Semakin menjadi-jadi Dita tu?!
Dan aku terdiam, itu bukan Dita. Tapi... Rani.
Perempuan yang hanya hidup dalam fragmen masa lalu Arya. Yang semestinya sudah lenyap bersama waktu dan luka lama. Tapi kini ia berdiri nyata, menatap ke arah rumahku seperti seseorang yang tahu terlalu banyak.
Aku membuka pintu pelan. Hawa pagi menyelinap seperti firasat yang dingin dan menyakitkan.
“Pagi,” katanya ringan.
Aku tak menjawab.
Dia mengulurkan map cokelat itu. “Ini buat kamu.”
Tanganku ragu menyambutnya. Beratnya tidak seberapa, tapi hawa di sekitarnya... seolah membawa beban yang akan mengubah segalanya.
“Isinya apa?” tanyaku, suara serak.
Dia tidak langsung menjawab. Pandangannya menerobos masuk ke dalam rumah, menatap dinding tempat foto pernikahan kami tergantung.
“Kamu cantik waktu nikah. Tapi matamu sedih. Aku paham kenapa?"
Dia tersenyum, tapi senyumnya bukan untuk bersahabat. Itu senyum perempuan yang tahu sesuatu.
“Makanya aku heran... kamu yakin dia menikahimu karena cinta?”
Aku memeluk map itu erat. “Maksud kamu?”
Rani menghela napas. “Aku nggak datang buat rebut dia. Aku cuma datang untuk menuntaskan yang seharusnya selesai dulu.”
Ia menatapku tajam. “Tapi ternyata, kalian membangun rumah dari puing-puing yang belum dibereskan. Dan sekarang rumah itu mulai retak.”
Aku ingin membantah. Ingin membela diri. Tapi tak satu pun kata keluar dari mulutku.
“Arya tahu aku kembali. Tapi dia nggak siap bilang. Karena dia tahu... kamu nggak akan pernah jadi satu-satunya,” katanya pelan.
Dan kalimat itu menghantamku lebih keras dari tamparan mana pun.
“Apa kamu tidur dengannya?” tanyaku akhirnya.
Rani menggeleng. “Nggak. Tapi Dita... iya.”
Dunia berhenti sejenak.
“Arya butuh seseorang yang mengisi ruang kosongmu. Dan Dita... dia nggak datang dari luar. Dia datang dari dalam. Dari ruang-ruang hampa di pernikahan kalian sendiri.”
“Kenapa kamu cerita ini semua?”
“Karena kamu berhak tahu. Dan karena aku tahu, sebentar lagi semuanya akan hancur.” ucapnya.
Rani berbalik. Melangkah pergi meninggalkanku dalam keheningan yang lebih menyakitkan daripada ribut-ribut pertengkaran.
Aku membuka map itu. Di dalamnya, ada salinan email. Bukti rekening. Dan foto... foto Arya dan Dita. Di apartemen. Di hari-hari saat aku pikir dia lembur.
Aku ingin menangis. Tapi air mataku seperti beku.
Aku terlalu muak untuk menangis, terlalu marah untuk sekadar berteriak.
Malamnya, Arya pulang.Tanpa bicara. Tanpa penjelasan. Hanya tercium aroma alkohol yang menusuk.
Ia kemudian duduk di sofa, membuka kaus kaki, dan menyalakan televisi seolah semuanya masih normal.
Aku duduk di depannya. Melempar map itu ke meja.
“Buka.”
Dia melihat map itu. Lalu menatapku.
“Dari siapa kamu dapat ini?”
“Dari Rani.”
Ketika aku menyebut nama itu, rahangnya mengencang.
"Dia datang?"
Aku mengangguk. "Dia nggak sentuh kamu. Tapi Dita iya."
Arya menutup mata. Mengusap wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat dia seperti laki-laki yang kehabisan alasan.
“Aku minta maaf. Waktu itu aku mabuk dan--"
“Sudahlah, Maaf untuk yang mana? Untuk tidur dengan Dita? Untuk bohongin aku? Atau untuk diam saat kamu tahu pernikahan ini tinggal nama tapi kamu nggak pernah mau jujur?”
Dia berdiri. "Aku... kehilangan arah."
Aku tertawa kecil. “Lucu. Karena selama ini aku yang nggak pernah tidur nyenyak. Aku yang selalu menunggu kamu pulang. Aku yang kehilangan diriku sendiri supaya kamu tetap merasa utuh.”
Dia membuka mulut, tapi aku menyela.
