APA YG KUPIKIRKAN 2THN YANG LALU #padahariini #alquran #terjemahan
Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”
Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim,
tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),
dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.
Dalam sehari-hari, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam kecintaan berlebihan terhadap harta dunia, hingga terkadang lupa pada kewajiban sosial dan moral yang harus dijaga. Ayat-ayat Al-Fajr yang dibahas ini mengingatkan saya betapa pentingnya untuk melihat setiap ujian hidup dari perspektif yang lebih luas dan mendalam. Sebagai seseorang yang juga pernah merasa sangat fokus pada pencapaian materi, saya mulai belajar bahwa nikmat dan ujian dari Tuhan datang dalam berbagai bentuk—kadang berupa kelimpahan rezeki, kadang berupa keterbatasan. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Apakah kita jadi sombong dan menganggap diri dimuliakan, ataukah kecewa dan merasa dihinakan? Pengalaman pribadi menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan datang dari seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama yang kurang beruntung. Misalnya, saya mulai rutin ikut berpartisipasi memberi makan anak yatim dan membantu orang miskin di lingkungan sekitar. Hal ini tidak hanya membuat saya merasa lebih bersyukur, tapi juga mengingatkan saya bahwa harta yang kita miliki adalah amanah yang harus digunakan dengan cara yang halal dan baik. Saya juga belajar bahwa mencampuradukkan antara yang halal dan haram dalam usaha mencari harta dapat membawa dampak buruk, baik secara spiritual maupun sosial. Ini menjadi panggilan untuk lebih jujur dan berhati-hati dalam setiap tindakan, agar keberkahan selalu menyertai rezeki kita. Melalui refleksi ini, saya semakin yakin bahwa ujian hidup adalah media Tuhan untuk memberikan pelajaran dan menguatkan iman. Maka, marilah kita saling mengingatkan, menjaga kepedulian sosial, dan mencintai harta dengan cara yang benar agar hidup terasa lebih bermakna dan penuh keberkahan.












