BIARKAN AKU PERGI 29
29
Sudah sebulan berlalu. Faisal meskipun sibuk dengan kegiatan riset dan meetingnya dengan promotor dan daily supervisornya, tapi dia tak sedikitpun melupakan Fahira.
Tidak sulit bagi Faisal mengetahui jadwal kuliah Fahira, karena semua jadwal kelas perkuliahan program master, dia bisa mengaksesnya. Bahkan, dia bisa tahu ruangan mana yang dipakai Fahira untuk belajar di kelas.
Kadang Faisal menyempatkan diri sekedar lewat tempat kuliah Fahira.
Cinta memang tak mengenal logika. Tapi, begitulah. Kadang Faisal rela memastikan bahwa Fahira hadir kuliah, karena dia khawatir Fahira jatuh sakit di saat kondisinya sedang hamil.
Di kampusnya juga tersedia study room, dimana para mahasiswa biasanya memanfaatkan ruangan itu untuk belajar. Dan tentu saja, dari ruangan Faisal pun dia bisa memantau langsung ke arah study room itu karena letaknya tepat berseberangan dengan ruangannya.
Begitulah cinta. Bahkan, sekelebat bayangan Fahira saja mampu membangkitkan mood Faisal untuk menyelesaikan progress mingguannya.
Pagi itu, Faisal mampir ke supermarket dulu sebelum berangkat ke kampus. Dia harus membeli roti dan buah untuk sarapan dan makan siang karena kemaren pulang ke kosan dari kampus terlalu malam, sehingga lupa jika stok buat hari ini habis. Saat Faisal kembali mengayuh sepedanya menuju kampus, tiba-tiba mendadak dia refleks mengerem sepedanya, dan meminggirkannya.
Di bacanya tulisan yang tertera di atas pintu verloskundigenpraktijk. Keningnya berkerut karena melihat Fahira masuk ke dalam tempat itu. Itu adalah tempat praktek bidan. Umumnya, orang hamil di Belanda memang ditangani oleh bidan.
Faisal sengaja menunggu di luar. Padahal cuaca mulai dingin karena musim gugur sebentar lagi akan berakhir. Faisal mengisi waktu dengan memandangi pepohonan di sekelilingnya yang daunnya mulai menguning, Sebagian kemerahan. Di jalananpun terlihat daunan yang gugur mengotori sepanjang tepi jalan. Biasanya, petugas kebersihan akan membersihkannya secara periodik hingga tidak menganggu keindahan kota.
“Fahira!” tegur Faisal saat melihat wanita muda itu keluar dari pintu dia tadi masuk. Pandangan wanita itu hanya menuju satu titik, yaitu tempat dimana sepedanya terparkir. Mendengar namanya dipanggil, Fahira sontak menatap ke arah sumber suara. Dia agak terkejut dengan kehadiran Faisal di sana.
“Ada apa?” tanya Fahira keheranan. Harusnya bukannya Faisal sudah di kampus, guman Fahira.
Mahasiswa PhD biasanya pagi-pagi sudah datang. Apalagi jika mendapat gaji dari kampus, mereka akan masuk sesuai jam kerja, meskipun tidak wajib juga sih. Tapi bagi mereka yang datang jam delapan, tentu jam lima sore sudah bisa pulang.
“Ngga. Kebetulan lewat,” bohong Faisal. Padahal dia sengaja menunggu Fahira keluar. Lalu menuntun sepedanya mendekat ke Fahira.
Baca selengkapnya di KBM app
Judul: BIARKAN AKU PERGI
Karya: ET. Widyastuti
Dalam cerita ini, saya sangat terkesan dengan bagaimana Faisal menunjukkan kepeduliannya yang tulus terhadap Fahira, terutama di saat Fahira sedang hamil. Sikap Faisal yang mau meluangkan waktu untuk memastikan Fahira hadir di kuliah dan bahkan mengetahui detail jadwal kelasnya menggambarkan bahwa cinta memang tak mengenal logika. Pengalaman saya serupa, ketika saya melihat orang yang saya sayang berjuang sendiri, perhatian kecil seperti memastikan mereka sehat dan tidak kelelahan sangat berarti. Selain itu, lingkungan yang digambarkan, seperti daun-daun musim gugur yang perlahan menguning dan gugur, menyiratkan suasana perubahan dan ketidakpastian yang juga terjadi dalam hubungan Faisal dan Fahira. Saya pernah merasakan hal serupa saat berada dalam fase sulit hubungan, di mana perubahan kecil di sekitar kita bisa menjadi tanda reflektif akan situasi hati. Fakta bahwa di Belanda perempuan hamil ditangani oleh bidan memperkaya konteks cerita ini, membuat pembaca tahu tentang perbedaan budaya dan sistem kesehatan yang ada. Saya sendiri pernah membaca bahwa di beberapa negara, perawatan kehamilan memang lebih banyak dilakukan oleh bidan dibanding dokter, yang dapat memberikan pendekatan lebih personal dan nyaman bagi ibu hamil. Cerita ini juga membuat saya teringat akan pentingnya komunikasi dan kejujuran dalam hubungan. Meskipun Faisal bohong bahwa dirinya kebetulan lewat, sebenarnya ia sengaja menunggu Fahira. Ini menunjukkan bahwa terkadang kita melakukan hal-hal kecil untuk menjaga hubungan dan mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung. Selalu ada keindahan dalam detail-detail kecil tersebut. Secara keseluruhan, kisah pada episode 29 ini bukan hanya tentang cinta dan kehadiran fisik, tapi juga tentang bagaimana perhatian, kesetiaan, dan pengertian bisa menjadi kekuatan besar dalam perjalanan kehidupan bersama pasangan. Ini adalah pengingat bagi saya dan pembaca bahwa cinta juga berarti hadir, walaupun tak selalu dalam bentuk yang sempurna.

