RAMAI OPLAS ARTIS

Trend vs Agama: Operasi Plastik Menurut Islam

Operasi plastik makin tren, apalagi di kalangan selebriti.

Islam melarang mengubah ciptaan Allah kecuali untuk kebutuhan medis.

Boleh jika tujuannya mengembalikan fungsi tubuh, bukan karena tidak bersyukur.

Tidak boleh kalau demi tren, pamer, atau mengubah wajah secara drastis.

Islam lebih menekankan kecantikan akhlak, bukan hanya rupa.

Cantik versi Islam itu wudhu, senyum, dan hati yang bersih.

#TrenVSAgama

#DiaryHariIni

#KreatorIndonesia

#Lemon8

Lemon8_ID

2025/7/31 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, fenomena operasi plastik di era digital ini bikin aku banyak mikir. Apalagi tiap hari disuguhkan berita artis oplas gagal, operasi muka gagal yang hasilnya jauh dari ekspektasi, sampai gosip soal titi dj oplas gagal atau perubahan wajah seleb lain. Di satu sisi orang mengejar "sempurna", tapi di sisi lain risikonya besar, baik secara medis maupun dari sisi agama. Kalau ditanya soal hukum operasi plastik dalam Islam, ulama biasanya bedakan antara dua: untuk kebutuhan medis dan untuk murni kecantikan. Yang sifatnya rekonstruktif, misalnya korban kecelakaan, bibir sumbing, luka bakar parah, atau kesulitan bernapas sehingga butuh semacam rhinoplasty untuk melancarkan fungsi hidung, mayoritas ulama membolehkan. Alasannya, ini termasuk ikhtiar menjaga kesehatan dan mengembalikan fungsi tubuh, bukan mengubah ciptaan Allah demi gaya. Yang jadi masalah adalah operasi plastik dalam Islam yang tujuannya cuma mengejar standar cantik versi manusia: ingin hidung mancung karena tidak puas dengan bentuk asli, ingin rahang lebih tirus karena ikut tren, atau sengaja mengubah wajah sampai orang susah mengenali. Di titik ini, banyak ulama memandangnya haram karena sudah masuk ranah mengubah ciptaan Allah secara permanen, mengikuti hawa nafsu dan standar kecantikan semu. Aku juga sempat cari-cari tentang rhinoplasty halal atau haram. Ternyata kuncinya balik lagi ke niat dan kebutuhan. Kalau hidungnya memang mengganggu pernapasan atau ada cacat bawaan yang bikin minder berat sampai mengganggu psikis, sebagian ulama membolehkan dengan pertimbangan maslahat. Tapi kalau cuma karena "biar mirip artis" atau biar kelihatan lebih keren di kamera, ya jatuhnya ke ranah yang tidak dianjurkan, bahkan bisa haram. Soal gosip artis, seperti operasi plastik celine evangelista dulu atau seleb lain, aku pribadi berusaha buat nggak gampang nge-judge. Kita nggak tahu kondisi batin dan alasan pribadi mereka. Tapi buat diri sendiri, konten-konten seperti ini jadi pengingat: jangan sampai standar cantik ala media sosial bikin kita lupa jati diri. Fenomena "oplas haram atau halal" sebenarnya mengajarkan kita buat lebih kritis ke niat sendiri, bukan cuma sibuk menilai orang lain. Yang paling bikin aku ke-trigger adalah kasus operasi muka gagal. Bayangin sudah keluar uang banyak, sakit, dan hasilnya malah bikin menyesal. Dari sisi agama, ini bisa jadi double kerugian: tubuh yang Allah titipkan disakiti tanpa kebutuhan yang jelas, plus rasa tidak ridha dengan karunia-Nya. Di sini aku merasa konsep syukur itu bukan sekadar ucapan, tapi menerima kekurangan fisik sambil tetap merawat diri dengan cara yang halal dan wajar. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan pribadi: cantik versi Islam itu bukan berarti kita dilarang merawat diri. Pakai skincare, olahraga, makan sehat, perawatan yang tidak mengubah struktur asli tubuh, itu insya Allah boleh. Tapi ketika sudah masuk ranah mengubah rupa secara permanen demi tren dan validasi, di situlah alarm hati dan iman harus bunyi. Buat kamu yang mungkin lagi galau mau operasi plastik atau nggak, mungkin bisa mulai dengan tanya ke diri sendiri: "Kalau sosial media nggak ada, aku masih pengin melakukan ini nggak?" dan "Kalau hasilnya gagal, aku siap menerima konsekuensinya nggak?". Jangan lupa juga diskusi sama orang yang paham agama dan dokter terpercaya, biar keputusan yang diambil bukan cuma ikut arus, tapi benar-benar dipikir matang dari sisi medis dan syariat.