... Baca selengkapnyaSejak awal nikah, aku baru benar-benar paham kalau nafkah istri itu jauh lebih luas dari sekadar uang bulanan. Di Islam, nafkah untuk istri mencakup lahir, batin, dan perlakuan yang ma’ruf. Kalau salah satunya kosong, biasanya kerasa banget di suasana rumah.
Pertama, nafkah lahir. Ini yang paling kelihatan: tempat tinggal yang layak, makan, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari sesuai kemampuan suami. Nafkah lahir adalah bentuk tanggung jawab suami untuk mencukupi kebutuhan dasar istri. Bahkan ada ulama yang menyebut nafkah adalah “hutang” yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban kalau sengaja ditelantarkan. Bukan berarti harus mewah, tapi minimal istri merasa aman dan tercukupi.
Kedua, nafkah batin. Banyak yang langsung kepikiran soal hubungan suami istri, padahal lebih luas. Nafkah batin adalah perhatian, kasih sayang, komunikasi yang hangat, sentuhan yang menenangkan, juga pemenuhan kebutuhan biologis secara baik dan lembut. Istri yang kurang nafkah batin biasanya mulai merasa kesepian, gampang sensitif, dan rumah jadi dingin walaupun secara materi cukup. Di sisi lain, istri juga punya nafkah batin ke suami: menghormati, menjaga kehormatan diri dan rumah, serta jadi teman hidup yang suportif.
Ketiga, perlakuan yang ma’ruf. Ini sering terlupakan. Ma’ruf artinya perlakuan yang baik, wajar, pantas, sesuai ajaran Islam dan kebiasaan yang baik. Ada hadits populer: “Sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik terhadap istrinya.” Dari sini kelihatan, ukuran kebaikan suami itu bukan cuma di luar rumah, tapi terutama cara dia memperlakukan istrinya: tidak kasar, tidak merendahkan, mau mendengar keluhan, dan ikut terlibat mengurus rumah tangga sebisanya.
Lalu bagaimana kalau suami belum bisa mencukupi semuanya? Dari pengalamanku dan cerita teman-teman, kuncinya komunikasi dan niat. Kalau suami sudah berusaha maksimal tapi rezeki memang lagi sempit, biasanya istri masih bisa legowo, apalagi kalau nafkah batin dan perlakuan ma’ruf tetap dijaga. Tapi kalau suami mampu, namun sengaja pelit atau cuek, di sinilah mulai muncul masalah dan bisa jadi termasuk dosa karena menelantarkan hak istri.
Tentang hukum istri mencari nafkah, selama tidak melalaikan kewajiban utama dan mendapat izin suami, banyak ulama membolehkan. Tapi, izin istri bekerja bukan berarti tanggung jawab nafkah suami otomatis hilang. Tetap yang utama, nafkah suami kepada istri apa saja itu ya tiga hal tadi: lahir, batin, dan perlakuan yang ma’ruf.
Kalau kamu lagi merasa kurang salah satu nafkah ini, coba ajak pasangan ngobrol pelan-pelan. Jelaskan kebutuhanmu sebagai istri tanpa menyalahkan. Semoga dengan saling memahami, rumah tangga jadi lebih sakinah dan rezeki juga makin dimudahkan.