📖 Tragedi Pedang Keadilan

👤 Keigo Higashino

📝 Gramedia Pustaka Utama

🔖 464 Halaman

🏷️ Fiction, Mystery, Thriller, Crime

~

Tragedi pedang keadilan secara khusus menyoroti impunitas hukum tentang keterlibatan anak di bawah umur dalam tindakan kriminal. Bagaimana mereka seperti mendapatkan perlindungan akibat dari adanya undang2 peradilan pidana anak, yg lebih mengutamakan proses rehabilitasi daripada hukuman yg setimpal, tanpa terkesan memikirkan sisi psikologis korban beserta keluarganya akibat perbuatan mereka.

Nagamine sadar betapa lemahnya hukuman bagi para pelaku yg masih remaja itu. Hukuman yg didapatkan tidak akan bisa menggadaikan rasa sakit yg dialami ketika memikirkan nasib putrinya. Maka ia memutuskan untuk memberikan sendiri hukuman setimpal bagi para pelaku tanpa peduli pedang keadilan akan terhunus kepadanya untuk melindungi si pelaku. Sungguh sangat ironis.

Moral kompas para penegak hukum juga seakan diuji ketika menghadapi kasus ini. Di lain sisi, mereka paham betul apa yg dirasakan Nagamine mengingat hukuman yg akan didapatkan pelaku tidak akan ada artinya. Namun, mereka harus tunduk dengan sistem peradilan yg ada. Pendapat masyarakat pun beragam ketika mengetahui kasus ini. Namun kebanyakan mereka bersimpati tapi tidak bisa membenarkan perilaku Nagamine.

Akhir dari cerita di buku ini memang sedikit mengecewakan. Tapi setidaknya dari buku ini kembali memperlebar mata terhadap kasus2 kejahatan yg dilakukan anak di bawah umur. Kritik terhadap sikap penegak hukum yg lebih mengutamakan untuk menjaga sistem peradilan yg terkadang cacat dibandingkan melindungi dan memberikan keamanan pada masyarakat itu sungguh mengenai sasaran.

Dan perlu diingat, kejahatan seksual bisa terjadi bukan karena nafsu para pelaku yg tidak bisa dikontrol. Seperti yg ada di buku ini, kejahatan seksual bisa terjadi akibat ketimpangan relasi kuasa yg membuat pelaku suka mengendalikan yg lemah dan merasa aman tak tersentuh oleh hukum. Pakaian yg dikenakan perempuan juga tidak terbukti sebagai penyebab kejahatan seksual menimpa mereka. Jadi, stop menyalahkan korban dengan alasan pakaian yg dikenakan. Akhir kata, melindungi anak perempuan dari hal2 buruk tidak akan cukup jika tidak diimbangi dengan mengedukasi anak laki2 agar lebih beradab dan menghargai perempuan.

~

#reviewbuku #rekomendasibuku #tragedipedangkeadilan #keigohigashino

1/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu mulai baca Tragedi Pedang Keadilan karya Keigo Higashino, aku kira ini cuma akan jadi crime thriller biasa. Ternyata dari awal sudah kerasa banget kalau buku ini mau ngobrol lebih jauh soal keadilan, apalagi ketika pelaku kejahatan masih di bawah umur. Sebagai pembaca, aku jadi ikut mempertanyakan: di titik mana hukum benar‑benar berpihak pada korban? Karakter Nagamine Shigeki di sini bikin aku campur aduk. Di satu sisi, aku paham banget kenapa dia sampai mengambil langkah sendiri setelah putrinya dibunuh. Rasa marah, tidak terima, dan hampa itu terasa realistis. Keigo Higashino menggambarkan duka orang tua dengan sangat pelan tapi nusuk. Di sisi lain, aku juga dibuat mikir lagi: kalau semua orang yang kecewa sama putusan pengadilan memilih jalan Nagamine, apa bedanya kita dengan pelaku yang kita benci? Yang bikin buku ini kuat adalah cara Higashino mengulik sisi hukum anak di bawah umur. Sistem peradilan pidana anak digambarkan fokus pada rehabilitasi, tapi di mata keluarga korban, itu terlihat seperti bentuk impunitas. Aku pribadi jadi lebih sadar kalau kasus kejahatan yang dilakukan remaja itu kompleks: ada faktor keluarga, lingkungan, sampai relasi kuasa yang timpang. Di sini, pedang keadilan terasa tumpul untuk korban, tapi tajam melindungi pelaku. Dari sisi tema kejahatan seksual, novel ini juga bikin aku marah dan sedih bersamaan. Higashino menunjukkan bahwa kejahatan seksual bukan semata soal nafsu, tapi soal kekuasaan: siapa yang merasa superior dan aman dari jeratan hukum. Ini relate banget dengan realita kita, di mana korban masih sering disalahkan karena pakaian atau sikap mereka. Setelah baca, aku makin yakin bahwa narasi “pakaian sebagai pemicu” itu benar‑benar harus dibuang jauh. Sebagai pembaca perempuan, bagian ini paling mengena. Aku jadi kepikiran tentang bagaimana cara kita melindungi anak perempuan. Ternyata nggak cukup cuma dengan melarang ini-itu, tapi harus dibarengi dengan mengedukasi anak laki‑laki soal consent, empati, dan bagaimana memperlakukan perempuan dengan hormat. Novel ini mungkin fiksi, tapi refleksinya sangat relevan dengan kehidupan sehari‑hari. Dari sisi cerita, ritme misterinya masih khas Keigo Higashino: mengalir pelan tapi stabil, dengan beberapa twist yang bikin penasaran. Walau akhir ceritanya terasa agak mengecewakan dan tidak sekuat novel Higashino lainnya, aku tetap merasa buku ini worth it buat dibaca kalau kamu tertarik dengan tema pedang keadilan, sistem hukum, dan kejahatan yang melibatkan remaja. Menurutku, rating 4 dari 5 bintang cukup pas untuk Tragedi Pedang Keadilan.