Rekomendasi Baca Buku Novel
“Kalian cuma beban. Aku bisa mulai hidup baru tanpa kalian.”
Lestari menunduk, menelan luka itu, sambil berkata dalam hati: “Baik. Anggap saja kami beban. Tapi ingat, ketika kamu sadar siapa yang benar-benar pernah berdiri di sampingmu, saat itu sudah terlambat.”
✨✨✨
Bab: 1b
Pria yang dulu melamarnya dengan janji-janji setinggi langit. Tapi malam ini, di tengah deru hujan menatapnya kosong penuh kebencian, ia tidak melihat apa-apa lagi. Harapan terakhirnya padam, seperti lilin yang ditiup angin badai.
“Ayah… jangan marah sama Ibu,” cicit Dian dari belakang. Suara kecil itu berhasil menembus kebisingan.
Dirga menoleh pada Dian. Untuk sesaat, rahangnya yang tegang sedikit mengendur.
Tapi kemudian, kekosongan di matanya kembali. Ia sudah terlalu jauh tenggelam dalam jurang yang ia gali sendiri.
Anaknya bukan lagi sumber cinta, melainkan pengingat lain dari kegagalannya.
“Diam kamu, anak kecil!” geramnya, meski suaranya sedikit goyah. “Ini semua bukan urusanmu.” Lestari menatap suaminya. Sorotnya berubah. Bukan lagi pasrah, bukan lagi penuh ketakutan.
Ada sesuatu yang retak, patah, dan kemudian berubah menjadi ketegasan yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
Rasa sakit karena pengkhianatan itu begitu hebat, hingga ia tidak merasakan apa-apa lagi. Kosong. Yang tersisa hanyalah satu insting seorang ibu yang membara: melindungi anaknya.
Ia tidak lagi menangis.
Wajahnya yang basah oleh air mata kini mengeras. Ia berbalik, berjongkok di depan Dian, dan memegang kedua bahu mungil itu.
“Dian, dengarkan Ibu,” katanya dengan suara yang anehnya terdengar tenang dan kuat. “Kita akan pergi sebentar, ya? Kita akan cari tempat yang lebih hangat.”
“Tapi ini rumah kita, Bu,” kata Dian, matanya masih terpaku pada sosok ayahnya yang berdiri seperti monster di ambang pintu.
“Rumah adalah tempat kita merasa aman, Sayang,” bisik Lestari, matanya tak lepas dari Dian.
Ia mengabaikan Dirga sepenuhnya, seolah pria itu hanyalah perabot rusak yang tak lagi berguna.
“Ayo.”
Ia berdiri, menggandeng tangan Dian yang dingin.
Ia berjalan melewati Dirga tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya mantap, punggungnya tegak.
Dalam ketegaran itu, tampak jelas sisi dirinya yang sesungguhnya—bukan lagi perempuan lemah yang selalu menahan luka, tapi seorang ibu yang siap menghadapi dunia.
Ia tidak lagi peduli pada rumah kontrakan yang pengap itu, pada mesin jahit tuanya, atau pada sisa-sisa kehidupan yang ia coba pertahankan mati-matian.
Saat ia membungkuk untuk mengambil ransel yang basah kuyup di tengah genangan lumpur, Dirga berbicara lagi dari belakangnya.
Kali ini suaranya lebih rendah, penuh racun penyesalan yang terdistorsi menjadi kebencian.
“Pergi sana. Kalian cuma beban. Aku bisa mulai hidup baru tanpa kalian.”
Lestari berhenti sejenak, tangannya mencengkeram tali ransel dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak berbalik. Ia tidak akan memberi pria itu kepuasan melihat kehancurannya.
Ia menegakkan tubuhnya, menyampirkan ransel di satu bahu, dan menarik tangan Dian lebih erat.
Hujan mengguyur mereka tanpa ampun, membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik. Dinginnya menembus sampai ke tulang.
“Ibu, dingin…” rintih Dian, tubuhnya mulai menggigil. Lestari menarik napas dalam-dalam.
Udara malam yang basah terasa menyesakkan paru-parunya. Ia menatap jalanan gelap di depannya yang hanya diterangi seberkas cahaya remang dari tiang listrik di kejauhan.
Tidak ada tujuan. Tidak ada tempat berlindung. Hanya ada malam, hujan, dan seorang anak kecil yang gemetar di genggamannya.
Di belakangnya, pintu dibanting dengan keras. Suara kunci diputar terdengar final, mengunci mereka di luar selamanya.
“Dian,” bisik Lestari, suaranya mantap di tengah deru angin. “Pegang tangan Ibu erat-erat.”
✨✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Goodnovel.
Berjudul : Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati
By. Dakuromansu
#lemon8indonesia #promosinovel #goodnovelindonesia #dramarumahtangga #lukahati
Dalam membaca novel seperti "Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati," saya menyadari betapa kuatnya karakter Lestari yang mewakili banyak perempuan yang pernah menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga yang pahit. Kisah tentang seorang ibu yang dikhianati dan berjuang untuk anaknya ini bukan hanya mengaduk emosi, tetapi juga mengangkat tema ketegaran dan harapan di tengah terpaan masalah. Sering kali, kita terlalu fokus pada kisah cinta yang bahagia, sehingga lupa ada banyak cerita yang justru lebih realistis dan menyentuh hati, seperti pengkhianatan dan perjuangan membangun kembali kehidupan. Cerita Lestari mengingatkan saya pada pengalaman teman saya yang pernah mengalami perceraian sulit. Ia juga harus berhadapan dengan rasa sakit hati dan stigma sosial, namun demi anak-anak, ia menemukan kekuatan untuk bangkit dan memulai hidup baru. Novel ini juga mengajarkan nilai penting tentang arti rumah sebagai tempat yang aman dan penuh cinta, bukan sekadar bangunan fisik. Ketika Lestari menggandeng tangan anaknya dan meninggalkan rumah kontrakan yang penuh kenangan pahit, itu menggambarkan bahwa keberanian untuk meninggalkan masa lalu demi kehidupan yang lebih baik adalah bentuk cinta terbesar seorang ibu. Dari sisi pembaca, saya merasakan bagaimana narasi yang dibangun melalui dialog dan deskripsi suasana hujan malam itu sangat kuat membangun atmosfer. Rasanya seperti ikut merasakan dinginnya hujan dan kegelisahan Lestari. Ini membuat novel tersebut bukan hanya sekedar bacaan ringan, tetapi pengalaman emosional yang memberikan wawasan baru tentang pentingnya keteguhan hati. Bagi yang mencari bacaan novel drama keluarga dengan unsur psikologis yang mendalam, cerita ini sangat cocok untuk menambah koleksi bacaan Anda. Membaca kisah seperti ini bisa membantu kita lebih peka dan memahami situasi sulit yang dialami orang lain, serta memberi inspirasi bahwa dalam keterpurukan, selalu ada jalan untuk bangkit dan berjuang.

