Serba-serbi kehidupan sebagai Autistic level ringan🐧
Aku masih bisa kerja keras, presentasi, memimpin proyek, bahkan kadang hyperfocus sampai lupa makan. 😆
Tapi ada banyak penyesuaian yang harus kulakukan di balik layar supaya energiku tetap stabil.
Btw ini bukan mewakili semua Autistic ya. Autism itu spektrumnya luas banget, dari yang kebutuhan support-nya ringan sampai yang berat.
Aku bikin post ini hanya sebagai catatan kecil untuk reminder kehidupanku sendiri, bahwa apapun limitasi yang kuhadapi, aku pasti bisa cari Cara buat mengatasinya instead of mengasihani diri. Tapi harus tetap tahu batasan diri sendiri Dan jangan terlalu push limit sebagai bentuk rasa sayang ke diri sendiri 💙✨
6/9 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang hidup dengan kondisi autisme level ringan, saya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana saya mengelola energi dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri dan tuntutan lingkungan.
Sering kali, orang di sekitar saya melihat bahwa saya bisa bekerja keras, memimpin proyek, dan melakukan presentasi dengan baik. Namun di balik itu semua, ada perjuangan yang tidak terlihat — perjuangan menjaga agar otak saya tidak kelebihan beban. Otak saya memproses informasi secara simultan yang membuat saya cepat merasa kelelahan, meskipun penampilan fisik saya tampak normal. Ini menyebabkan fenomena yang dikenal dengan istilah "autistic shutdown," yaitu kondisi di mana saya harus beristirahat total untuk "mematikan sementara" aktivitas mental yang overload.
Saya belajar pentingnya mengenali tanda-tanda awal kelelahan, seperti perasaan mual, pusing, atau sensasi tidak nyaman terhadap suara dan cahaya. Saat rasa ini muncul, saya memberi izin pada diri sendiri untuk mundur dan mengambil waktu istirahat dalam suasana yang tenang dan aman. Misalnya, dari pengalaman saya, tidur berjam-jam di ruangan gelap sangat membantu untuk melakukan recovery.
Salah satu aspek unik adalah pengalaman "hyperfocus" yang saya miliki, yakni kemampuan untuk berkonsentrasi secara intens pada satu hal dalam waktu lama tanpa terganggu. Meskipun hal ini sangat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan atau menganalisa masalah secara mendalam, ada "harga" yang harus dibayar, yaitu kelelahan mental yang luar biasa setelahnya. Analoginya seperti mobil balap yang melaju sangat kencang tapi boros bahan bakar. Oleh karenanya, saya juga harus mengatur jadwal kerja agar tidak terlalu menumpuk dan memberi waktu istirahat yang cukup di malam hari atau saat akhir pekan.
Saya juga mengalami perbedaan mencolok antara saat di kantor dan di rumah. Di kantor, saya sering menggunakan "masking" atau menampilkan versi diri yang dapat diterima oleh lingkungan agar tetap kompeten dan menjaga ekspektasi, walaupun sebenarnya hal ini sangat menguras energi. Sebaliknya, di rumah adalah momen recharge, di mana saya berani menunjukkan emosi, mengekspresikan diri dengan jujur tanpa topeng, dan melakukan kegiatan yang memberi kenyamanan seperti stimming (misalnya goyang kaki atau humming) tanpa rasa bersalah.
Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya dukungan kecil dari orang sekitar — pengertian dan kesabaran mereka sangat berarti untuk memperluas kapasitas saya agar bisa 'bernapas' kembali. Pesan saya untuk sesama Autistic dan pendukungnya adalah: jangan menganggap kelelahan atau shutdown sebagai kemalasan atau kemanjaan, tapi pahami sebagai mekanisme otak yang perlu dilindungi. Dengan mengenali dan memberi ruang pada kebutuhan tersebut, kita bisa menjalani hidup yang lebih sehat dan bahagia meski menghadapi tantangan spektrum autisme.