Part 9

1/6 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai pecinta drama China, aku sering nemu komentar yang bunyinya, "drama China kok takut sama bahasa Inggris?" Awalnya aku juga mikir begitu, apalagi waktu nonton drama bertema kultivasi dan siluman seperti cerita tiga kehidupan, dengan tokoh Wang Chen, Qing Ying, dan para siluman ular. Begitu muncul kata atau dialog bahasa Inggris, rasanya janggal dan kayak dipaksakan. Dari pengalamanku, ada beberapa alasan kenapa kesannya drama China "takut" atau canggung sama bahasa Inggris. Pertama, banyak drama berlatar dunia fantasi atau zaman kuno. Logikanya, di dunia kultivasi, perguruan, siluman, dan dupa penjebak siluman, jelas nggak nyambung kalau tiba-tiba semua fasih bahasa Inggris. Jadi penulis naskah biasanya sengaja meminimalkan bahasa Inggris biar nuansa dunianya tetap konsisten. Kedua, cara pelafalan dan penguasaan bahasa Inggris para aktor juga berpengaruh. Pernah nggak sih kamu dengar dialog bahasa Inggris di drama tapi terdengar kaku, kayak baca teks? Itu bikin penonton malah gagal fokus. Makanya, beberapa produksi pilih hampir full bahasa Mandarin, lalu mengandalkan subtitle untuk penonton internasional. Tapi ada juga momen di mana bahasa Inggris muncul, misalnya di drama dengan setting modern atau urban fantasy. Menurutku, kalau penulis naskahnya rapi, bahasa Inggris dipakai seperlunya saja, misalnya istilah medis, teknologi, atau nama organisasi. Yang penting nggak jadi ajang pamer, tapi benar-benar mendukung cerita. Di drama tentang siluman dan tiga kehidupan, aku lebih nyaman kalau semua istilah kultivasi, nama jurus, dan benda seperti Dupa Penjebak Siluman tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, biar feel misteriusnya kerasa. Kalau kamu merasa nggak nyaman karena dramanya minim bahasa Inggris, ada beberapa cara biar tetap enak ditonton. Pertama, pilih platform yang menyediakan subtitle bahasa Indonesia yang rapi. Terjemahan yang baik bisa bikin kita lupa kalau nggak ada bahasa Inggris sama sekali. Kedua, biasakan dengar istilah-istilah Mandarin umum di drama, seperti sebutan Kakak Senior, Guru, atau nama-nama teknik kultivasi. Semakin sering dengar, makin gampang nangkep konteks tanpa perlu terjemahan Inggris. Aku juga pernah coba nonton tanpa subtitle, cuma mengandalkan konteks dari ekspresi wajah dan adegan. Misalnya, waktu Qing Ying dituduh haus darah dan kejam, meski nggak paham semua dialog, aku tetap bisa ngerti emosinya dari tatapan dan gerak tubuh. Pengalaman seperti ini justru bikin aku makin tertarik belajar sedikit-sedikit bahasa Mandarin. Jadi, kalau kamu bertanya-tanya "drama China kok takut sama bahasa Inggris?", menurutku itu bukan benar-benar takut, tapi lebih ke pilihan gaya produksi dan pertimbangan dunia cerita. Selama kita punya subtitle yang oke dan mau sedikit terbuka sama bahasa lain, drama China justru bisa jadi cara seru buat kenalan dengan budaya dan bahasa baru, tanpa harus bergantung terus pada bahasa Inggris.

Cari ·
bahan fortaleza abaya