Boleh jadi baik, tapi jangan lupa melindungi batas diri
Kita semua tahu dijahati orang itu tidak enak. Tapi jangan sampai karena pernah disakiti, hati yang tadinya baik ikut berubah menjadi pahit.
Kenapa?
Karena sifat baik yang ada dalam diri kita adalah salah satu nikmat dan amanah dari Allah. Jangan sampai kita berhenti berbuat baik hanya karena pernah kecewa pada manusia. Dunia ini membutuhkan lebih banyak kebaikan, bukan lebih banyak kepahitan.
Tugas kita adalah menjaga hablumminannas, berusaha berbuat baik kepada sesama sesuai kemampuan kita.
Tapi berbuat baik bukan berarti membiarkan diri disakiti.
Kalau berhadapan dengan orang yang manipulatif, toxic, atau bahkan membahayakan diri kita, jangan polos juga.
Menjauh jika perlu.
Buat batasan yang tegas.
Blokir jika memang perlu.
Lapor kepada pihak yang berwenang jika ada pelanggaran atau kejahatan.
Melindungi diri sendiri juga bagian dari tanggung jawab yang Allah berikan kepada kita.
Dalam Islam, memaafkan adalah kemuliaan. Tetapi memaafkan tidak selalu berarti membiarkan kesalahan terus berulang tanpa batas.
Kalau seseorang berbuat salah, kita boleh menyampaikan bahwa itu salah dengan cara yang baik. Jika tidak bisa diperbaiki, menjauh juga merupakan pilihan yang dibenarkan.
Jadi jangan bingung bagaimana menghadapi orang yang pernah menyakiti kita.
Tetap jaga hati yang baik.
Tetap berbuat baik karena Allah.
Tapi jangan lupakan batasan, kebijaksanaan, dan kewajiban untuk menjaga diri sendiri.
Karena bahkan Rasulullah ï·º pun mengajarkan kasih sayang tanpa menghilangkan ketegasan.
Pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa berbuat baik tidak berarti harus menerima semua perlakuan buruk dari orang lain. Sering kali saya menemui situasi di mana niat baik saya disalahgunakan. Awalnya saya merasa terluka dan ingin menutup diri. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa menjaga batas diri adalah bagian penting dari berbuat baik. Saya mulai membedakan antara membantu dan membiarkan diri dimanfaatkan. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan orang yang toxic atau manipulatif, saya memilih untuk menjaga jarak dan bahkan jika perlu membatasi komunikasi. Saya juga belajar bahwa memaafkan kesalahan orang lain tidak berarti membiarkan kesalahan itu terus berulang tanpa tindakan tegas. Dalam Islam, kasih sayang diajarkan dengan penuh kebijaksanaan. Rasulullah ï·º sendiri menunjukkan kasih sayang sambil mempertahankan ketegasan. Ini mengajarkan saya untuk tetap berbuat baik karena Allah, sambil melindungi diri agar tidak menjadi korban. Batasan diri yang saya buat membantu menjaga hati tetap bersih dan pikiran tetap tenang. Terkadang saya juga melapor kepada orang yang berwenang bila ada tindakan yang berlebihan atau berbahaya terhadap saya atau orang lain. Ini bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga harmoni sosial secara keseluruhan. Saya percaya dunia ini sangat membutuhkan lebih banyak orang yang tetap berbuat baik sambil menetapkan batasan yang jelas agar kebaikan itu tidak rusak oleh kepahitan. Jadi, jangan takut untuk tegas demi kebaikan dan kedamaian batin. Kesimpulannya, menjadi baik bukan berarti lemah. Berbuat baik dengan penuh cinta dan kebijaksanaan sekaligus menjaga batas diri adalah langkah bijak supaya kebaikan kita terus menjadi manfaat dan hati tetap tenang.

