PERGI UNTUK KEMBALI
Aku tidak bisa berbohong bahwa masih ada getar di hatiku yang tersisa untuk Radit. Tidak dapat kupungkiri betapa rasa cinta itu bergulat dengan tumpukan benci di hatiku. Sejak kakiku melangkah keluar melewati pintu restoran itu, kuupayakan sekuat tenaga agar tidak menoleh ke belakang. Meskipun tetap harus dengan sabar kutunggu langkah kecil Zein yang masih bersemangat melambaikan tangan pada sosok lelaki yang belum ia ketahui status aslinya.
“Om yang tadi baik banget, ya, Bun.” Zein kembali berceloteh setelah mobil meninggalkan areal parkir. “Dia temannya Bunda?”
“Ya,” jawabku ragu. “Teman lama.”
“Tadi di sekolahku, Om itu nanyain, apa obeng yang kemarin kita beli bisa dipakai.” Zein lanjut bercerita. “Aku bilang bisa. Om itu juga bilang aku anak hebat karena bisa memperbaiki sepeda sendiri.”
Ada rasa haru menyusup di hatiku saat mendengarkan Zein bercerita.
“Oh,ya? Terus, Om-nya nanya apa lagi?” selidikku ingin tahu.
“Nanyain siapa yang biasanya jemput aku di sekolah.” Zein menjawab sembari menyendokkan es krimnya yang sudah separuh mencair ke mulutnya. “Aku bilang selalu Bunda yang jemput.”
“Terus?”
“Aku juga bilang, ayahku kerjanya jauh dan belum pernah pulang.” Bocah kecil itu berkata lugu sambil fokus menjilati stik es krimnya. “Memangnya kapan, sih, Ayah pulang, Bun?”
Rasanya sudah sangat bosan harus menampung beratus ribu pertanyaan yang sama dari bibir mungil itu sejak ia mulai bisa mengerti bahwa keluarga yang utuh harus terdiri dari ayah dan ibu.
“Pekerjaan Ayah belum selesai. Kalau sudah selesai pasti Ayah pulang buat ketemu kita,” hiburku dengan senyuman yang terpaksa.
“Memang pekerjaan Ayah, apa, sih Apa ayahku astronot yang bekerja di stasiun luar angkasa?”
Aku spontan tertawa, miris. Setelah berkali-kali Zein mencoba mencari tahu jenis pekerjaan ayahnya, baru kali ini tercetus ide tentang astronot.
Zein sedikit cemberut saat aku menggeleng menandakan ia salah menebak. Ia diam sesaat, sebelum akhirnya kalimat yang terucap membuat dadaku seketika sesak. “Apa ayahku sudah meninggal seperti abinya Farid?”
Kuusap lembut kepala Zein dengan tangan kiri.
“Ayah Zein masih ada, lagi kerja di tempat yang jauh,” jelasku dengan kebohongan yang sama. “Untuk pulang ke rumah ongkosnya mahal, harus menabung dulu.”
“Kalau uang jajanku ditabung setiap hari, apa bisa dikirim ke Ayah untuk ongkos pulang?” Polos sekali pertanyaan Zein.
Terlampau polos hingga aku harus berpaling ke kanan agar ia tidak melihat manik mataku yang mulai berkaca-kaca.
“Bisa, Sayang.” Bahkan suaraku pun terdengar serak. “Nanti kita beli celengan, ya. Zein suka yang bentuk apa?”
Zein lalu berceloteh tentang celengan berbentuk ayam yang ia pernah lihat di warung komplek. Aku separuh mendengarkan, separuh berdebat dengan pikiranku. Semua permohonan maaf Radit, bujukan Radit, argumentasi Radit seolah terputar ulang di kepala.
“Ra-di-tya pra-mo-no.”
Aku menoleh terkejut. Bukan lagi sebuah mangkuk es krim yang sekarang berada dalam genggaman Zein. Sebuah kartu nama. Kartu nama yang Radit sengaja tinggalkan di dasbor mobil.
“Seperti nama Ayahku,” lanjut bocah kecil yang masih tekun memandangi selembar kartu putih di tangannya.
Kali ini bisa dipastikan jantungku sudah berdetak melebihi kapasitas normal. Sepanjang ingatanku, aku tidak pernah memberitahu Zein siapa nama ayahnya.
“Dari mana Zein tahu siapa nama Ayah, Sayang?” tanyaku hati-hati.
“Dari buku rapor aku,” ucap Zein lugu. “Kan, ada nama Ayah di atas nama Bunda.”
Zein bukan lagi bocah kecil yang masih bisa selalu aku bohongi. Nalarnya mulai bekerja baik seiring usianya bertambah. Mungkin Radit benar. Sudah saatnya aku mengungkapkan fakta yang sebenarnya tentang Radit pada Zein. Meskipun berat, bagaimanapun juga aku harus mempertimbangkan apa yang Radit perdebatkan tentang nasib hubungan kami saat ini.
Judul: PERGI UNTUK KEMBALI (Bab 5)
Penulis: Rima Hutabarat
Tamat di KBM App
Akun: RimaHutabarat
Tamat juga di Telegram, Karya Karsa, KL-PK dan novel cetak. Slow update di GoodNovel























