DUDA MERESAHKAN
Bab 4
"Apa benar kalau Mas Bayu sudah menikah lagi? Dengan siapa?" tanya Nitha pada Farida yang hari itu menelponnya.
"Ya, Mbak! Nyebelin banget sih. Padahal aku kan berharap banget mas Bayu bisa ruj uk sama Mbak. Mama menye balkan banget. Mau mening gal aja bikin rusuh hidup a naknya. Kesel banget aku tuh Mba!" Ad u Farida dengan suara man janya.
Lea yang kebetulan lewat di depan ka mar Farida tanpa sengaja mendengarkan percakapan mereka berdua karena pintu ka mar yang memang tidak tertutup rapat.
"Kamu kenapa ga suka sama istri baru Mas Bayu? Bukannya itu bagus ya, si kembar jadi ada yang mengurus?" tanya Nitha masih biasa saja menanggapi perihal pernikahan Bayu, mantan suaminya yang sudah berce rai dengan ya 8 tahun yang lalu.
"Ih, bagus apaan? Dia itu cuma a nak panti asuhan yang tidak memiliki orang tu a. Dia itu pengasuh mama dan si kembar. Mama yang sudah memakbsa Kak Bayu untuk menikahi perempu an mis kin itu. Menyebbalkan sekali. Udah gitu dia mengancam akan menyetop finansial yang biasanya di kasih Kak Bayu buat aku. Kan nye belin banget, Mbak."Kesal Farida sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Apa? Kok bisa Mas Bayu menikahi gad is seperti itu? Kenapa selera dia jabtuh banget? Menikah dengan gad is panti? Astaga ga banget ya, jadi saingan aku!!" Pekik Nitha merasa tidak terima sang mantan menikahi wanita yang dipandang lebih rendah darinya.
"Kenapa kamu tidak menghentikan Mama ketika meminta Mas Bayu menikahi gavdis itu?" tanya Nitha yang mulai kesal.
"Aku bisa apa Mbak? Mamaku sedang meregang nya wa. Saka ratul ma ut, Mbak. Mas Bayu juga kesulitan untuk menolaknya. Apalagi aku?" Farida terlihat menghembus nafas ka sar. Frustasi sekali.
Lea hanya diam saja mendengar semua percakapan mereka. Walaupun kupingnya lumayan pa nas mendengar hi naan Farida dan Nitha atas dirinya.
"Bicara sama siapa itu wewe gombel. Astaga! Sepagi ini sudah ngegibahin aku. Apakah dia ga pergi kerja alih-alih buat dosa berjamaah dengan menghi na orang lain?" Lea akhirnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku adik iparnya yang jahat.
*
Lea belum terlalu mengenal sosok Nitha yang begitu dipuja oleh Farida.
"Pasti wanita yang sibuk berteleponan dengan Farida adalah ibu dari si kembar. Aku yakin banget!" Monolog Lea sambil berjalan ke arah si kembar yang sudah siap ke mall bersama Bayu.
Bayu sudah bersiap untuk mengantarkan mereka berdua ke mall. "Tante, ayo ikut kami ke mall. Kami perlu membeli kostum untuk pagelaran seni yang akan diadakan di sekolah Minggu depan. Ya kan, Pah?" tanya Bima sambil melirik ke arah Bayu yang sudah bersiap untuk keluar dari pintu utama.
"Hmm," jawabnya singkat sambil masuk mobil. Bersiap untuk pergi demi memenuhi keinginan kedua a naknya untuk pergi ke mall. Mumpung dia sedang libur, tidak ada salahnya mengikuti keinginan mereka berdua hanya sekedar untuk membahagiakan keduanya.
Lea yang awalnya hendak menyalami tangan suaminya akhirnya memilih mundur. "Ayo, Tante! Ikut kami ke mall. Tante harus bantu kami pilih kostum yang keren untuk acara nanti di sekolah kami!" Rengek Sakti sambil terus bergelayut manja di lengan Lea.
Lea awalnya hendak menolak keinginan mereka berdua.Tapi Lea akhirnya menerima karena dia juga butuh untuk membeli beberapa kebutuhannya yang lupa belum dibeli kemarin saat pergi bersama Mbok Darmi.
"Apakah Papa kalian mengizinkan kalau Mama juga ikut?"tanya Lea yang mulai membiasakan dirinya untuk dipanggil mama oleh si kembar.
"Mama? Kenapa Tante Lea panggil diri sendiri sebagai mama Kami? Kami kan punya mama sendiri," protes Bima menatap ta jam ke arah Lea.
"Cepatlah masuk ke mobil! Kenapa kalian masih kecil sangat hobi untuk berdebat sih? Jangan ketularan pengasuh kalian yang hobinya debat kusir!" Lea melo tot sempurna mendengar pernyataan Bayu yang menghi na dirinya.
"Eh, Siapa yang kau bilang hobi debat Kusir, hmm? Coba kalau berani sebut merk depan aku!" Tantang Lea sambil melotot ke arah Bayu tanpa merasa ta kut sama sekali.
Judul: Duda Meresahkan
Penulis: Geni Jora
Baca di KBM app
Dalam kisah drama keluarga seperti ini, sering kali pernikahan kedua menjadi sumber konflik yang rumit dan emosional, terutama jika ada anak-anak yang terlibat. Dari pengalaman saya sendiri, keluarga yang memiliki sejarah perceraian dan pernikahan ulang memang perlu komunikasi yang terbuka agar tidak menimbulkan kecemburuan dan saling curiga. Fenomena Mas Bayu yang terpaksa menikah atas desakan ibunya yang dalam kondisi kritis mengingatkan saya pada sebuah dilema moral yang nyata: antara memenuhi kehendak orang tua dan mempertahankan kebahagiaan pribadi. Kadang, keputusan yang diambil bukan sepenuhnya atas kehendak pasangan, melainkan karena keadaan mendesak. Hal ini kerap memicu ketegangan dalam hubungan dengan mantan istri dan anggota keluarga lain, seperti yang dialami Farida dan Nitha. Selain itu, persepsi negatif terhadap sosok pengasuh atau istri baru yang berasal dari latar belakang sederhana, seperti anak panti asuhan, ternyata bisa menjadi sumber konflik sosial dan emosional. Ini menggambarkan betapa stigma sosial masih kuat mempengaruhi dinamika keluarga. Sebagai saran, dalam menghadapi situasi serupa, penting sekali untuk membangun komunikasi yang jujur dan empatik antara semua pihak. Termasuk bagi anak-anak, mereka perlu diarahkan untuk memahami situasi tanpa harus memihak secara emosional. Pihak suami sebagai kepala keluarga juga harus bisa menyeimbangkan peran antara istri baru dan anak-anak dari pernikahan sebelumnya agar tidak ada pihak yang merasa tersisih. Terakhir, dari pengalaman yang saya amati, adanya keterbukaan dan saling pengertian dapat meredakan segala kecurigaan dan membangun harmoni keluarga baru. Meski prosesnya tidak mudah dan penuh drama seperti kisah Mas Bayu ini, usaha bersama untuk memperbaiki hubungan pasti membawa dampak positif bagi kehidupan semua anggota keluarga.

