DARI BALIK LENSA

Suatu kebetulan yang indah bahwa lokasi indekos Moira tidak terlampau jauh dari kediaman Maruli. Lelaki itu tersenyum sendiri sambil menyetir sampai ia tiba di rumah. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, yang jelas bayangan wajah Moira melekat hingga ia akan tidur malam itu.

Dering telepon genggamnya membuat Maruli menunda memejamkan mata. Nama opung boru berkedap-kedip muncul di layar ponsel. Maruli ingat, sudah hampir seminggu ini ia tidak sempat menghubungi sang nenek. Sejak kedua orang tuanya wafat, opung borulah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

“Sehat, Opung?” sapa Maruli saat suara perempuan tua itu terdengar.

Opung boru menjawab dengan kecerewetannya seperti biasa. Satu sapaan Maruli akan dijawab dengan paling sedikit lima kalimat beruntun olehnya. Setiap menelepon, Maruli harus memasang ear-phone agar tangannya tidak lelah memegang ponsel hingga hampir satu jam lamanya. Menanggapi ocehan sang nenek melalui telepon sudah menjadi santapan wajib sejak mereka tidak lagi tinggal serumah. Maruli meminta ijin untuk hidup mandiri sejak ia mulai kuliah.

“Dua minggu lagi Opungmu ini ulang tahun, Ruli. Jangan kau lupa, ya!” Suara dari seberang terdengar ceria.

“Mana mungkin aku lupa, Pung.” Maruli mengucapkannya sedikit meringis, padahal jika tidak diingatkan pun ia tak pernah hapal tanggal ulang tahun sang nenek.

“Umurku sudah tujuh lima tahun ini.” Opung boru menambahkan. “Sudah tambah tua.”

“Yang penting, kan, Opung sehat,” hibur Maruli. “Dan tambah cantik.”

“Kalau sudah merayu, kau persis Opung Doli.” Sang nenek menyebut kenangannya bersama sang suami.

“Opung mau kubelikan apa untuk hadiah?” Cepat Maruli mengalihkan pembicaraan. Jika tidak begitu, maka sang nenek akan terus bercerita tentang nostalgianya.

“Aku tidak minta kau belikan hadiah, Ruli. Bawakan saja Opungmu ini calon istrimu.” Suara renta itu terdengar penuh harap.

“Sabarlah, Pung. Atau macam mana kalau Opung saja yang carikan?”

Terdengar helaan napas panjang sebelum sang nenek menjawab. “Kalau Opung yang mencarikan, nanti tak sesuai dengan keyakinanmu.”

Maruli tertegun sesaat. Begitu sayang opung boru padanya. Bahkan sampai ketika kedua orang tuanya telah tiada pun, sang nenek tetap menghargai agama yang diajarkan ayah ibu padanya. Tidak sama sekali beliau pernah mempermasalahkan hal itu.

“Sebaiknya cepat kau penuhi syaratnya, Ruli. Aku tidak pernah main-main mengenai itu.” Opung boru kembali mengingatkan Maruli hal yang selalu diulang-ulangnya setiap mereka berbincang.

“Baik, Pung.”

“Kalau aku sudah mati, kau akan susah menagih hakmu, Ruli.”

Sang nenek mengakhiri percakapan setelah Maruli berjanji akan menyempatkan diri mengunjungi beliau besok. Maruli kehilangan rasa kantuknya setelah sambungan telepon terputus. Isi kepalanya dipenuhi tentang persyaratan yang selalu diingatkan opung boru sejak setahun terakhir. Sebenarnya permasalahan ini tidak menjadi rumit jika dua tahun lalu hubungan cintanya tidak kandas di tengah jalan. Sudah tinggal selangkah lagi, tapi semua itu tersandung perihal yang sepel. Kekasih hatinya mengaku jatuh cinta pada sahabat mereka. Kabar terakhir yang ia dengar, sang mantan sudah menikah dan pindah ke kota lain.

Seperti biasa, jika otaknya mulai penat, bekerja adalah cara pelampiasan terbaik untuk membujuk tubuhnya mau menyerah. Maruli menyalakan laptopnya, membuka software editing, dan mulai memasang head phone. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja wajah sang mantan kekasih membayang kembali di depan layar. Lelaki itu akhirnya memilih menutup perangkat kerjanya dan kembali berbaring di tempat tidur. Setelah Moira yang seharian ini menarik perhatiannya, lalu opung boru yang menceramahinya, kini ia tersiksa dengan sosok yang telah lama ia berusaha lupakan. Hari itu perempuan-perempuan telah berhasil mengganggu hidupnya.

Bersambung

DARI BALIK LENSA (Bab 4-A)

Penulis: Rima Hutabarat

Tamat di KBM App

Akun: RimaHutabarat

Tamat juga di group baca Telegram.

Selamat membaca.

#novelcinta #novelindonesia #cerbung #cinta #fotografer

2025/10/17 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKalau ngomongin Dari Balik Lensa, aku jadi keinget beberapa kali turun langsung ke desa buat dokumentasi acara. Bukti cinta ke desa itu kadang sesederhana mau tetap pegang kamera meski baju basah kuyup kehujanan, hidung meler, tapi tetap senyum tiap ada warga yang minta difotokan. Capek? Jelas. Tapi ada rasa hangat yang susah dijelaskan. Biasanya sebelum berangkat, aku sudah siapkan playlist lagu yang cocok nemenin perjalanan. Karena seringnya sinyal di desa naik turun, aku download dulu lagu-lagu bertema cinta sederhana dan perjuangan. Buat kamu yang sering kerja lapangan kayak Maruli, lagu pelan dengan lirik yang menyentuh soal rumah, keluarga, dan kampung halaman itu kerasa banget pas motoran menyusuri jalan becek atau sawah yang hijau. Momen paling berkesan itu waktu hujan turun tiba-tiba di tengah acara. Semua orang buru-buru berteduh, tapi aku masih harus lari-lari kecil jaga kamera, cari sudut yang aman tapi tetap bisa ambil gambar. Di situ kerasa banget, dokumentasi bukan cuma soal hasil foto yang aesthetic, tapi juga soal niat mengabadikan momen penting buat desa. Kadang ada bapak-ibu yang minta difotokan bareng hasil panen atau anak-anak yang malu-malu tapi diam-diam senang kalau dibidik lensa. Setelah pulang, badan meriang dan kadang berakhir flu, tapi hati puas. Apalagi saat foto-foto itu dipajang di bale desa atau dibagikan di grup WhatsApp warga. Mereka bangga, merasa dihargai, dan itu bikin rasa lelah seharian langsung agak terbayar. Di titik itu, aku paham kenapa tokoh seperti Maruli di Dari Balik Lensa bisa begitu tenggelam dalam pekerjaannya: ada cinta yang pelan-pelan tumbuh dari balik lensa, baik ke orang-orang yang ia potret maupun ke tempat yang ia datangi. Kalau kamu lagi cari lagu yang cocok buat nemenin ‘bukti cinta ke desa’ versi kamu—entah kamu relawan, fotografer, atau cuma suka ikut kegiatan kampung—coba pilih lagu dengan nuansa akustik, lirik yang hangat, dan tempo yang nggak terlalu cepat. Diputar pelan sambil lihat hasil dokumentasi hari itu, dijamin bikin kamu makin sayang sama desa yang kamu datangi dan orang-orang di dalamnya.