... Baca selengkapnyaAku dulu termasuk yang jarang banget nulis surat tulis tangan. Kebanyakan pakai chat, DM, atau voice note. Tapi sejak punya anak dan lihat sendiri bagaimana dia menulis surat kecil buatku, pandanganku soal surat tulis tangan benar-benar berubah.
Surat dari anakku waktu itu sederhana banget. Ditulis di kertas bergaris, tulisannya masih belum rapi, beberapa kata salah eja, tapi justru di situ letak kerennya. Dia nulis soal ulang tahunnya tanggal 29, minta maaf kalau selama ini pernah nakal, dan bilang ingin memeluk. Bacanya pelan-pelan sambil senyum-senyum sendiri, lalu berakhir dengan mewek juga.
Buat yang pengin mulai kebiasaan surat tulis tangan dengan anak, keluarga, atau pasangan, ini beberapa hal yang aku pelajari dari pengalamanku:
1. Mulai dari momen sederhana
Nggak perlu nunggu hari besar. Bisa mulai dari momen Ramadan, ulang tahun, kelulusan, atau bahkan sekadar ucapan terima kasih setelah dibantu sesuatu. Kayak anakku yang dari awal bulan sudah bilang, "Bu, besok aku 29 ulang tahun", akhirnya aku ajak dia menuliskan perasaannya di surat. Momen kecil yang ternyata jadi kenangan besar.
2. Sediakan alat tulis yang bikin semangat
Ternyata anak lebih semangat nulis kalau pakai pulpen warna-warni atau pensil favorit. Aku cuma siapin kertas bergaris biasa, tapi kupersilakan dia menghias sesuka hati. Dia gambar hati kecil, emotikon senyum, dan itu bikin suratnya makin hidup.
3. Jangan fokus ke bagus atau tidaknya tulisan
Awal-awal aku sempat refleks mengoreksi tulisannya. Tapi lalu sadar, yang penting adalah keberanian dan ketulusan dia menulis, bukan kerapihan huruf. Sekarang kalau dia nulis surat, aku lebih banyak memuji usahanya dan bilang, "Ibu seneng banget kamu mau nulis sampai selesai."
4. Simpan surat-surat penting di satu tempat
Surat seperti ini gampang hilang kalau cuma diselipkan di meja atau lemari. Aku akhirnya bikin satu kotak khusus "memori", tempat kumpulan surat tulis tangan, gambar, dan catatan kecil dari anak. Rasanya menyenangkan banget setiap sesekali dibuka lagi dan baca ulang.
5. Balas dengan surat juga
Ternyata, waktu aku balas dengan surat tulis tangan, reaksi anakku seneng banget. Dia baca pelan-pelan, terus nanya arti beberapa kata. Dari situ malah sekalian melatih dia baca dan memahami perasaan orang lain. Surat tulis tangan bisa jadi cara komunikasi dua arah yang hangat.
Menurutku, di zaman serba digital ini, surat tulis tangan seperti ini jadi terasa makin spesial. Setiap huruf butuh waktu, ada tenaga yang dikeluarkan, dan itu membuat isi surat terasa lebih tulus. Kalau kamu masih punya orang yang sayang, coba sekali-kali kirim surat tulis tangan. Entah untuk orang tua, pasangan, atau bahkan untuk diri sendiri di masa depan.
Siapa tahu, seperti aku, kamu juga bakal merasa: selembar kertas bergaris dengan tulisan sederhana ternyata bisa jadi salah satu harta paling berharga di rumah.