Rekomendasi Baca Buku Novel
Anaknya selamat. Ia mendapat tempat tinggal. Namun aturan yang harus ia patuhi membuat darahnya membeku…
#lemon8indonesia #promosinovel #novelah #wanitakuat #bacabuku
✨✨✨
Bab 4b
Tak lama kemudian, mobil itu melambat di depan sebuah gerbang besi tempa raksasa yang menjulang tinggi, dihiasi ukiran daun kopi.
Megah. Seperti gerbang istana dalam dongeng. Seorang satpam berseragam membukanya tanpa bertanya, memberi hormat saat mobil melintas.
Dinding kaca, pilar-pilar kayu kokoh, dan taman yang tertata sempurna. Lestari menelan ludah. Kontras antara kemewahan ini dengan emperan toko tempat ia tidur beberapa malam lalu terasa begitu menyakitkan.
Ia menunduk, memandangi daster kumalnya dan sandal jepit usangnya. Ia merasa seperti noda di atas kanvas yang sempurna.
“Turun,” kata Tora saat mobil berhenti di lobi utama.
Lestari menggendong Dian yang masih tertidur lelap karena obat. Ia melangkah keluar dengan ragu. Udara pagi beraroma bunga dan tanah basah, bercampur dengan wangi kopi yang samar-samar.
“Bu Sumi sudah cerita semuanya,” kata Tora, memecah keheningan. Ia menatap Lestari lekat-lekat, tatapannya tajam, seolah sedang menilai setiap inci dari dirinya. “Tentang suamimu. Tentang kau di jalanan. Tentang keahlian menjahitmu.”
Lestari hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Anakmu butuh tempat yang layak untuk pulih. Kau butuh pekerjaan.”
“Saya… saya bisa kerja apa saja, Pak. Cuci piring, bersih-bersih… Apa pun akan saya kerjakan untuk bayar utang budi saya pada Bapak.”
Tora menggeleng pelan. “Aku tidak butuh tukang cuci piring. Aku butuh pengasuh.”
Lestari membeku. “Pengasuh?”
“Untuk anakku, Lintang. Usianya tujuh tahun.” Tora berhenti sejenak, matanya menerawang ke arah vila yang hening. “Dia… berbeda. Dia butuh seseorang yang sabar. Seseorang yang mengerti apa itu luka.”
Kata-kata itu menusuk Lestari. Ia menatap wajah pria di depannya. Di balik sikap dingin itu, ia bisa melihat jejak kesepian yang dalam.
“Tapi, Pak, saya tidak punya pengalaman. Saya bukan pengasuh profesional. Saya hanya…”
“Kau seorang ibu,” potong Tora cepat. “Dan anakmu terlihat sangat mencintaimu. Itu lebih dari cukup.”
Sebuah martabat yang telah lama hilang tiba-tiba terasa kembali. Ia bukan lagi gelandangan yang meminta belas kasihan. Ia adalah seorang ibu. Keahliannya yang paling berharga akhirnya diakui.
“Ini bukan amal, Lestari. Ini kesepakatan. Aku memberimu tempat berlindung, kau memberiku waktumu untuk Lintang. Adil.”
Lestari menatap Dian yang tidur damai di pelukannya. Wajah pucat itu adalah satu-satunya alasan ia bertahan. Ini adalah sebuah keajaiban. Sebuah jalan keluar yang tidak pernah berani ia mimpikan. Air matanya menggenang.
“Saya… saya terima, Pak. Terima kasih. Terima kasih banyak.”
“Bagus.” Tora mengangguk singkat, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis. “Mari, akan kutunjukkan kamarmu. Setelah itu, kau bisa bertemu Lintang.”
Lestari mengikuti langkah Tora yang lebar memasuki vila. Interiornya lebih menakjubkan dari luarnya.
Lantai marmer dingin, perabotan minimalis yang mahal, dan sebuah tangga melingkar yang megah. Semuanya terasa begitu besar, begitu kosong, begitu sunyi.
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang senyap. Setiap langkah Lestari terasa berat. Bisakah ia hidup di sini? Di dunia yang begitu berbeda dari dunianya?
Tora berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang tinggi.
“Ada satu peraturan mutlak di rumah ini,” katanya tanpa menoleh, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin, lebih tajam.
“Satu hal yang tidak boleh pernah kau langgar.”
Lestari menahan napas.
“Jangan pernah bertanya tentang ibunya Lintang. Jangan pernah menyebut namanya. Amelia. Jika kau melakukannya, saat itu juga kau dan anakmu kuusir dari sini. Mengerti?”
✨✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansue




























