Ternyata selama ini ku kurang bersyukur…

Kadang kita sibuk membandingkan diri,

hingga lupa, setiap manusia sudah punya perannya masing-masing dari Tuhan.

Aku tersadar setelah menonton kisah para pengelola sampah di Bantar Gebang,

berjudul “Distrik: Bantar Gebang dan Kemampuan Adaptasi Manusia” by Asumsi:

Tentang mereka yang bekerja dalam diam, tapi penuh makna dan ketulusan.

Bahagia ternyata bukan soal posisi,

tapi seberapa ikhlas kita menjalankan amanah hidup yang Allah pilihkan.

“Kami telah meninggikan derajat sebagian mereka atas sebagian yang lain...”

(QS. Az-Zukhruf: 32)

Dari situ aku paham, tugas kita bukan membandingkan diri,

karena setiap orang punya jalan yang berbeda

bukan untuk berebut, tapi saling melengkapi.

Yang penting bukan seberapa tinggi posisi kita,

tapi seberapa baik kita menjalankan peran itu.

Asal terus berusaha dan tetap di jalan yang benar, itu sudah cukup.

Allah tak pernah ingkar janji. 🤍

🎧 Dengerin lagu Peran Masing-Masing versi full di YouTube: Vanilla Leorie

🎵 Peran Masing-Masing

Lirik & Melodi: Vanilla Leorie

Musik & Vokal: Suno AI

2025/11/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu kecil, aku sering dengar nasihat tentang syukur nikmat dan kufur nikmat, tapi jujur dulu rasanya cuma teori. Baru belakangan aku benar-benar ngerasain bedanya hidup dengan hati yang bersyukur dan hati yang penuh keluhan. Kalau dipikir-pikir, kufur nikmat itu nggak selalu dalam bentuk menolak rezeki secara terang-terangan. Kadang sesederhana sering ngomel, merasa hidup orang lain lebih enak, atau bilang “kok hidupku gini-gini aja” padahal kebutuhan dasar kita tercukupi. Di lirik “Peran Masing-Masing” ada bagian, “Padahal aku cukup makan, bisa tidur, tak kekurangan. Kurasa ku hanya kurang berterima kasih?” — menurutku ini tamparan halus. Kita sering lupa bahwa bisa makan, tidur nyenyak, punya badan sehat itu sudah nikmat besar. Aku juga pernah ada di fase overthinking soal masa depan. Scroll media sosial, lihat teman-teman kelihatan sukses, karier bagus, liburan ke mana-mana, lalu mulai bertanya, “Ya Tuhan, kapan giliranku tiba?” Di titik itu aku sebenarnya sedang kufur nikmat, karena fokusku cuma pada apa yang belum punya, bukan pada apa yang sudah Allah titipkan sekarang. Pelan-pelan aku belajar mengubah sudut pandang. Syukur nikmat itu bukan berarti hidup harus sempurna dulu baru bersyukur. Justru sebaliknya, kita belajar menemukan hal-hal kecil yang layak disyukuri di tengah kekurangan. Misalnya: - Punya keluarga atau teman yang mau dengar curhatan kita. - Masih bisa shalat dengan tenang. - Punya waktu luang untuk istirahat atau mengerjakan hobi. - Masih diberi kesempatan belajar dari kesalahan. Ada juga bagian lirik yang bilang, “Kupikir semua harus direbutkan, padahal tak perlu saling menjatuhkan.” Ini mengingatkanku bahwa dunia ini kaya, berkelimpahan. Rezeki itu luas, bukan kue kecil yang kalau orang lain dapat bagian besar, artinya jatah kita habis. Setiap orang memang punya peran masing-masing. Ada yang perannya terlihat di panggung depan, ada yang justru sangat berarti di balik layar. Menurutku, cara paling sederhana melatih syukur adalah dengan membiasakan diri berhenti sejenak dan bilang dalam hati: “Terima kasih ya Allah, untuk hari ini.” Bisa sambil mengingat 3 hal yang disyukuri hari itu. Kedengarannya sepele, tapi perlahan hati jadi lebih ringan. Rasa iri tetap mungkin muncul, namanya juga manusia, tapi kita jadi lebih cepat sadar dan kembali mengingat peran masing-masing yang Allah sudah aturkan. Kalau kamu lagi di fase banyak mengeluh dan merasa hidup orang lain lebih mudah, mungkin bisa coba dengerin lagu “Peran Masing-Masing” sambil renungin lirik-liriknya. Siapa tahu, kayak aku, kamu juga akan sampai pada titik: “Iya… sepertinya aku hanya kurang bersyukur.” Dari situ, pelan-pelan kita belajar pindah dari kufur nikmat ke syukur nikmat. Bukan berarti hidup langsung jadi sempurna, tapi hati terasa lebih damai, karena yakin Tuhan tak pernah salah waktu dan jalannya, dan Dia sudah menempatkan kita di tempat terbaik untuk belajar dan bertumbuh.