“Kamu tahu, yang paling menyakitkan bukan karena kamu selingkuh. Tapi karena kamu membuatku merasa aku yang tidak cukup.”
Melempar remot TV, kemudian ia memasuki kamar tamu, iya kamar tamu.
Tiga hari berlalu sejak percakapan itu.
Dita tak muncul lagi.
Tapi hatiku masih luka. Rumah ini sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan. Ini sunyi dari rasa percaya.
Arya mulai mencoba memperbaiki diri. Membantuku di dapur. Menawarkan pelukan yang dulu kurindukan.
Tapi semuanya... terasa palsu.
Seperti mencoba menyambung cermin yang sudah hancur.
Dan malam itu, ponselku bergetar.
Dita.
"Maaf, aku harus bicara. Satu kali saja."
Aku tak membalas.
Lalu satu foto masuk. Tangannya menggenggam test pack.
Garis dua.
Lalu pesan masuk,"Aku hamil."
Aku mematung.
Di belakangku, Arya sedang membuat teh.
“Ada pesan?” tanyanya ringan.
Aku hanya menoleh pelan. Menatap wajah laki-laki yang dulu kusebut rumah.
Lalu berkata lirih:
“Ya. Rumahmu akan bertambah satu penghuni.”
Dan untuk pertama kalinya, kulihat wajahnya... ketakutan.
“Cinta tak selalu kalah karena hadirnya orang ketiga. Kadang, cinta kalah karena dua orang pertama saling kehilangan arah. Tapi yang paling menyakitkan adalah... ketika kamu menyadari kamu bukan yang diperjuangkan, melainkan hanya pilihan sementara dari seseorang yang tak pernah selesai dengan masa lalunya.”
______
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena tidak bisa, tapi karena tak ada tempat untuk menyandarkan kelelahanku. Tempat tidur terasa asing. Bantal seperti musuh. Dan suara detik jam seperti pengingat, jika aku semakin jauh dari diriku sendiri.
Pagi harinya, aku membuka kembali pesan terakhir dari Dita yang tertulis jelas,
“Aku hamil.”
Tak ada lanjutannya. Tak ada permintaan. Tak ada nada memohon.
Hanya kalimat telak, tajam dan dingin seperti ujung belati di dada.
Jam 10 pagi.
Aku berdiri di depan apartemen yang dulu katanya hanya “tempat kerja Dita sementara”. Nomor 2108.
Pintu dibuka... dan dia berdiri di sana. Dita.
Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Tapi bukan itu yang membuatku terdiam.
Melainkan... matanya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di mata perempuan itu.
Bukan ketakutan padaku. Tapi pada hidup yang dia bangun dari cinta yang salah.
“Masuklah,” katanya pelan. Suaranya seperti sisa dari semalam yang tak selesai.
Aku duduk di sofa, dan ia menyodorkan secangkir teh.
Aku tak menyentuhnya.
“Kamu hamil?” tanyaku.
Langsung. Tak ingin berputar.
Dia mengangguk. “Iya.”
“Dari Arya?”
Dia diam sejenak. Kemudian mengangguk lagi, lebih pelan.
Aku menatap wajahnya. Lama.
“Kamu tahu dia suami orang. Kamu tahu dia sedang krisis. Tapi kamu tetap...”
Aku mengatupkan bibirku. Nafasku nyaris habis oleh emosi yang tertahan.
“Kenapa, Dita?”
Dia menggigit bibir. Lalu berkata,"Karena dia datang... saat aku sudah hancur. Dan dia... buat aku merasa utuh lagi.”
“Dengan menghancurkan aku?”
Suara itu keluar dari tenggorokanku seperti batu terlempar dari jurang.
Dia terisak.
“Aku nggak bermaksud. Aku juga nggak rencana cinta sama Arya. Tapi dia... terlalu lama butuh seseorang. Dan kamu terlalu sibuk menyelamatkan rumah, sampai lupa menjaga penghuninya.”
Aku berdiri. “Kamu menyalahkanku?”
“Bukan. Tapi... kamu juga nggak sadar, dia udah sendirian sejak lama. Dia cerita... tentang malam-malam saat dia bicara, tapi kamu nggak dengar. Saat dia pegang tanganmu, tapi kamu menepis dengan alasan kerja.”
“Dan itu jadi alasan kamu merusak pernikahan orang?”
Aku membentaknya kini. Bukan karena marah padanya—tapi karena marah pada diriku sendiri, yang pernah percaya bahwa semua baik-baik saja.
