MEMBALAS PENGHINAAN SUAMI DAN MERTUA DENGAN KESUKSESAN
Part 1
Aroma gurih semur daging dan pedas manis sambal goreng hati memenuhi setiap sudut ruang makan mewah bergaya modern-minimalis itu. Arumi menyeka peluh yang mengalir di pelipis dengan ujung celemeknya yang mulai kusam. Matanya menatap meja makan dengan binar yang redup namun penuh harap.
Ada lilin aromaterapi beraroma sandalwood yang menyala lembut di tengah meja, dikelilingi oleh piring-piring porselen Fine Bone China terbaik yang hanya ia keluarkan setahun sekali. Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima—Wooden Anniversary.
Lima tahun lalu, Arumi adalah seorang arsitek muda jenius, pemenang penghargaan desain nasional dengan masa depan yang berkilau. Namun, Galih meyakinkannya bahwa "pengabdian istri adalah kunci keberkahan". Demi cinta yang kini terasa mence kik, Arumi meletakkan penggaris skalanya, menggulung cetak biru masa depannya, dan memilih menjadi "ratu" di istana yang ternyata adalah pen jara baginya.
Denting!
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan singkat dari Galih muncul di layar.
"Ma lam ini, jangan tunggu aku pulang. Lembur. Proyek besar sedang kri tis."
Jan tung Arumi mencelos. Jemarinya yang ka sar karena deterjen gemetar saat mengetik ba lasan.
"Tapi ini sudah jam 8 malam, Mas. Aku sudah masak semua makanan kesukaanmu. Aku ingin kita merayakannya sebentar saja, bisakah kamu pulang?"
Pesan itu hanya berstatus centang dua abu-abu. Tidak dibaca. Diabaikan, seolah-olah perasaannya hanyalah catatan kaki yang tidak penting dalam agenda suaminya.
"Sudah kubilang, jangan berharap terlalu tinggi. A nakku itu sibuk mencari u ang, bukan cuma pintar menghabiskannya seperti kamu."
Suara taj am itu memo tong keheningan. Bu Rosa turun dari tangga melingkar dengan daster sutra mahalnya, menatap meja makan dengan tatapan mere mehkan. Di belakangnya, Siska, adik ipar Arumi, berjalan sambil sibuk berswafoto, sesekali menci bir melihat berbagai hidangan yang tersaji di atas meja makan".
"Arumi hanya ingin merayakan ulang tahun pernikahan kami, Ma," jawab Arumi selembut mungkin, meski tenggorokannya terasa tersumbat.
"Ulang tahun pernikahan?" Bu Rosa tertawa si nis. Ia mena rik kursi kayu jati itu dengan kas ar dan duduk tanpa diundang. Ia menyendok sedikit semur daging, menci cipinya sesaat, lalu sedetik kemudian melu dahkannya kembali ke piring porselen mahal itu dengan wajah ji jik.
"Asin! Kamu ini niat masak atau senga ja ingin membuat dar ah tinggiku kambuh, hah? Apa ini cara halusmu untuk mengua sai har ta Galih?"
"Ma, tadi sudah Arumi cicipi, rasanya sudah pas—"
"Oh, jadi sekarang kamu sudah pintar memban tah?" Bu Rosa mengge brak meja hingga gelas kristal berdenting nyaring.
"Kamu itu sudah untung dipu ngut Galih dari keluargamu mis kin itu. Tidak punya pekerjaan, cuma menum pang, masak saja tidak be cus! Lihat Siska, dia baru saja pulang kerja, lelah membangun karier, tapi sesampainya di rumah masih harus melihat drama mura hanmu ini."
Siska mendongak dari ponselnya, menatap Arumi dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Iya, Mbak. Lagian hari gini masih rayain anniversary pakai acara masak di ru mah? Kuno. Galih itu butuh istri yang bisa diajak ke pesta kolega, yang pintar dandan, berkelas. Bukan istri yang ba u bawang dan selalu memakai daster ku mal begini."
Baca selengkapnya di KBM
Judul: Memba las Penghi naan Suami dan Mertua dengan Kesuksesan
Karya: triyuliastuti97
#kbm #triyuliastuti97 #membalaspenghinaansuamidanmertuadengankesuksesan










![Gambar menampilkan Surah Al-Fatihah (ayat 1-6) dengan terjemahan, dan teks overlay "Al-Fatihah 7x [doa segala hajat & pembuka pintu rezeki]".](https://p16-lemon8-cross-sign.tiktokcdn-eu.com/tos-alisg-v-a3e477-sg/owUqABeE6Ai8BAFveg9HFc0hnD2aYEisiI4CAb~tplv-sdweummd6v-shrinkf:640:0:q50.webp?lk3s=66c60501&source=seo_middle_feed_list&x-expires=1811052000&x-signature=a87q%2BCqj4kprqtNO2UDA%2B1JvyA4%3D)






























