Membalas @febrii🩷
Aku paham banget rasanya sakit hati karena binor, apalagi kalau posisi kita serba kekurangan. Kadang pikiran jadi ke mana-mana, ngerasa hidup nggak adil, kenapa harus kita yang disakiti. Tapi jujur, makin dipikirin, hati cuma makin capek. Di titik itu aku mulai belajar pelan-pelan berdamai sama diri sendiri. Hal pertama yang aku lakuin adalah berhenti nyalahin diri. Bukan kita yang salah sampai ada binor, dan kita nggak bisa ngontrol sikap orang lain. Yang bisa kita jaga cuma diri kita sendiri dan anak-anak kalau sudah punya. Aku mulai fokus ke hal kecil: merawat diri, nyicil nabung, cari kegiatan biar pikiran nggak kosong, karena kalau bengong biasanya mulai overthinking lagi. Soal ekonomi juga sering bikin makin down. Di OCR tadi kebaca kata "miskin", dan jujur itu relate banget. Tapi aku sadar, miskin bukan berarti nggak berharga. Justru dari rasa kurang itu aku coba cari peluang: jualan kecil-kecilan online, ikut kelas gratis di YouTube, upgrade skill pelan-pelan. Memang nggak langsung berubah, tapi tiap ada penghasilan walau sedikit, rasanya kayak dapet tenaga baru. Tentang binor sendiri, aku sekarang milih nggak terlalu ngikutin drama mereka. Bukan berarti pasrah, tapi aku jaga jarak demi kesehatan mental. Kalau harus komunikasi karena urusan penting, aku usahakan tetap tegas tapi nggak kebawa emosi. Susah, tapi lama-lama kebiasaan. Dari situ aku belajar kalau balas dendam atau saling jatuhin cuma buang energi. Yang paling bikin kuat justru ingat anak. Di OCR ada kalimat tentang "anak niba", dan itu kerasa banget: ketika kita jatuh, anak tetap butuh sosok ibu yang berdiri. Dari situ aku janji sama diri sendiri, apa pun yang terjadi aku harus tetap semangat berjuang. Boleh nangis, boleh capek, tapi jangan berhenti melangkah. Kalau kamu lagi di posisi yang sama karena binor, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan terima rasa sakitnya, tapi jangan biarin rasa itu matiin harapan kamu. Kita berhak bahagia, berhak punya hidup baru yang lebih tenang. Nggak perlu buru-buru, yang penting tiap hari ada satu langkah kecil: entah itu belajar hal baru, berdoa lebih khusyuk, atau sekadar nulis perasaan biar nggak mengendap di dada. Intinya, tetap semangat. Luka karena binor itu nyata, tapi masa depan kamu juga nyata. Dan itu masih bisa kamu bentuk dengan tangan kamu sendiri.
























