terjadi apa-apa.
“Aku akan pergi, Pia...” bisik Anna.
“Kapan?”
“Setelah Lebaran. Aku ingin anak-anak merasakan satu Lebaran terakhir bersama ayahnya... walau pura-pura.”
Piana mendengus. “Alasan lagi.”
“Anna, kamu harus mencintai dirimu sendiri. Jangan biarkan dirimu terus disakiti.”
“Aku butuh waktu, Pia.”
“17 tahun bukan waktu sebentar! Kamu tunggu apa? Hendra tidak akan berubah. Dia makin menghancurkanmu!”
“Tapi...”
“Anak-anakmu tidak aman. Dia bukan ayah yang mereka butuhkan. Tinggalkan Hendra!”
Anna terdiam. Tak mampu menjawab.
Piana menatap sahabatnya—wanita yang dulu rapi dan cantik, kini kumal dan layu.
“Ya Allah...” bisiknya lirih.
Bersambung...




































