Dita diam. Tapi air matanya mulai jatuh.
“Aku juga bukan perempuan yang kuat,” katanya. “Aku kehilangan ibu waktu kecil. Ayahku nikah lagi dan lupakan aku. Arya... satu-satunya laki-laki yang pernah bilang aku berharga.”
Aku membeku.Dan di situlah, untuk pertama kalinya, aku melihat bukan musuh. Tapi sesosok perempuan... yang juga terluka.
Aku duduk kembali. “Lalu sekarang? Kamu mau dia nikah sama kamu? Mau bangun rumah baru dari puing-puing kami?”
Dia menggeleng. “Aku gak minta dia. Aku tahu... dia bukan untukku.”
“Lalu kenapa kamu bilang kamu hamil?”
Dita mengusap wajahnya.
“Aku gak tahu harus gimana. Tapi aku mau jujur. Aku capek. Aku gak bisa bohong lagi. Aku juga gak kuat dikejar bayang-bayang kamu... bayang-bayang dia yang terus mengulang masa lalu.”
Kami terdiam. Hening.Lalu ia berkata pelan,“Kamu tahu gak... Arya masih nyimpan surat dari Rani?”
Aku menoleh cepat.
“Sebelum aku, ada dia. Dan mungkin... setelah aku, ada perempuan lain lagi. Tapi kamu tahu siapa musuh sesungguhnya? Bukan aku. Tapi bayangan-bayangan yang dia pelihara sendiri.”
Darahku dingin.
“Jadi kamu tahu... soal Rani?”
Dita mengangguk. “Dia sayang kamu. Tapi dia gak selesai dengan dirinya sendiri.”
Jleb.
Kalimat itu sungguh nyata, ah sudahlah aku mulai lelah dengan perilaku liar suamiku itu.
______
Sore itu, aku pulang.
Di meja makan, Arya sudah duduk.
Map dari Rani terbuka.
Ia menatapku dengan wajah letih.
“Dita bilang dia hamil,” ucapku.
Arya menunduk. “Aku tahu.”
“Kenapa kamu gak cerita?”
“Karena aku gak siap kehilangan kamu.”
Aku menahan napas. “Terlambat.”
Ia berdiri. “Aku salah. Tapi aku juga bingung. Semua berjalan terlalu cepat. Dita datang, Rani muncul. Aku kehilangan kamu, aku kehilangan diriku.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu sungguh kehilangan aku, kenapa kamu gak pernah benar-benar cari?”
Ia tak menjawab.
Dan malam itu, aku menulis sebuah surat.
Arya...
Aku pernah pikir perempuan lain adalah musuhku. Tapi ternyata, musuhku adalah versiku sendiri, yang diam demi menjaga rumah yang mulai runtuh.
Aku pergi. Bukan karena menyerah. Tapi karena aku tak ingin terus tinggal di rumah yang tak lagi mengenalku.”
Enam bulan kemudian...
Dita melahirkan seorang bayi perempuan. Namanya Alya. Arya tak datang. Ia masih...mencari dirinya sendiri, katanya.
Aku menyaksikan Dita dari jauh. Di rumah sakit, ia duduk sendiri. Menatap Alya seolah ingin meminta maaf untuk dunia yang terlalu rumit.
Aku menghampirinya.Dia kaget. Matanya basah.
“Aku gak minta kamu datang,” bisiknya.
“Aku tahu. Tapi Alya gak salah.”
Kami berdua menangis. Bukan karena kalah, tapi karena akhirnya... kami tak ingin terus berperang.
Dan hari itu, aku berdiri di depan rumah kami, yang dulu kami sebut rumah tangga.
Kali ini, aku membawa koper.Bukan karena aku diusir. Tapi karena aku memilih pergi.
Di dalam dompetku, ada foto pernikahan kami yang sudah mulai pudar. Aku tak tahu harus bagaimana lagi saat ini?
Dan di sampingku. Ada tiket pesawat. Menuju tempat baru. Hidup baru.Bukan untuk lari. Tapi untuk pulih.
“Terkadang, cinta yang pergi adalah berkah yang menyamar. Karena saat kamu akhirnya berhenti memohon diperjuangkan... kamu mulai mengerti betapa berharganya dirimu sendiri.”
***
baca selengkapnya di aplikasi Fizzo karya Novita Ledo judulnya SI PENIRU ITU MEREBUT SUAMIKU




















