Rekomendasi Baca Buku Di Hinovel
"Ia Berlutut Memohon Demi Ayahnya, Tapi Malah Dituduh Sedang Bermain Drama!"
✨✨✨
Bab 2
Pak Wahyu tidak bergerak. Matanya yang tajam tetap terpaku pada Indriyani yang bersimpuh di lantai. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada kehangatan. Hanya keheningan yang mematikan.
"Operasinya harus segera, Pak," Indriyani hampir menjerit, putus asa. "Dokter bilang, setiap jam itu penting. Kalau terlambat... Ayah saya..."
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Bayangan terburuk melintas di benaknya, membuat napasnya tercekat.
"Saya tidak akan ingkar janji, Pak. Saya bersumpah," Indriyani mengulang janjinya, suaranya mengeras karena tekad. "Saya akan menjadi milik Bapak seumur hidup. Saya tidak akan pernah pergi."
Ia menatap Pak Wahyu, mencari secercah harapan di mata pria itu. Mencari tanda-tanda bahwa permohonannya didengar, bahwa penderitaannya dilihat.
Namun, Pak Wahyu justru menyandarkan punggungnya ke kursi mahoni yang empuk. Ekspresinya sedikit berubah, menjadi sesuatu yang terlihat... bosan.
Sebuah desahan halus keluar dari bibirnya, seolah mendengarkan keluh kesah Indriyani ini hanya membuang waktunya yang berharga.
Pak Wahyu bersandar lebih dalam ke kursinya, matanya yang tajam tetap menatap Indriyani yang masih bersimpuh. Keheningan itu memanjang, berat, sebelum akhirnya pecah oleh suaranya.
"Sudah selesai dramanya?" tanyanya, nada suaranya datar, tanpa emosi sama sekali. "Kalau sudah, saya jelaskan duduk perkaranya."
Indriyani hanya bisa menatapnya, air mata masih mengalir, bibirnya bergetar. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ini bukan drama, ini adalah nyawa ayahnya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekat, seolah ada batu besar yang menyumbat.
"Begini, Nona Indriyani," Pak Wahyu melanjutkan, suaranya sedikit meninggi, lebih karena otoritas daripada kemarahan.
Ia menghela napas, seolah ini adalah pelajaran yang harus ia ulang untuk anak kecil. "Saya mengerti kekhawatiran Anda. Setiap orang akan khawatir jika orang tuanya sakit. Itu wajar."
Ia berhenti sejenak, seolah memberi Indriyani kesempatan untuk merasa lega, padahal tidak ada sedikit pun kelegaan yang ia rasakan. Justru, setiap kata-katanya terasa seperti sayatan.
"Namun, ada batasan tanggung jawab," katanya, setiap kata terucap jelas dan tajam, seperti pisau dingin.
"Perusahaan kami, PT Riswanto Jaya, punya standar operasional prosedur yang sangat ketat. Kami menyediakan alat pelindung diri, kami memberikan briefing keselamatan setiap pagi. Kami sudah ingatkan berulang kali: lereng itu memang curam, apalagi setelah hujan. Sangat licin."
Pak Wahyu mengambil sebuah pena dari mejanya, memainkannya di antara jemarinya yang gemuk. Gerakan kecil itu terasa seperti cambuk bagi Indriyani.
"Pak Waluyo adalah pekerja senior. Beliau tahu betul risiko bekerja di sana," lanjutnya, tanpa jeda, tanpa sedikitpun nada penyesalan.
"Perusahaan tidak bisa bertanggung jawab atas kelalaian individu. Beliau tahu jalurnya licin, tapi tetap memaksakan diri. Itu... kecerobohan, Nona. Murni kecerobohan pribadi. Perusahaan tidak bisa menanggung akibat dari pilihan pribadi."
Indriyani merasakan darahnya mendidih. Sebuah amarah yang asing, belum pernah ia rasakan sebelumnya, membakar ulu hatinya.
"Tapi, Pak..." bisiknya, suaranya tercekat. Ia mencoba bangkit sedikit, tapi kakinya terlalu lemas, hatinya terlalu sakit.
✨✨ Menurutmu, apa yang akan Indriyani lakukan setelah dianggap hanya 'drama'? Apakah dia akan diam, atau balik menyerang?"✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Hinovel.
Berjudul : Dokter, Aku Hanya Gadis Desa
By. Dakuromansu



















