Perjalanan hidup petani miskin
Rasa yang Dulu Pernah Ada
Di tengah hutan lebat yang terpisah bermil-mil dari desa terdekat, tinggal seorang petani kopi bernama sebut saja "Karto". Sudah tujuh tahun ia hidup sendirian, merawat kebun kopi peninggalan ayahnya. Suara angin dan kicau burung adalah satu-satunya teman; tak ada suara pasar, tawa tetangga, apalagi bau masakan rumah.
Setiap sore, Karto selalu teringat masa kecilnya. Saat itu, ayahnya sering membakar roti di atas tungku. Aroma hangatnya menyebar sampai ke halaman, dan gigitan pertama terasa lembut, sedikit garing, bercampur rasa manis yang pas. Sejak tinggal di hutan, ia tak pernah lagi merasakannya.
Suatu pagi, saat berjalan memeriksa tanaman, matanya tertuju pada sesuatu yang tumbuh di batang pohon tua. Bentuknya bulat pipih, berwarna cokelat muda, dan baunya—persis seperti bau roti bakar yang dulu ia kenang. Jantungnya berdebar kencang. Mungkinkah hutan ini memberiku kejutan? pikirnya.
Dengan hati gembira, ia memetiknya berlahan. Tapi sesaat kemudian senyumnya pudar sedikit tetapi hati tetap bersikukuh. Teksturnya kenyal, tidak lembut; rasanya hambar, sedikit pahit, sama sekali bukan roti. Ia baru sadar: itu hanya jamur hutan yang kebetulan memiliki bentuk yang serupa. 🥲🥲
Karto duduk diam memandangi sisa gigitan itu. Air matanya jatuh perlahan ke tanah. Ia tak menangis karena rasanya yang salah, tapi karena rindu yang begitu dalam—rindu pada rumah, pada orang tua yang sudah tiada, dan pada kehangatan yang tak bisa ia temukan lagi di tempat yang sunyi ini. 😭😭
















itu cara Allah mempertemukan lg lewat srbuah jamur, alfatehah,👍