Istriku Tak Mau Membantu Bikin Kue Lebaran

#9 (Pov Morina)

"Aku capek bahas hal receh beginian. Buang-buang waktu tau! Aku mau istirahat!"

"Satu lagi! Aku nggak sempat masak. Untuk berbuka sama sahur kamu pesan sendiri sana!" tandasku.

Mas Haris mendecak ke sal. Begitu dia keluar k a m a r, aku mena rik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi kepala. Tak lagi mampu membendung se sak di da da.

Aku yang selama ini menjaga kehormatan dan kesetiaan, justru ditu duh mendua hanya karena egonya ter l u k a melihat keluarganya terpojok, dia tega menu duhku seling kuh.

Kusambar ponsel yang kusembunyikan di balik bantal.

"Ra, soal tadi. Kamu mau ngomongin apa?”

Sebelumnya dia meneleponku saat Mas Haris masuk ke k a m a r.

"Kamu lagi sendirian nggak?” tanya Nora.

“Aman, ngomong aja. Mau bahas apa tadi?”

Suara motor Mas Haris menjauh. Mungkin dbalik lagi ke ru mah Ibunya untuk menga du.

"Mor, inget nggak sama Mister Khalid yang tempo hari kuceritakan? Dia mau ketemu kamu dan ngomongin soal akuisisi. Dari penawarannya sih gi la banget. Angkanya fantastis, cukup buat kamu pensiun dini dan menabung untuk tujuh turunan.”

Akuisisi? Itu artinya perjuanganku begadang di depan laptop selama ini tanpa sepengetahuan suamiku akan membuahkan hasil yang luar biasa?

Belum sempat kujawab, tiba-tiba pintu k a m a r berderit. Entah kapan pula Mas Haris pulang.

“Nanti kita bahas lagi ya, Ra! Mas Haris masuk.”

Kupikir dia ming gat ke ru mah ibunya, tak tahunya cuma ke depan beli bukaan. Wa jahnya yang tadi garang kini melunak.

"Mas minta maaf, Dek. Mas nggak bermaksud menu duh kamu seling kuh. Mas tadi cuma emo si karena bingung kenapa kamu berubah sedrastis ini dan dari mana kamu punya u a n g sebanyak itu. Mas nggak mau kita r ibut, apalagi ini bulan puasa."

Permintaan maafnya terasa hambar di telingaku. Dia minta maaf bukan karena sadar akan kesalahannya tapi karena dia mulai merasa kehilangan kendali.

"Mas cuma takut kamu terjerumus hal-hal yang nggak bener, Dek."

"Terjerumus hal-hal nggak bener? Kamu nggak percaya sama aku? Yang nggak bener itu justru membiarkan istrimu jadi ba bu sementara saudara-saudaramu menumpuk u t a n g di belakangmu!” a mukku sar kas.

Aku ingin dia benar-benar sadar soal posisinya sebagai suami. Tapi sudahlah, sa kit hatiku masih terlalu dalam untuk menerima maafnya.

---

Paginya, Nora mengirimkan pesan singkat.

[Kamu bisa kesini nanti siang 'kan, Mor. Mister Khalid nanya kepastiannya.]

[Bisa, siapin aja draft MoU-nya. Biar aku cek dulu, kalau oke semua tinggal tanda tangan. Tapi nanti kuputuskan habis ngobrol sama beliau.]

Aku bersiap menuju lokasi pertemuan. Tak jauh dari outlet More and More Premium Cakes dan Cookies yang tak pernah sepi pengunjung. Nora dan Mister Khalid menyambutku. Sosok di hadapanku itu pria blasteran Arab dengan garis wa jah tegas yang memancarkan otoritas.

Di hadapannya, aku bukan lagi Morina yang diharuskan mengurusi kue lebaran, yang selalu dapat kue lebaran go song. Bukan lagi Morina yang harus menelan ke se me na-me naan mertua dan ipar demi menjaga keharmonisan semu. Di sini, aku adalah Morina, pemilik brand yang asetnya ditaksir pengusaha ka ya.

