Rekomendasi Baca Buku Good Novel
Ibu Tora tidak menjerit. Tidak marah. Tapi satu kalimatnya… lebih kejam dari apa pun.
#lemon8indonesia #promosinovel #goodnovel #bacabuku #kisahlestari
✨✨✨
Bab acak
Mereka berjalan menyusuri koridor pengadilan yang ramai. Untuk pertama kalinya, masa depan terasa seperti kanvas putih, bukan lagi jalan buntu yang gelap. Ia bisa memulai lagi. Ia dan Dian. Bersama Tora dan Lintang.
Saat mereka mendekati pintu keluar utama yang besar, langkah Tora tiba-tiba melambat. Ia berhenti. Lestari ikut berhenti, menatapnya dengan bingung.
“Kenapa, Tora?”
Tora tidak menjawab. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri membelakangi mereka di depan pilar besar, menatap keluar jendela ke arah taman. Sosok wanita anggun dengan sanggul rapi dan setelan mahal berwarna gelap.
Jantung Lestari mencelos. Ibu Tora.
Wanita itu seolah merasakan kehadiran mereka. Ia berbalik perlahan. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya sedingin es. Ia tidak menatap Tora. Tatapannya terkunci lurus pada Lestari.
Tora melangkah maju, menempatkan dirinya sedikit di depan Lestari. “Ibu. Sedang apa di sini?”
Wanita itu mengabaikan putranya. Ia berjalan mendekat dengan langkah mantap, berhenti hanya beberapa jengkal di depan mereka. Matanya meneliti Lestari dari atas ke bawah, seolah menilai barang dagangan.
“Jadi, urusan hukummu sudah selesai,” desisnya, suaranya pelan namun menusuk. “Sekarang, giliran urusan keluarga.”
“Sekarang, giliran urusan keluarga.”
Kata-kata itu, diucapkan dengan nada dingin tanpa emosi, terasa lebih memenjarakan daripada dinding pengadilan mana pun.
Lestari, yang baru saja merasakan kebebasan, kembali terperangkap. Tora mengembuskan napas perlahan, amarah yang tertahan membuat bahunya menegang.
“Ibu. Kita tidak akan membahas ini di sini,” kata Tora, suaranya rendah dan tegas.
“Oh, tentu saja tidak,” sahut ibunya, matanya yang tajam masih terkunci pada Lestari. “Kita akan membahasnya di rumah. Di tempat di mana kamu sudah mencoreng nama baik keluarga kita.”
Wanita itu berbalik tanpa menunggu jawaban, berjalan menuju mobilnya seolah sudah yakin Tora akan mengikutinya.
Perjalanan kembali ke vila terasa seperti perjalanan menuju eksekusi. Tak ada yang bicara. Lestari duduk di samping Tora, menatap lurus ke depan, merasakan tatapan Riana yang duduk di kursi belakang menusuk punggungnya melalui spion.
Kelegaan atas kemenangan di pengadilan menguap tak bersisa, digantikan oleh asam lambung yang naik ke kerongkongan.
Setibanya di vila, Ibu Tora langsung melangkah masuk seolah ia adalah pemilik tunggal tempat itu. Ia berhenti di tengah ruang tamu yang megah, meletakkan tas tangannya di atas meja kopi dengan bunyi yang keras dan final.
“Duduk,” perintahnya, bukan pada Tora, melainkan pada Lestari.
Lestari ragu-ragu. Tora menahan lengannya. “Kamu tidak perlu melakukan ini.”
“Tidak apa-apa,” bisik Lestari. Ia butuh ini selesai. Apa pun hasilnya.
Ia duduk di sofa tunggal, merasa seperti terdakwa yang kembali diadili. Tora duduk di lengan sofa di sampingnya, posisi tubuhnya protektif. Ibunya dan Riana mengambil tempat di seberang mereka, menciptakan formasi interogasi.
“Jadi, preman itu sudah masuk penjara,” mulai Ibu Tora, nadanya meremehkan. “Masalahmu sudah selesai. Sekarang, kapan kamu akan pergi dari sini?”
Pertanyaannya begitu langsung, begitu brutal. Lestari hanya bisa menunduk.
“Dia tidak akan ke mana-mana, Bu,” sahut Tora, suaranya sedingin es.
“Oh, ya?” Riana menyeringai sinis. “Jadi benar gosipnya? Mas mau menikahi pembantu ini? “Mas sudah siap nama Wijaya jadi lelucon di seluruh komunitas sosialita?”
“Jaga bicaramu, Riana!” bentak Tora.
“Kenapa? Aku cuma bilang kebenaran!” balas Riana, suaranya meninggi. “Perempuan ini tidak punya apa-apa! Dia datang ke sini dengan baju lusuh dan anak yang sakit. Sekarang dia mau jadi Nyonya Wijaya? Mimpi apa dia semalam?”
“CUKUP!”
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Goodnovel.
Berjudul : Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati
By. Dakuromansu
























