AN 3.29: Andha Sutta ada tiga jenis orang!!!!!
“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di dunia.”
Ia tidak memiliki kekayaan, juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa; si orang buta tanpa mata melemparkan lemparan tidak beruntung pada kedua sisi.
Orang yang digambarkan sebagai bermata satu. adalah seorang munafik yang mencari kekayaan, [kadang-kadang] dengan cara yang baik [dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.
Dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu dan dengan ucapan-ucapan dusta orang itu yang menikmati kenikmatan indria mahir dalam menimbun kekayaan. setelah pergi dari sini menuju neraka, orang bermata satu itu disiksa.
Seorang bermata dua dikatakan sebagai orang dari jenis terbaik. Kekayaannya1 diperoleh melalui usahanya sendiri, dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]
Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi Ia pergi menuju [kelahiran kembali di] alam yang baik di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.
Seseorang dari jauh harus menghindari si orang buta dan orang bermata satu, tetapi harus berteman dengan orang bermata dua, orang dari jenis terbaik.
Dalam ajaran Buddha, khususnya dalam Andha Sutta AN 3.29, penggambaran tiga jenis orang ini sangat penting untuk memahami perilaku manusia serta dampak moralnya terhadap kehidupan. Orang buta yang tidak memiliki kekayaan maupun jasa merepresentasikan mereka yang hidup tanpa tujuan positif dan tidak memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Mereka ini seperti melemparkan lemparan yang selalu tidak beruntung, yakni hidup penuh kebingungan dan ketidaktahuan. Orang bermata satu digambarkan sebagai munafik yang meskipun punya tujuan mencari kekayaan, tapi cara yang ditempuh tidak konsisten antara baik dan buruk. Mereka menggunakan tindakan mencuri, menipu, dan berbohong untuk menumpuk kenikmatan indria. Namun, akibat dari perbuatan merugikan ini mereka harus menghadapi penderitaan setelah hidup di dunia ini, bahkan dikatakan menuju neraka. Ini menegaskan bahwa perbuatan buruk membawa konsekuensi yang jelas menurut hukum karma dalam ajaran Buddha. Sementara itu, orang bermata dua adalah tipe terbaik dan ideal. Mereka memperoleh kekayaan dengan usaha sendiri dan dengan cara yang jujur. Lebih dari itu, mereka juga memiliki kehendak dan niat yang baik serta memberikan pikiran serta tindakan yang tulus kepada sesama. Akhirnya mereka menuju kelahiran kembali di alam yang lebih baik, bebas dari penderitaan. Inilah contoh kehidupan yang layak diteladani. Pesan utama dari sutta ini mengingatkan kita bahwa sifat dan cara menjalani hidup akan menentukan nasib di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan membedakan perilaku yang membawa manfaat positif, maupun yang merugikan. Menjauhi sifat buta dan bermata satu yang merusak serta menjalin persahabatan dan hubungan dengan orang bermata dua sangat dianjurkan dalam menjalani kehidupan yang bermakna. Pemahaman ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai refleksi diri, meningkatkan kesadaran atas tindakan kita, dan mengarahkan hidup pada kebaikan yang berkelanjutan. Dengan begitu kita dapat menghindari penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan yang sejati sesuai dengan ajaran Buddha.










































