BIARKAN AKU PERGI 28

Membalas

Fahira sedikit tertegun karena tak mengenalnya. Dia menebak mahasiswa PhD baru. Karena sekarang bukan saatnya mahasiswa master datang. Tapi, sepertinya familiar, tapi tak tahu siapa.

“Fahira?” ujar Faisal tak terkontrol. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Fahira justru mengerutkan dahinya. Darimana pemuda ini tahu namanya. Meksipun dia tidak aktif di kegiatan pelajar, tapi setidaknya dia aktif menghafal nama dan mengenal satu persatu pelajar Indonesia yang ada di kotanya. Fahira lebih memilih menjadi pelengkap penderita alias penggembira di setiap acara dibanding panitia. Dia lebih fokus dengan studinya karena baginya ini cukup berat dan menyita.

“Oh ya, kenalin aku Faisal. Baru datang kemarin,” ujar Faisal sambil mengangguk dan menunjukkan deretan giginya.

Lelaki itu bingung mau mengulurkan tangan atau tidak. Tapi akhirnya memilih menyebutkan namanya.

“Oh. Salam kenal,” ujar Fahira.

Meskipun dalam hati penasaran darimana Faisal tahu namanya. Tetapi, sifatnya yang malas mengorek dan malas berinteraksi dengan lelaki membuatnya enggan bertanya lebih jauh.

“Sampai ketemu,” ujar Fahira yang kemudian sibuk meletakkan tas punggungnya di tas sepeda yang terpasang di boncengan, lalu menutup tas tersebut.

“Tunggu!” ujar Faisal.

Buru-buru lelaki itu mengeluarkan sepedanya. Dia memang belum memiliki sepeda sendiri. Tadi dia menyewa sepeda harian dari stasiun. Rencananya memang hari ini mau mencari sepeda seken.

Di Belanda, hidup tanpa sepeda, laksana makan tanpa garam.

Fahira yang bersiap hendak mengayuh sepeda, segera mengurungkan niatnya. Dia menoleh ke arah Faisal dengan tatapan keheranan.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya Fahira saat Faisal sudah mensejajarinya seraya menuntun sepedanya.

“Kamu tidak apa-apa naik sepeda?” Tiba-tiba Faisal teringat kalau Fahira sedang hamil. Bahkan, dia Indonesia dia tak pernah melihat wanita hamil bersepeda. Karena memang di Indonesia jarang orang bersepeda.

Fahira kembali mengkerutkan dahinya. Kenapa pria ini? Apakah dia tahu kalau dirinya sedang hamil? Tapi, siapa dia? Karena setahu Fahira, yang tahu dia hamil hanya sahabatnya, Mayang. Dia hanya akan membuka kehamilannya setelah dia berniat pindah kosan, karena nanti setelah agak besar, dia ingin ditemani ibu nya. Tidak mungkin membawa ibunya di housing mahasiswa.

Selengkapnya baca di KBM app

Judul: BIARKAN AKU PERGI

Karya: ET. Widyastuti

6/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang pernah tinggal di luar negeri, khususnya di Belanda, saya dapat merasakan betapa pentingnya sepeda dalam kehidupan sehari-hari di sana. Berbeda dengan Indonesia yang masih jarang dijumpai orang memakai sepeda untuk aktivitas rutin, di Belanda bersepeda adalah kebutuhan utama setiap penduduk, termasuk mahasiswa. Fahira yang sedang hamil di cerita ini memberikan gambaran menarik tentang bagaimana para mahasiswa Indonesia menghadapi tantangan di perantauan, terutama jika harus mengurus hal pribadi yang cukup sensitif seperti kehamilan. Di Belanda, fasilitas dan budaya yang mendukung sangat berbeda, sehingga Fahira harus beradaptasi tidak hanya dengan sistem pendidikan tapi juga gaya hidup yang baru. Pertemuan dengan Faisal, yang juga seorang mahasiswa baru, menunjukkan bagaimana pertemanan bisa terjalin di lingkungan baru. Meski Fahira cenderung pendiam dan memilih fokus dengan studinya, interaksi dengan Faisal membuka kesempatan untuk menambah jejaring sosial. Ini sangat penting bagi mahasiswa asing supaya tidak merasa kesepian dan bisa saling mendukung. Selain itu, cerita ini menyinggung soal pentingnya dukungan sosial bagi perempuan hamil saat menempuh studi di luar negeri. Fahira yang berencana pindah kos agar bisa ditemani ibunya menegaskan betapa kehadiran keluarga memberi kenyamanan dan semangat dalam menjalani masa-masa sulit. Kisah ini mengingatkan kita bahwa meskipun jauh dari tanah air, kita harus berani menghadapi kehidupan baru dengan segala tantangannya. Mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya belajar akademik tapi juga belajar mandiri dan kuat secara emosional. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman agar tetap terhubung dan saling memberi dukungan. Saya juga pernah mengalami bersepeda di Belanda saat kondisi tidak terlalu ideal, dan pengalaman itu mengajarkan bahwa kita harus selalu waspada dan belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Hal ini relevan sekali dengan pengalaman Fahira yang meski hamil tetap mencoba bersepeda demi mobilitasnya, meskipun mendapat perhatian dari orang lain seperti Faisal. Semoga kisah ini dapat memberikan inspirasi dan gambaran nyata bagi mahasiswa Indonesia yang sedang merantau dan mungkin mengalami situasi serupa. Jangan ragu untuk saling membantu dan membangun persahabatan di lingkungan baru, karena dukungan itu sangat berharga.