Pilih Kasih
Sebuah chat WA masuk dari nomor ibu.
[Ra, kirimin ibu uang lima ratus ribu, ya.]
[Uang yang aku kasih Minggu lalu sudah habis kah, Bu? Maaf, aku sekarang lagi nggak ada uang.]
Chat itu ku kirim, lalu tak ada satu detik, chat itu aku tarik lagi. [Iya, Bu. Bentar aku transfer dulu, ya.]
Aku mengembuskan napas berat. Uangku memang sangat menipis, belum buat makan dan bayar kos-kosan. Mana gajian juga masih lama. Tapi, aku tidak bisa menolak permintaan ibu.
[Makasih, ya, Ra. Uangnya untuk ibu berobat.]
Aku sedikit terkejut membaca pesan dari ibu. Tentu saja sebagai anak aku khawatir.
[Ibu sakit? Sakit apa? Ya udah kalau gitu hari ini aku pulang aja, Bu.]
[Nggak usah pulang. Ibu cuma sedikit demam. Lagian di sini sudah ada kakakmu dan suaminya. Mereka bisa jagain ibu, kok.]
[Ya udah kalau gitu. Semoga ibu lekas sembuh.]
Pesan terakhirku hanya dibaca tanpa dibalas. Ibu memang terkesan cuek. Tapi, aku yakin beliau sangat menyayangiku.
***
Matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Sore ini terlihat mendung.
Benar saja, rinai hujan mulai turun membasahi bumi. Sayangnya hari ini aku lupa tidak membawa payung ataupun jas hujan. Masak iya harus lari-larian menuju halte.
“Nggak pulang?”
Aku menoleh, demi menatap seseorang yang berdiri di sampingku.
“Eh, Pak Alva. Iya ini mau pulang. Nunggu bus,” jawabku sedikit gugup, sebab dia merupakan bos di kantor ini. Bos yang terkenal galak.
“Nunggu bus kok di sini?”
“Iya nunggu reda. Lupa nggak bawa payung.”
“Ini pakai aja.” Dia menyodorkan payung kepadaku.
“Nggak usah, Pak. Nanti Pak Alva gimana?”
“Pakai aja. Lagian saya nggak butuh payung,” ujarnya lalu pergi dan berjalan kembali masuk ke kantor. Meninggalkan aku yang masih bingung.
“Loh kok malah balik masuk ke dalam,” gumamku. “Bodo amatlah, harus cepat-cepat pulang.”
Aku memutuskan untuk segera berjalan menuju halte. Untung busnya datang cepat, jadi aku tidak perlu menunggu lama.
Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah menjenguk ibu. Meski beliau melarangnya, tapi karena khawatir aku tetap nekat pulang.
Hujan perlahan mereda. Aku turun dari bus, melanjutkan perjalanan naik ojol. Sebelum ojolnya datang aku membeli beberapa makanan untuk dibawa pulang. Martabak keju adalah kesukaan ibu. Pasti nanti beliau senang.
***
Aku sudah berdiri di depan pintu. Baru saja ingin mengucapkan salam. Namun, kuurungkan niat saat mendengar namaku disebut.
Aku tahu menguping tidak baik. Tapi, karena penasaran aku justru diam-diam mendengarkan percakapan ibu dan kakakku dari luar.
“Ibu udah minta uang ke Rara. Nih, semuanya buat kamu. Kalau kurang bilang aja ke ibu.”
“Makasih ya, Bu. Soalnya aku harus beli perhiasan baru untuk kondangan. Mau minta uang ke Mas Dimas, dia juga belum gajian. Kan aku malu kalau pakai perhiasan itu itu mulu. Sekali lagi makasih ya, Bu.”
“Iya, apa sih yang enggak buat kamu. Kamu kan anak kesayangan ibu,” ucap ibu dengan suara lembut, tapi justru menusuk dalam sini. Sesak.
Jadi, ibu meminta uang hanya untuk diberikan ke Kak Mela? Beliau tidak sakit? Kenapa beliau harus berbohong.
“Kok, dia mau ngasih ibu duit lagi?” tanya Kak Mela
“Dia selalu nurut sama ibu.”
“Si b*d*h itu ternyata baik juga.”
“Jangan bilang seperti itu. Seenggaknya dia berguna untuk kita.”
Aku berdiri mematung menahan sesak. Rasa panas menjalar dalam dada. Aku pikir selama ini, aku terlalu kekanak-kanakan saat menganggap ibu pilih kasih. Tapi, nyatanya selama ini beliau benar-benar pilih kasih dan hanya memanfaatkanku.
Bruk! Martabak yang aku pegang tadi tak sengaja jatuh.
“Loh, Rara? Sejak kapan kamu berdiri di sini?”
Bersambung ....
Judul: Pilih Kasih
Penulis: nashoihid19
Dalam kehidupan banyak keluarga, fenomena pilih kasih kerap menjadi topik yang menyentuh emosi. Kisah tentang Ra yang rela mengorbankan keuangan pribadinya demi membantu ibunya, ternyata berakhir dengan kekecewaan besar ketika mengetahui uang yang diberikan bukan untuk kebutuhan ibu, melainkan untuk kakaknya, merupakan gambaran nyata dari pengalaman yang tak jarang dialami oleh banyak anak. Perasaan dicurangi oleh orang terdekat seperti ibu, tentu bukan hal mudah untuk dihadapi secara mental. Dulu, Ra merasa menerima wajar perlakuan ibu yang lebih memprioritaskan kakak, meski sering mendapat barang bekas. Namun, kenyataan yang terungkap kemudian membawa luka yang dalam karena ketulusannya dimanfaatkan secara tidak adil. Situasi ini mengundang refleksi tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga. Kadang, ketidakterbukaan dapat menimbulkan salah paham dan perasaan tersakiti. Dalam kisah ini, jika ibu lebih jujur dan terbuka mengenai kondisi serta alasan kebutuhan uang, mungkin kesalahpahaman dan kekecewaan bisa diminimalkan. Selain itu, kisah ini menggambarkan sisi lain dari kasih sayang dalam keluarga, di mana cinta tidak selalu dinyatakan melalui materi. Bahkan saat ibu terlihat cuek membalas pesan, masih ada rasa sayang yang tersembunyi, meski caranya berbeda-beda. Penting bagi anak-anak untuk memahami bahwa pola kasih sayang setiap orang tua bisa berbeda dan tidak selalu sempurna. Bagi banyak orang, momen seperti yang dialami Ra dapat menjadi pelajaran penting untuk menghargai diri sendiri dan menetapkan batasan dalam hubungan keluarga yang sehat. Memprioritaskan kesejahteraan pribadi bukan berarti mengabaikan rasa hormat terhadap keluarga, melainkan sebuah proses untuk menjaga kesehatan mental dan emosional. Terakhir, kisah ini juga mengingatkan kita semua bahwa dinamika keluarga memang kompleks dan penuhi dengan tantangan yang tak selalu mudah dihadapi. Kisah nyata seperti ini membuka kesempatan bagi pembaca untuk belajar empati, memahami perspektif berbeda, dan mencari cara agar bisa menjaga harmoni sekaligus menjaga hati yang terluka.


🍋 Welcome to Lemon8! 🍋 Seneng banget lihat kamu posting! 🎉 Dapatkan tips agar konten kamu makin populer dengan follow @Lemon8Indonesia! Yuk posting lebih banyak konten lainnya! 🤩