Kalau dapat DM atau komen kaya gini, gak pernah marah. Tapi lebih ke kasian ke anaknya kalau mereka2 ini beneran punya anak 🥲
Sebagai orang tua atau pengasuh, saya juga pernah merasa sedih ketika melihat komentar negatif yang menyebut anak-anak sebagai "nakal" atau sulit diatur. Dari pengalaman saya, penting sekali untuk memahami bahwa anak-anak sebenarnya sedang belajar mengelola emosi mereka yang masih berkembang, bukan sengaja berperilaku buruk. Saya menerapkan metode Montessori di rumah, yang menekankan pentingnya memberi kebebasan dan tanggung jawab sesuai usia anak. Melalui pendekatan ini, anak-anak diajak untuk mengenali perasaan mereka dan belajar mengatasinya secara mandiri dalam lingkungan yang mendukung. Ini mengurangi frustasi dan kemarahan yang sering muncul di antara orang tua dan anak. Misalnya, ketika anak saya mulai tantrum, saya mencoba tetap tenang dan membantu mereka mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, bukan dengan berteriak atau menangis. Saya percaya stigma "anak nakal" justru membebani anak dan memperburuk hubungan emosional. Orang dewasa juga harus menjadi contoh dalam mengelola emosi, karena anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, menghindari komentar kasar dan menggantikannya dengan pengertian dapat menciptakan suasana keluarga yang lebih harmonis. Selain itu, penggunaan hashtag seperti #parenting, #montessori, dan #montessoriathome sangat membantu saya mendapatkan tips dan komunitas yang suportif dalam membesarkan anak dengan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang. Jadi, jika kamu mengalami hal serupa, cobalah untuk selalu ingat bahwa tidak ada anak yang 'nakal', melainkan mereka masih belajar bagaimana menjadi versi terbaik dari diri mereka.
