KISTA & PENEBALAN DINDING RAHIM
Ketika setelah beberapa bulan aku mengalami
spoting,aku pergi ke RS untuk memeriksakan diri,setelah proses USG akhirnya aku tau kalau di rahimku ada kista 2,5cm dan penebalan dinding rahim.akh rasanya tuh gak percaya banget.
secara aku bukan termasuk wanita yang suka makan jajanan jajanan viral di luaran sana,bukan pecinta junkfood fastfood dan tidak suka pedas.
kenapa masih bisa aku punya kista dan penebalan dinding rahim.
keseharian itu mikir keras.
kerjaanku cari informasi penyebab dan cara menyembuhkannya,dan yang buat aku kuatir banget aku takut nanti harus di kuretase.
seminggu setelahnya aku mulai berdamai dengan sakitku,aku berusaha untuk ngademin dirisendiri dengan cara menerima.
..
ya..yang pertama aku lakukan adalah Menerima,karena segala apa yang terjadi dalam hidup kita segalanya dari tuhan yang harus kita terima.
..
Menerima bukan berarti pasrah dengan sakit kita.aku mulai memperbaiki pola hidup,makan lebih sehat,berusaha menghindari yang mmbuat kita stress,dan tentunya berdo'a.
..
beberapa bulan aku wajib selalu kontrol ke dokter kandungan,bahagianya ketika dokter mulai memberikan semangat karna kista itu sudah bersih,kemudian penebalan yang di kira ada indikasi Polip itu ternyata bukan,dan bulan oktober kemarin terahir aku kontrol dan dokter menyatakan aku sudah sehat,dan sudah lepas obat.
..
aku terus menjaga kesehatan,tepung tepungan paling aku hindari,lebih banyak makan sayur dan buah,dan setiap hari meskipun 500-1000 langkah wajib jalan kaki serta minum herbal buatan sendiri dan tentunya selalu berpikir positif bahwasanya segala penyakit pasti ada obatnya.
..
semua datangnya dari tuhan,tugas kita hanyalah berusaha dan berdo'a..inshaallah selalu ada jalan keluar di setiap kesulitan.
..
dari pengalamanku mudah2n juga mengjidupkan semangat buat kalian yang masih berjuang untuk sembuh dari segala penyakit,jangan putus asa ya..semangat.
..
#TentangKehidupan #PerasaanKu #Lemon8 #newbielemon8
..
Waktu dokter pertama kali bilang ada penebalan dinding rahim dan kista 2,5 cm di hasil USG, aku panik banget. Apalagi di layar USG kelihatan jelas area kandung kemih (bladder) dan bagian rahim yang dikasih tanda pengukuran. Jujur aku sama sekali nggak paham, mana yang kelihatan normal dan mana yang nggak. Yang aku tahu cuma: “Ada sesuatu di rahimku.” Setelah itu aku mulai cari tahu pelan‑pelan. Dari yang aku baca dan tanya ke dokter, penebalan dinding rahim itu bisa normal dan bisa juga nggak, tergantung fase siklus haid dan keluhan kita. Ada yang memang wajar karena menjelang haid (nanti akan terjadi peluruhan dinding rahim saat menstruasi), tapi kalau penebalannya berlebihan, siklus mens nggak teratur, atau ada flek/spoting lama seperti aku, baru deh dokter curiga dan perlu diawasi. Aku juga sempat minta dokter jelasin bedanya contoh hasil USG rahim normal dan yang kayak punyaku. Katanya, pada USG rahim normal biasanya lapisan dinding rahim terlihat rapi, ketebalannya sesuai fase siklus, nggak ada massa menonjol yang mencurigakan. Sedangkan di punyaku waktu itu terlihat ada area yang lebih tebal dan ada kantong berisi cairan (kista). Dia tunjukin perbedaannya di monitor USG sambil jelasin pelan‑pelan, dan itu cukup bikin aku tenang karena jadi ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Masalah terbesar bukan cuma di fisik, tapi di pikiran. Aku sempat kebayang hal yang menakutkan, takut harus kuretase, takut nggak bisa hamil, dan lain‑lain. Di fase ini aku belajar untuk lebih berani nanya langsung ke dokter, bukan cuma mengandalkan Google. Setiap kontrol aku tanya: “Ini penebalannya masih normal nggak? Peluruhan dinding rahim aku pas mens itu gimana? Perlu tindakan lanjutan nggak?” Ternyata dokter malah senang kalau pasien aktif nanya. Di rumah, aku mulai lebih peka dengan tubuh sendiri. Aku catat siklus haid di aplikasi, dari tanggal datang, warna darah, banyaknya, sampai durasi. Dari situ aku pelan‑pelan bisa melihat pola: kapan tubuhku terasa nyeri, kapan spotting muncul, dan kapan haid terasa lebih lancar. Saat haid keluar dengan lebih teratur dan nyeri berkurang, aku merasa peluruhan dinding rahimku bekerja lebih baik dibanding awal aku divonis. Perubahan gaya hidup juga lumayan pengaruh. Aku mengurangi tepung‑tepungan, gorengan, dan minuman manis kemasan. Lebih sering makan sayur hijau, buah, dan minum air putih. Jalan kaki 500–1000 langkah sehari memang kedengarannya sedikit, tapi buatku itu jadi momen "me time" untuk menghirup udara segar dan menenangkan pikiran. Aku juga minum herbal sederhana buatan sendiri, seperti rebusan jahe atau serai, bukan yang aneh‑aneh, dan selalu aku konsultasikan dulu kalau lagi minum obat dokter. Yang paling kerasa adalah saat aku mulai berdamai dengan kondisi sendiri. Begitu aku berhenti menyalahkan diri sendiri dan lebih fokus ke hal yang bisa aku kontrol (makan, istirahat, dan pikiran), tubuh rasanya lebih ringan. Setiap kali kontrol dan dokter bilang kista mengecil, penebalan membaik, rasanya kayak dikasih harapan baru. Sampai akhirnya dokter bilang kista sudah bersih dan aku boleh lepas obat, di situ aku benar‑benar merasa segala usaha dan doa nggak sia‑sia. Buat kamu yang mungkin baru dapat hasil USG rahim dan membaca ada istilah penebalan dinding rahim, peluruhan dinding rahim, atau bingung apakah itu normal atau tidak, coba tenangkan dulu diri. Simpan foto hasil USG rahimmu, lalu bawa dan diskusikan dengan dokter kandungan yang kamu percaya. Minta dia jelaskan dengan bahasa yang kamu mengerti, jangan ragu untuk tanya berkali‑kali. Pengalaman setiap orang bisa beda, tapi aku percaya satu hal: semakin kamu paham kondisi tubuhmu, semakin kamu bisa kerja sama dengan dokter dan nggak tenggelam dalam kecemasan sendiri. Jaga pola hidup, jangan takut kontrol, dan yang paling penting, jangan kehilangan harapan. Setiap diagnosis itu bukan akhir, tapi titik mulai untuk merawat diri lebih baik lagi.

Lihat komentar lainnya