... Baca selengkapnyaSemakin gede, aku makin sadar kalau banyak hal yang kita anggap "basa basi" sebenarnya kurang ajar. Dulu aku cuek aja kalau ditanya, "Kapan nikah?", "Kok gendutan?", atau komentar soal kerjaan dan hidup pribadi. Baru kerasa ngga enak ketika aku sendiri lagi struggling, lalu dapat pertanyaan basa-basi kayak gitu di setiap kumpul keluarga.
Basa basi yang sehat itu harusnya ringan dan bikin nyaman, kayak nanya kabar, ngobrol cuaca, atau hal-hal umum. Tapi kalau sudah sampai "ngomongin tubuh & privasi orang" tanpa diminta, menurutku itu bukan basa basi lagi, itu nyerbu batas. Pelan-pelan aku belajar buat berhenti ikut-ikutan. Kalau orang lain mulai tanya hal sensitif, aku jawab singkat atau ganti topik. Kadang aku juga bilang pelan, "Aku kurang nyaman bahas itu." Awkward sih, tapi lama-lama orang jadi tahu batas.
Contoh basa-basi lain yang sering dianggap wajar: nyuruh-nyuruh orang. Di kantor atau organisasi, kadang ada orang yang suka menyuruh-nyuruh seakan semua orang wajib nurut. Orang yang suka menyuruh nyuruh disebut tegas, padahal kalau cara ngomongnya merendahkan, itu tetap sikap kurang ajar. Aku sekarang lebih berani bilang, "Aku bisa bantu, tapi tolong ngomongnya jangan nyuruh ya." Ternyata ngobrol baik-baik bisa jadi reminder kalau kita semua setara.
Humor juga sering dijadiin alasan. Komentar pedas dibungkus dengan, "Bercanda doang, baper amat." Padahal kalau harus ngejek dulu baru lucu, ya itu kasar, bukan lucu. Aku sempat ikut arus, suka bercanda kelewat batas sampai lihat teman yang diam tapi jelas tersinggung. Sejak itu, aku cek lagi: kalau aku di posisi dia, aku nyaman ngga? Kalau jawabannya "ngga", berarti candaan itu memang kelewatan.
Ada juga kebiasaan mendewakan kesibukan berlebihan. Dulu aku bangga banget bisa bilang, "Aku ga tidur demi kerja." Sekarang aku sadar itu bukan pencapaian. Tubuh butuh istirahat, hidup butuh lebih dari kerja. Basa basi soal betapa sibuknya kita, kalau dipakai buat pamer sampai merendahkan orang lain yang lebih seimbang, ya jatuhnya tetap toxic.
Intinya, udah cukup jadi bangsa basa-basi yang nyakitin. Aku lagi belajar pakai basa basi yang lebih mindful: nanya hal yang aman, dengar jawaban orang, dan tahan komentar kalau cuma akan bikin orang insecure. Emoji berlari di gambar artikel kayak ngingetin aku: bukan lari dari masalah, tapi lari dari kebiasaan lama yang nggak sehat.
Sekarang fokusku: jaga ruang sendiri, perjelas nilai hidup, dan berani nolak standar aneh orang lain. Kalau kamu juga capek sama basa basi yang menusuk, kamu nggak lebay. Itu valid. Pelan-pelan, kita bisa bikin obrolan sehari-hari jadi lebih hangat tanpa harus kurang ajar.