CINTA YANG DISEMBUNYIKAN

“Saya terima ni kah dan ka winnya Anna Lutfia binti Ahmad dengan mas ka win tersebut diba yar tun ai.” Suara Bima terdengar lantang, tetapi masih terasa ko song. Saat kata ‘Sah’ diucapkan, Anna merasa seolah ada sebuah ra ntai tak terlihat yang me lil it le hernya. Ia kini resmi menjadi istri siri dari pria yang paling ia kagumi, sekaligus pria yang paling membe ncinya saat ini.

Setelah doa selesai dibacakan, Bima berdiri. Ia menatap Anna dengan pandangan yang membuat b ulu kuduk Anna berdiri. Ia seolah-olah sedang mene gaskan bahwa mulai detik ini, Anna hanyalah sebuah objek di matanya. Pria itu kemudian melangkah pergi, memba nting pintu kayu jati ru angan itu hingga suaranya menggema di seluruh lorong Mansion.

Anna tersent ak, bahunya bergetar. Safira istri pertamanya, segera menghampiri Anna, ia mengu sap bahu Anna dengan lembut. Sedangkan ia hanya bisa menunduk, mere mas jemarinya sendiri yang terasa dingin.

“Ayo, aku tunjukkan tempat tinggalmu,” ajak Safira.

Safira membawa Anna keluar dari bangunan utama Mansion, menyusuri jalan setapak berbatu di taman belakang yang sangat luas. Di sana, berdiri sebuah paviliun ke cil yang terpisah dari ru mah utama. 

“Ini paviliun belakang. Di sini kamu akan tinggal selama sembilan bulan ke depan, atau sampai tugasmu selesai,” jelas Safira sambil membuka pintu kayu paviliun.

Safira membantu Anna meletakkan koper kecilnya di atas tempat ti dur. Mereka kemudian duduk di ru ang tengah yang menghadap ke taman belakang.

“Aku mau kamu menganggapku sebagai kakakmu sendiri. Panggil aku Mbak. Jangan 'Bu' lagi. Mulai sekarang, kita adalah tim.”

Anna mene lan lu dah, mencoba membiasakan diri. “Baik... M-mbak Safira.”

Segalanya sudah diatur sedemikian rupa hingga ia tidak memiliki celah untuk bergerak. 

Sebelum Safira meninggalkan paviliun, ia berdiri di ambang pintu dan menatap Anna dengan tatapan yang sangat serius. Matanya yang tadi terlihat ramah kini berubah menjadi penuh pering atan.

“Anna,” panggil Safira.

“Ya, Mbak?”

“Satu hal yang harus kamu ingat baik-baik. Lakukan tugasmu dengan profesional. Berikan aku dan Mas Bima an ak yang sehat. Tapi…” Safira menjeda kalimatnya, suaranya memberat. “Jangan pernah melibatkan perasaanmu. Jangan pernah ja tuh cinta pada suamiku.”

“Ingat posisimu di sini. Kamu hanya ibu suro gasi. Setelah ba yi itu lahir, hu bu ngan kita selesai. Jangan buat segalanya menjadi ru mit hanya karena kamu terbawa perasaan saat melakukan 'tugas' itu nanti.”

Anna terdiam. Ia menatap ru angan ko song di depannya dengan perasaan hampa. “Jangan ja tuh cinta? Mustahil.” batinnya ge tir. 

Ma lam pun tiba dipenuhi dengan kabut yang menye li muti pepohonan pinus di sekitar Mansion Wiranata. 

Klek.

Suara kunci pintu diputar membuat Anna tersen tak berdiri. Pintu paviliun terbuka, Bima berdiri di sana, masih menge nakan kemeja kerjanya yang kini tampak ku sut. Wajahnya yang tampan terlihat sangat le lah, dengan rahang yang terkatup rapat.

