... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku mikir "cara reset otak" itu harus yang ribet banget, kayak detoks seminggu tanpa HP. Ternyata nggak juga. Justru yang ngaruh ke kesehatan mental aku itu hal-hal kecil yang bisa dilakukan tiap hari, apalagi kalau lagi kebanyakan scroll IG.
Yang pertama aku lakuin adalah reality check 3–5 menit. Biasanya setelah sadar aku udah scroll terlalu lama dan mulai ngerasa hidupku kok biasa aja, aku berhenti sebentar, taruh HP, terus tanya ke diri sendiri: "Emang tadi yang aku lihat bener-bener hidup mereka 24 jam?" Di situ aku ingetin lagi kalau yang tampil di feed itu cuma highlight, 1% hidup orang, bukan keseluruhan realita.
Lalu, aku mulai berani mute akun yang bikin mental drop. Bukan berarti benci, tapi lebih ke jaga batasan diri. Kalau tiap lihat story seseorang aku langsung ngerasa kalah, minder, atau ke-trigger, ya udah… akun itu aku mute. Sebagai gantinya, aku follow akun-akun yang edukatif, lucu, atau bikin aku ngerasa cukup sama diri sendiri. Pelan-pelan algoritma IG pun berubah, jadi lebih sehat buat otak.
Selain itu, aku ganti waktu scroll dengan "break mini". Misalnya biasanya 10 menit bengong sambil scroll explore, sekarang aku pakai buat stretching, ambil minum, beresin meja, atau cuma tarik napas dalam-dalam sambil dengerin lagu. Anehnya, hal sesimpel ini bisa bikin kepala lebih enteng daripada lihat konten yang bikin pengen punya hidup orang lain.
Aku juga mulai pasang batasan: IG itu hiburan, bukan standar hidup. Jadi aku set durasi harian di HP, plus ada jam-jam tertentu di mana aku nggak buka sosmed sama sekali, misalnya satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun. Waktu-waktu itu aku pakai buat journaling, baca sebentar, atau ngobrol sama orang rumah. Berasa banget otak lebih tenang.
Buatku, "cara reset otak" bukan soal melarikan diri dari media sosial, tapi belajar pakai IG dengan sadar. Kalau lagi ngerasa mental sakit tiap scroll, itu sinyal dari tubuh dan pikiran kalau kamu butuh balik ke realita: sentuh hal-hal di sekitarmu, ngobrol langsung, dan ingetin diri sendiri kalau kamu nggak terlambat—kamu cuma terlalu sering lihat kecepatan palsu orang lain.
Lihat komentar lainnya