3/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seorang ibu rumah tangga yang mengurus dua anak di bulan Ramadhan, saya sering menghadapi berbagai asumsi yang salah dari orang lain. Ada yang bilang, “Oh, kamu sudah nggak kerja ya, enak dong di rumah aja, ngurus anak doang, gampanglah ya.” Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Menjadi IRT bukan hanya soal berada di rumah sepanjang hari. Mengurus anak, apalagi saat Ramadhan sedang berlangsung, membutuhkan energi ekstra. Selain harus memastikan anak-anak tetap semangat dan sehat meski berpuasa, saya juga harus menjaga keseimbangan antara tugas rumah tangga dan membimbing mereka menjalani ibadah dengan lancar. Kadang, waktu untuk diri sendiri sangat terbatas karena perhatian penuh harus diberikan kepada keluarga. Ada momen ketika saya merasa lelah, namun tahu bahwa ini adalah bentuk cinta dan pengorbanan. Pengalaman ini membuat saya lebih menghargai semua ibu rumah tangga yang mungkin dianggap sebelah mata. Kejadian lucu juga sering terjadi; misalnya saat anak-anak sengaja membuat “keributan kecil” supaya saya tertawa di tengah kepenatan. Humor kecil ini jadi penyemangat untuk terus menjalani peran saya. Saya percaya, meski terlihat sederhana, perjuangan IRT sangat luar biasa dan perlu dukungan serta pengertian dari lingkungan sekitar. Jadi, bagi siapa pun yang mengira mengurus anak di rumah itu mudah, coba jalani sendiri sehari dan rasakan bagaimana perjuangannya. Pengalaman saya selama Ramadhan ini membuka mata dan hati saya bahwa setiap pekerjaan, termasuk menjadi ibu rumah tangga, pantas dihargai dan diapresiasi.