Don’t believe on love at first sight…
Fairytales say love is instant, magical, effortless.
But in reality, love is patience, communication, choosing each other every day.
We grew up believing in love at first sight: like Cinderella who found her love with nothing but a pair of magic glass slippers.
But in the real world, long-lasting love is built through scars, healing, and growth.
This song is for everyone who once loved like a drama...
HOPELESS ROMANTICS who ended up burned in the end.
Let’s learn to love with clarity, not fantasy.
Enjoy this song also on my YouTube channel Vanilla Leorie!
Lyrics & Melody: Vanilla Leorie
Music & Vocal: Suno AI
#NotYourFairytale #StorytellingMusic #SadGirlMusic #vanillaleoriesong
Aku dulu tumbuh dengan dongeng cinta sejati: putri, pangeran, takdir, dan happy ending. Dari kecil kita dicekokin cerita kalau cinta itu datang tiba-tiba, sekali tatap mata langsung tahu, “Oh, ini jodohku.” Tapi makin dewasa, aku baru sadar kalau arti first sight di dunia nyata jauh lebih rumit. Buat aku, love at first sight sekarang lebih ke rasa ketertarikan yang kuat, bukan langsung cinta sejati. Kayak lirik di lagu ini: “Adrenaline dressed as destiny, a rush mistaken for eternity.” Kadang deg-degan itu cuma campuran hormon, rasa penasaran, dan fantasi yang kita bikin sendiri di kepala. Rasanya megah, dramatis, kayak adegan film—padahal belum tentu dalem. Aku pernah ngalamin versi "he fell in love like thunder in the summer rain". Cepet, heboh, penuh kata-kata manis. Dalam seminggu udah ngomong "forever", sebulan udah bicara masa depan. Waktu itu aku pikir, "Wah, ini dongeng cinta sejati versi real life." Tapi ternyata cuma love-bombing. "Love-bomb today then ghost tomorrow" bener-bener kejadian: hilang tanpa penjelasan, no closure, no reason why. Dari situ aku mulai nanya ke diri sendiri: apa iya dongeng cinta sejati itu nyata? Atau cuma naskah yang kita pengen banget percaya? Di lagu ini ada baris, "They say love conquers everything? but darling, that line's just scripted." Dan aku ngerasain sendiri, beda status, beda keluarga, beda nilai hidup, itu nggak selalu bisa diberesin cuma dengan "asal cinta". Di film ada orkestra yang bikin semuanya keliatan romantis, tapi di dunia nyata yang ada cuma dua orang yang harus belajar komunikasi dan kompromi. Sekarang, kalau ngomongin arti first sight, aku lebih realistis. Buatku, yang penting itu bukan gimana mulainya, tapi gimana dia bertahan. "Real love isn't fireworks and confetti, warm hands that stay and hold tight." Cinta sejati nggak selalu keliatan seperti dongeng: nggak selalu ada kembang api di langit, nggak selalu ada momen dramatis. Kadang bentuknya sesederhana: dia dengerin cerita kamu yang sama untuk kesekian kali, dia tetap ada di hari biasa yang membosankan, dia nggak kabur waktu keadaan lagi sulit. Aku juga belajar buat lebih peka sama red flags. Di dulu, "Red flags waving like a carnival parade, but I was blind." Sekarang, kalau hubungan rasanya terlalu kayak drama—terlalu cepat, terlalu intens, terlalu penuh janji tanpa tindakan—aku justru waspada. Kalau terasa kayak episode sinetron, mungkin memang cuma drama, bukan cinta yang sehat. Jadi, kalau kamu lagi galau soal dongeng cinta sejati atau lagi bingung sama arti first sight, mungkin jawaban sederhananya gini: nggak apa-apa kalau kamu nggak punya cerita cinta yang kayak film. Nggak apa-apa kalau cinta kamu datang pelan-pelan, dari teman jadi sayang, dari biasa jadi nyaman. Bukan fairytale, tapi nyata. Dan kalau kamu pernah kejebak hubungan yang rasanya dramatis banget sampai bikin lelah, kamu nggak sendirian. Lagu "Not Your Fairytale" ini aku tulis sebagai pengingat: real life isn't a drama, dan kamu pantas dapat cinta yang nggak cuma indah di awal, tapi juga tenang dan aman sampai bertahun-tahun nanti.
