MENANTI KAU PULANG
Pak Hasan duduk di kursi kayu di teras, tangannya asik menganyam bambu untuk dijadikan tampah. Hujan rintik-rintik turun membasahi halaman, menimbulkan aroma tanah basah yang seharusnya menenangkan. Tapi sejak tadi, kegelisahan malah mengendap di dadanya.
Dari dalam rumah, suara Bu Hasnah atau sering di panggil Emak Hasnah itu terdengar menggerutu. "Udah jam segini, belum ada kabar juga. Biasanya kalau mau pulang, dia nelpon dulu. Gimana ini, Pak?"
Pak Hasan tidak langsung menjawab. Matanya terus tertuju ke jalan depan rumah, memperhatikan setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ia menghela napas, menepuk-nepuk lututnya sendiri.
"Mungkin masih di jalan," gumamnya akhirnya.
Bu Hasnah muncul di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada. "Jangan-jangan duitnya belum cukup buat ongkos. Atau malah foya-foya di sana?"
Pak Hasan melirik istrinya sekilas. "Bocah itu bukan tipe yang suka ngabisin duit buat senang-senang."
"Halah, kamu aja yang terlalu percaya," tukas Bu Hasnah. "Dulu dia juga bilang nabung buat belikan emas baru, tapi mana? Sampai sekarang nggak ada."
Pak Hasan kembali diam. Matanya menerawang ke jalanan basah di depan rumah. Dalam hati, ia juga bertanya-tanya, Aisyah sebenarnya pulang nggak sih tahun ini?
Biasanya, sebelum Ramadan tiba, anaknya sudah ribut menanyakan mau dibelikan apa dari Kalimantan. Tahun lalu, ia datang dengan lima kardus oleh-oleh. Bangga sekali, memamerkan segala macam barang yang dibawanya.
Namun sekarang? Sepi. Tak ada kabar. Tak ada telepon. Lebaran tinggal seminggu lagi, tapi belum juga ada kabar dari putrinya. Perjalanan dari Kalimantan saja memakan waktu beberapa hari, kapan dia sampai rumah, kalau sekarang belum ada kabar apa pun.
Pak Hasan mengetuk-ketuk jari di lengan kursinya. Ada yang terasa ganjil ... dan untuk pertama kalinya, ia merasa menunggu bukanlah perkara yang mudah.
Bu Hasnah terus mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia melirik ke luar rumah, ke arah Pak Hasan yang masih duduk di teras dengan tatapan kosong. Hujan mulai reda, tapi suasana hatinya tetap mendung.
"Kalau Aisyah nggak pulang, gimana?" suaranya ketus. "Padahal si Arman udah ngincer jam tangan baru, si Dedi juga udah ngomong mau ganti HP. Belum lagi si Rini, katanya mau minjem uang buat belikan anak-anaknya baju lebaran. Lha, uang dari mana kalau anakmu itu nggak kirim?"
Pak Hasan hanya menarik napas panjang. Ia sudah hafal pola ini, setiap menjelang lebaran, istrinya selalu sibuk menghitung-hitung ‘jatah’ dari Aisyah. Seolah-olah anak gadis mereka itu mesin pencetak uang.
"Jangan main sangka buruk dulu," sahutnya pelan. "Mungkin dia masih sibuk kerja."
"Kerja, kerja!" Bu Hasnah mengibaskan tangannya, kesal. "Udah mau lebaran ini, Pak seminggu lagi, apa nggak ada waktu buat kasih kabar? Dulu waktu masih di rumah, nggak gitu kelakuannya!"
Pak Hasan terdiam. Benar juga. Biasanya, sebelum Lebaran, Aisyah sudah heboh mengabari rencana kepulangannya. Tahun lalu, dia bahkan menelpon hampir setiap hari, menanyakan ini-itu, memastikan semuanya siap untuk kepulangannya.
Akan tetapi, sekarang? Sejak Ramadan dimulai, telepon dari Aisyah hanya sekali, itupun sekadar mengucapkan selamat puasa. Setelah itu, sunyi.
"Ya, tunggu aja," ujar Pak Hasan akhirnya. "Dia pasti pulang."
Bu Hasnah mendengkus, lalu melengos masuk ke dalam kamar.
Pak Hasan masih menatap jalanan yang mulai mengering. Bayangan Aisyah menenteng kardus berisi oleh-oleh menari-nari di sana. Ah ... baru kali ini ia merasakan rindu yabg teramat sangat, padahal biasanya dia tak pernah peduli, ada atau tidak anak itu di rumah.
***
Selanjutnya baca di K-B-M app
Judul: MENANTI KAU PULANG
Penulis: Ayaa Humaira
















