Bima menutup pintu dengan ten dan gan kaki, menimbulkan suara de ntuman yang membuat Anna berje ngit. Pria itu berdiri di dekat pintu, menya ndarkan pung gungnya sambil menatap Anna dari ujung ke ujung dengan tatapan mengh in a.

“Pu as?” Suara Bima meme cah keheningan. 

“Kamu pintar sekali, ya? Memanfaatkan momen saat ibumu sa kit untuk menje rat istriku yang sedang put us asa. Berapa banyak yang kamu minta? Sera tus ju ta? Du a ra tus? Atau kamu berharap bisa menjadi nyonya di ru mah ini?”

Air mata Anna mere bak. “Saya tidak pernah meminta ini. Mbak Safira yang datang pada saya.”

“Dan kamu langsung mengiyakan karena u ang itu jauh lebih me na rik daripada har ga dirimu, bukan?” Bima kini berdiri tepat di depan Anna. 

Bima me ra ih da gu Anna, mengang katnya dengan ka sar agar gadis itu menatap matanya yang memba ra. “Dengar, Anna. Aku di sini bukan karena aku mengin gin kanmu. Aku di sini karena aku mencintai istriku. Bagiku, menyen tuhmu adalah sebuah huk uman. Kamu hanyalah al at. Sebuah in kub ator yang diba yar ma hal.”

Cinta yang Disembunyikan

Parwati

K B M App

5/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman Anna dalam menjalani peran sebagai istri siri dan ibu surrogasi menggambarkan sisi gelap dari cinta yang tidak diinginkan. Dalam konteks ini, Anna dihadapkan pada dilema moral dan emosional yang tak mudah, di mana ia harus menahan perasaan cintanya sekaligus menerima perlakuan yang dingin dan kasar dari suaminya, Bima. Situasi seperti ini sebenarnya lebih umum terjadi di masyarakat daripada yang kita sadari, terutama dalam pernikahan yang tidak diresmikan secara hukum atau dengan perjanjian tertentu. Peran ibu surrogasi yang Anna jalani menjadi beban tersendiri, karena ia bukan hanya bertugas sebagai pengantar anak biologis tetapi juga harus menjaga jarak emosional agar tidak terjebak dalam perasaan yang bisa merusak hubungan yang sudah dibangun oleh pasangan utama. Dari cerita ini, kita dapat memetik pelajaran penting tentang pentingnya komunikasi dan kejujuran dalam sebuah hubungan, terutama ketika melibatkan pihak ketiga seperti ibu surrogasi. Perasaan Anna yang hampa dan tidak diakui menandai betapa pentingnya menghargai setiap individu yang terlibat dalam dinamika keluarga, tidak hanya sebagai objek atau alat semata. Saya pernah membaca kisah serupa di mana ibu surrogasi menghadapi tantangan psikologis berat, tidak hanya dari tekanan sosial tetapi juga dari rasa keterikatan yang tak bisa dihindari terhadap anak yang dibawa dalam kandungan mereka. Hal ini sering kali menjadi faktor yang mempersulit proses penyerahan anak dan hubungan antara semua pihak. Selain itu, konflik dalam rumah tangga seperti yang dialami oleh Safira dan Bima, di mana kewajiban, cinta, dan pengkhianatan bertabrakan, menunjukkan betapa rapuhnya ikatan pernikahan jika tidak didasari oleh kepercayaan dan kasih sayang yang tulus. Safira yang memperlakukan Anna sebagai 'kakak' dan sekaligus menyampaikan peringatan keras menunjukkan sisi kompleks dalam peran seorang istri pertama yang harus menerima kehadiran pihak lain untuk kebaikan bersama. Sebagai pembaca, kisah ini membuka wawasan kita mengenai berbagai bentuk cinta yang tersembunyi dan seringkali tidak diakui secara terbuka namun memiliki dampak emosional yang dalam bagi semua pihak yang terlibat. Kisah Anna di Mansion Wiranata menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang ideal, dan kadang harus berjuang di balik bayang-bayang luka dan pengorbanan.