"Penawaran saya tetap sama, Madam. Akuisisi penuh dengan nilai yang sudah saya cantumkan di dokumen itu. Plus, Anda tetap memegang posisi konsultan utama dengan bagi hasil sepuluh persen tiap kuartal," jelas Mister Khalid lugas.

Fantastis. Angka yang cukup untuk membuat Mas Haris ping san melihatnya. Akan kubuktikan kan tongku jauh lebih dalam daripada gabungan ga ji P N S Mbak Ros dan gengsi kosong adik-adiknya.

"Oke, saya setuju."

Namun sesaat sebelum tandatangan, ponselku bergetar. Pesan masuk dari Mas Haris.

[Dek, kamu di mana? Ibu ke ru mah sekarang. Nggak ada orang katanya. Dia mau minta maaf sekalian jemput kamu, bisa nggak ke ru mah untuk bikin ketupat hari ini? Mas nggak enak kalau kamu nggak datang-datang. Soal kejadian kemarin, lupain ya. Kita mulai dari awal.]

Aku mende ngus. Masih saja soal dapur ibunya.

[Sorry aku sibuk!]

---

Judul: Istriku Tak Mau Membantu Bikin Kue Lebaran

Penulis: Rita Harahap

K B M App

5/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang pernah mengalami ketegangan keluarga menjelang hari besar seperti Lebaran, saya sangat bisa merasakan betapa beratnya peran yang seringkali dibebankan pada seorang istri, terutama urusan dapur dan pembuatan kue lebaran. Tidak jarang, cerita tentang istri yang enggan membantu membuat kue lebaran bukan hanya persoalan fisik, tapi juga karena lelah mental dan konflik rumah tangga yang belum terselesaikan. Dari kisah di atas, saya melihat betapa Morina menghadapi tekanan dari suami dan keluarga besar yang sering menuntut peran tradisionalnya sebagai seorang istri. Di saat yang sama, ia berjuang membangun bisnis kue yang akhirnya menarik minat investor besar seperti Mister Khalid. Ini menunjukkan bahwa kadang, sikap 'menolak' dari istri sebenarnya bisa jadi dorongan untuk mengejar impian dan mewujudkan kemandirian finansial. Dalam pengalaman saya sendiri, ketika keluarga menuntut banyak pekerjaan domestik, melakukan komunikasi terbuka menjadi kunci. Memberi pengertian bahwa impian dan kerja keras kita di luar rumah juga berharga dan bisa membawa manfaat bagi keluarga. Pahitnya kritik dan dugaan selingkuh seperti yang dialami Morina, tentu terasa menyakitkan. Namun, yang terpenting adalah tetap fokus pada tujuan dan membuktikan nilai diri melalui kesuksesan yang nyata. Mengenai pembuatan kue lebaran, saya pun pernah merasakan kue gosong atau hasil yang kurang sempurna saat terburu-buru karena masalah keluarga dan kesibukan lain. Namun hal itu wajar dan tidak harus menjadi beban utama. Yang penting adalah kualitas usaha dan konsistensi kita untuk terus belajar dan berkembang. Dari sisi bisnis, akuisisi yang ditawarkan Mister Khalid adalah impian banyak pengusaha kecil menengah. Ini membuktikan bahwa sebuah usaha rumahan yang dikelola dengan tekun dan profesional bisa mendapat apresiasi pasar yang luas. Jadi, meskipun ada konflik rumah tangga, momen seperti ini menjadi titik balik yang luar biasa. Bagi pembaca yang mengalami situasi serupa, saya sarankan untuk tidak menyerah pada stigma dan beban tradisional. Komunikasi dengan pasangan, dukungan dari sahabat, dan fokus pada pengembangan diri serta usaha akan membuka jalan keluar terbaik. Selain itu, jangan lupa untuk merayakan pencapaian sekecil apapun sebagai bentuk apresiasi diri di tengah kerasnya perjalanan hidup.