Rekomendasi Baca Buku Novel
eHari keenam di jalanan. Lestari menukar keterampilan menjahitnya hanya demi sedikit makanan. Lalu seorang pria asing mendekat…
✨✨✨
Bab 2b
Hari kelima adalah neraka. Demam Dian semakin tinggi. Ia meracau dalam tidurnya, memanggil ayahnya.
Lestari hanya bisa menangis dalam diam, air matanya jatuh ke rambut Dian yang lengket oleh keringat. Uang mereka hanya tersisa lima ribu rupiah. Cukup untuk sebotol air dan sebungkus roti.
“Bu… dingin…” keluh Dian, matanya setengah terpejam. Padahal tubuhnya sepanas bara.
“Iya, Sayang. Sebentar lagi hangat.” Lestari membungkusnya lebih rapat dengan selimut tipis.
Ia tahu, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harga dirinya, rasa malunya, semua harus ia buang jauh-jauh. Anaknya sekarat.
Pagi hari keenam, Lestari menggendong Dian yang lemas di punggungnya. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan putus asa.
Setiap orang yang ia lewati terasa seperti hakim. Ia mencoba meminta-minta, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa.
Lalu ia melihatnya. Di sudut perempatan, seorang pengamen muda sedang memetik gitar bututnya. Suaranya sumbang, tetapi penuh semangat.
Yang menarik perhatian Lestari adalah kemeja flanelnya yang sobek di bagian lengan. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Di dalam ranselnya, di antara baju-baju Dian, ada satu set alat jahit kecil yang selalu ia bawa.
Ia mendekat perlahan, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti pencuri. “Permisi, Mas.”
Pengamen itu berhenti bernyanyi, menatapnya dengan curiga. “Apa?”
“Maaf mengganggu… Itu… kemeja Mas sobek.”
Pria itu melirik lengannya. “Terus kenapa? Mau kasih duit? Sini.”
Lestari menggeleng cepat. “Bukan, Mas. Saya… saya bisa menjahit. Saya bisa perbaiki.”
Alis pengamen itu terangkat. “Oh ya? Berapa bayarannya? Aku tidak punya uang.”
“Bukan uang, Mas,” kata Lestari, suaranya bergetar. Ia menunjuk bungkusan nasi di samping kotak gitar pria itu.
“Saya cuma minta… sedikit nasi itu. Untuk anak saya. Dia sakit.”
Pengamen itu menatap Dian yang terkulai lemas di punggung Lestari. Wajahnya yang semula keras sedikit melunak. Ia mengamati Lestari dari atas ke bawah. Perempuan putus asa dengan mata memohon.
“Kamu serius bisa jahit?”
“Bisa, Mas. Saya jamin rapi. Seperti baru.”
Pengamen itu berpikir sejenak, lalu mengedikkan bahu. “Oke. Buka bajuku sekarang?”
“Tidak perlu, Mas. Jahit dari luar saja bisa.”
“Ya sudah, kerjakan.”
Lestari menurunkan Dian dengan hati-hati, menyandarkannya ke dinding. “Dian, tunggu sebentar ya, Nak. Ibu kerja dulu.”
Ia mengeluarkan jarum dan benang dari ranselnya. Tangannya sedikit gemetar, tetapi instingnya mengambil alih.
Jarinya bergerak dengan lincah dan cepat, menyatukan kembali kain yang robek dengan jahitan yang rapi dan kuat.
Orang-orang yang lewat melirik sekilas, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Di dunia yang sibuk ini, penderitaannya hanyalah sebuah pertunjukan kecil yang tidak menarik.
Saat ia sedang fokus pada jahitan terakhir, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari. Lestari tidak mengangkat kepalanya, mengira itu hanya pejalan kaki yang berhenti sejenak.
“Sendirian aja, Mbak?”
Suara itu berat dan serak. Terlalu dekat.
Lestari membeku. Jarum di tangannya berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Seorang pria bertubuh besar dengan senyum menyeringai menatapnya lekat-lekat.
Matanya liar, menjelajahi tubuh Lestari dari atas ke bawah, sebelum akhirnya berhenti pada Dian yang terbaring lemah.
“Anaknya sakit, ya?” bisik pria itu, nadanya pura-pura prihatin. “Kasihan. Perlu bantuan, mungkin?”
“Bantuan apa, Mas?” Suara Lestari bergetar, lebih karena dingin daripada keberanian. Ia menarik tubuh Dian yang terkulai di punggungnya lebih dekat, sementara jemarinya yang lain masih memegang jarum.
✨✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Goodnovel.
Berjudul : Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati
By. Dakuromansu
#bacabuku #promosinovel #goodnovelindonesia #dramarumahtangga #kisahlestari
Dalam kehidupan nyata, pengalaman seperti yang dialami Lestari sering kali terjadi di sekitar kita. Saya pernah mengenal seorang wanita yang juga harus mengorbankan banyak hal demi keluarganya, seperti menjual keterampilannya untuk mendapatkan sesuatu yang bisa menyelamatkan Sang Anak. Membawa alat jahit kecil dalam tasnya, seperti Lestari, ternyata bisa menjadi sumber harapan yang tidak terduga. Keberanian untuk mengubah suatu hal kecil seperti pakaian robek menjadi kesempatan untuk memperoleh kebutuhan dasar sangat menginspirasi. Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana solidaritas dan saling percaya antara orang asing, yang awalnya curiga, berakhir dengan membantu satu sama lain dalam situasi sulit. Cerita ini mengingatkan pentingnya empati dan sikap tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit dari kita yang mungkin merasa malu untuk meminta bantuan, namun terkadang kita juga bisa memberikan bantuan dengan cara yang tak terduga, seperti berbagi makanan atau jasa sederhana. Sebagai pembaca, saya sarankan kalian meluangkan waktu membaca novel ini di Goodnovel, karena ceritanya tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membuka mata kita akan realitas hidup yang keras dan perjuangan seorang ibu demi anaknya. Proses jahit yang disebutkan dalam cerita bukan hanya soal memperbaiki pakaian, tapi juga simbol sebuah perjuangan yang tidak mudah dan penuh ketegaran. Jika kalian punya keahlian atau keterampilan unik, manfaatkanlah untuk membantu diri sendiri dan orang lain, karena seperti kisah Lestari, itu bisa menjadi sumber kekuatan di waktu sulit. Selalu ingat, dibalik setiap kisah di novel ini ada pelajaran berharga tentang keberanian, pengorbanan, dan harapan. Cerita seperti ini paling baik untuk memberikan kita inspirasi serta motivasi dalam menghadapi tantangan hidup pribadi.

sayang cuma sepenggal cerita.aku suka ceritanya menarik.perjuangan wanita tegar.