... Baca selengkapnyaAku dulu tipe yang nggak bisa terima seadanya. Rasanya hidup itu harus selalu upgrade: kerja lebih keras, gaji harus naik, pencapaian harus banyak, biar dianggap sukses sama orang. Tapi lama-lama capek sendiri. Badan lelah, hati kosong, ibadah sering keteteran. Sampai suatu hari aku ketemu ayat padu kehidupan yang bunyinya mirip Matius 6:33, tentang mendahulukan Tuhan dulu, nanti yang lain mengikuti.
Di situ aku mulai mikir, "Selama ini aku ngejar apa, sih?" Ternyata aku terlalu ribet sama urusan dunia, padahal semua cuma sementara. Ayat ini pelan-pelan ngajarin aku buat terima seadanya. Bukan berarti berhenti berusaha, tapi belajar nerima bahwa hasil kerja nggak selalu harus sempurna. Kalau harinya lagi berat, aku nggak maksa diri sampai hancur, tapi berhenti sebentar, doa, tarik napas, lalu lanjut pelan-pelan.
Terima seadanya juga aku rasakan dalam hal finansial. Dulu kalau gaji habis sebelum tanggal tua, aku panik. Sekarang, aku lebih belajar ngatur dan bilang ke diri sendiri, "Saat ini segini dulu, Tuhan tahu kebutuhanku." Anehnya, ketika fokus ke Tuhan dan bukan ke kekhawatiran, selalu ada jalan: rezeki kecil yang cukup, bantuan yang datang tiba-tiba, atau pintu peluang yang nggak kepikiran.
Ayat padu kehidupan juga bikin aku lebih damai soal pencapaian. Kalau lihat teman sudah punya rumah, mobil, bisnis, dulu aku langsung insecure. Sekarang aku ingat, akhirat nggak nanya seberapa banyak harta, tapi seberapa dekat aku sama Tuhan dan seberapa baik aku ke sesama. Jadi kalau hari ini cuma bisa bersyukur atas hal kecil—bisa makan, masih sehat, masih punya keluarga—itu sudah cukup jadi alasan buat bahagia.
Di lapangan hijau, sambil lihat bendera merah putih berkibar, aku pernah foto sambil pose peace dan baca lagi ayat itu. Rasanya kayak ditampar, tapi sekaligus dipeluk. Tuhan seakan bilang, "Aku tahu semua kebutuhanmu, fokus saja ke Aku." Sejak itu aku mulai bikin kebiasaan kecil: sisipkan doa sebelum kerja, sempatkan ibadah meski sibuk, dan belajar bilang ke diri sendiri, "Terima seadanya, Tuhan yang lengkapi." Dan jujur, hidup memang nggak tiba-tiba jadi gampang, tapi hati jadi jauh lebih tenang.
Bener kakk, kadang kalo lagi seneng suka lupa dan lalai lagi. Padahal pas lagi susah rajin banget ibadahnya 🥹🤧