TIKET LIBURAN PALSU (3)

Membalas

Tapi setelah aksi bisik-bisik itu, kemudian petugas itu tersenyum, membuat Ratih sedikit lega.

"Mohon maaf atas kebingungannya, Nona. Jadi begini, kursi Anda di ekonomi yang akan Anda tempati mengalami masalah. Sabuk pengamannya dinyatakan rusak oleh tim teknis. Karena penerbangan hari ini penuh, tidak ada kursi ekonomi lain yang tersedia,” katanya dalam bahasa Inggris

Ratih mengerjap. "Jadi... saya bagaimana?"

Petugas itu tersenyum lebih lebar. "Sebagai kompensasi, Anda kami pindahkan ke First Class. Hanya kelas itu yang masih memiliki kursi kosong."

Ratih membeku. First Class?

***

Lampu kabin berpendar lembut, menyinari interior mewah area frist class yang terasa begitu asing bagi Ratih. Ia duduk di kursinya dengan kaku.

Ia mengeluarkan buku dari tas, mencoba menenggelamkan diri dalam barisan kalimat di bukunya, berusaha mengalihkan rasa s e s a k akibat pengkhianatan keluarganya yang masih terasa segar.

​Saat ia baru saja membalik halaman, sebuah bayangan tinggi berhenti di sampingnya. Seorang pria dengan aroma maskulin yang elegan baru saja duduk di kursi sebelah.

"Kita punya buku yang sama," ucap pria itu dalam bahasa Indonesia yang fasih namun beraksen unik. Tangannya memperlihatkan buku yang identik, "The Interpretation of Dreams".

Ratih terkejut saat menyadari dia adalah pria yang kakinya dia injak di ruang tunggu tadi. “Oh, kamu kan….”

Pria itu menunjukkan cengiran ramah. “Iya, yang kamu injak kakinya tadi.”

“Oh astaga, saya beneran minta maaf, saya nggak liat-liat tadi.”

Pria itu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Selama kamu nggak pakai heels, nggak begitu sakit kok,” sahutnya jenaka.

“Saya nggak nyangka kamu bisa bahasa Indonesia,” ujar Ratih. Lalu jarinya memutari wajahnya sendiri. “Wajah kamu, bule banget soalnya.”

“Kebetulan Ibu saya orang Indonesia. Pengasuh saya juga. Jadi sejak kecil sudah biasa menggunakan bahasa ini.”

Ratih mengangguk pelan. Pikirannya malah fokus pada kata ‘pengasuh’. Sejenis Sus Rini yang ngasuh Raf*thar kali, ya? Orang kaya memang beda.

​”Oh, ya, kenalkan, saya Hakan.”

Ratih pikir obrolan mereka akan berhenti, ternyata pria itu malah mengenalkan diri.

“Saya Ratih.”

“Raty?” Pria itu nampak kesulitan membubuhkan huruf H di ujung nama Ratih. Seperti lidah orang Turki pada umumnya.

Ratih tertawa singkat mendengarnya. Aksennya sangat lucu.

Obrolan mereka ​setelahnya mengalir begitu saja. Di atas ketinggian ribuan kaki, Ratih sejenak lupa bahwa ia sedang dikirim untuk menjadi pekerja m i g r a n. Ia menjawab setiap pertanyaan Hakan dengan analisis yang t a j a m dan cerdas, membuat pria itu berkali-kali menatapnya dengan binar kekaguman.

"Kamu sangat berwawasan," puji Hakan saat pesawat mulai memasuki wilayah udara Turki. "Aniway, kamu ke Istanbul untuk liburan?"

​Ratih terdiam, jemarinya meremas sampul bukunya lebih erat. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorong lidahnya untuk berbohong. "Saya ada urusan bisnis."

Tidak apa-apa kan berbohong sekali? Toh setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.

“Oh, bisnis apa?”

Ratih memutar otaknya. Seketika ia teringat perkebunan kopi yang memenuhi kampungnya. “Kopi. Saya punya bisnis ekspor kopi luwak, kebetulan baru mau coba mendistribusikan ke Istanbul. Saya mau mengunjungi klien sekalian liburan.”

“Oh, keren. Kamu kelihatan masih muda banget, tapi sudah pintar berbisnis.”

Ratih tertawa canggung. “Ya… begitulah. Bisnis warisan keluarga.”

Ratih tidak tahu bahwa kebohongan kecil pun bisa berdampak pada hidupnya. Itulah kenapa bohong itu dilarang.

***

Judul : Tiket Liburan Palsu

Penulis : Lian Niskala

Baca selengkapnya di KBM App

6/14 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman Ratih menjadi gambaran nyata bagaimana penipuan berkedok liburan bisa merusak hidup seseorang, terutama para perempuan muda yang tidak curiga. Dalam dunia migran Indonesia, kasus seperti ini sayangnya cukup sering terjadi. Saya pernah mendengar cerita dari beberapa teman yang hampir mengalami hal serupa, di mana mereka dijanjikan pekerjaan atau liburan ke luar negeri, namun berakhir dengan situasi yang tidak diinginkan, seperti menjadi pekerja migran tanpa hak atau mengalami penahanan karena dokumen palsu. Hal penting yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah kewaspadaan ekstra ketika berhadapan dengan dokumen perjalanan seperti tiket atau paspor. Pastikan segala sesuatu diurus secara resmi dan dari sumber terpercaya. Selain itu, belajar mengenali tanda-tanda penipuan dan berani bertanya atau mencari bantuan jika ada hal yang mencurigakan sangat krusial. Selain sisi gelap, pengalaman Ratih bertemu dengan Hakan di kabin first class dalam perjalanan ke Istanbul juga menunjukkan sisi manusia yang hangat dan penuh harapan. Kadang situasi sulit membuka ruang untuk pertemanan dan dukungan tak terduga. Dalam hidup, kita mesti belajar bahwa meskipun berada dalam kondisi terburuk sekalipun, ada harapan dan kesempatan untuk bertahan dan bangkit kembali. Cerita ini juga memperlihatkan bagaimana status pertemuan tak disengaja, seperti obrolan tentang buku 'The Interpretation of Dreams', bisa menjadi momen penting yang menyegarkan pikiran dan memberi semangat baru. Melalui cerita Ratih, saya teringat bahwa perjalanan hidup sering kali penuh kejutan, dan kejujuran serta keteguhan hati menjadi senjata utama untuk menghadapi berbagai cobaan. Ayo lebih waspada terhadap penipuan tiket liburan dan dukung teman atau keluarga yang mungkin sedang mengalami kesulitan serupa dengan membagikan informasi ini dan menjadi sumber dukungan yang mereka butuhkan.