BENARKAH ALLAH DI MANA-MANA? SEBUAH RENUNGAN DARI PERISTIWA MI’RAJ

📡 Simak poster selengkapnya:

https://www.instagram.com/p/DTksqhuEicO/

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan renungan akidah yang sangat agung. Allah ﷻ memperjalankan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian menaikkannya menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat secara langsung. Allah ﷻ berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isrā' [17]: 1).

Makna Mi’raj sebagai “naik” menjadi dalil yang jelas bahwa Allah ﷻ berada di tempat yang Maha Tinggi, di atas seluruh makhluk-Nya. Allah ﷻ berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

“(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) bersemayam di atas ʻArsy.” (QS Ṭāhā [20]: 5).

Seandainya Allah berada di mana-mana secara zat, niscaya Nabi ﷺ tidak perlu diangkat ke atas langit untuk bermunajat kepada-Nya. Akidah ini telah diyakini oleh para salaf dan ditegaskan oleh para imam, di antaranya Imam Syafi‘i rahimahullah, yang menyatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, sementara ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Imam Syafi'i berkata, "Sesungguhnya Allah berada di atas 'Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki." (Al-'Uluw lil 'Aliyyil Ghafar: 120).

Oleh karena itu, marilah kita meluruskan akidah dengan memahami nash secara benar, mengagungkan Allah sesuai dengan keagungan-Nya, serta memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atas tauhid yang murni hingga akhir hayat. Āmīn.

Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.

___

♻️ Silahkan disebarluaskan

1/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, namun menyimpan makna yang sangat dalam bagi penguatan akidah seorang Muslim. Berdasarkan pengalaman pribadi saya dalam mendalami kajian Islam, pemahaman tentang posisi Allah sangat menentukan bagaimana kita memandang hubungan antara Sang Khaliq dan makhluk-Nya. Seringkali dalam diskusi keagamaan, muncul kesalahpahaman bahwa Allah ada 'di mana-mana' secara harfiah, yang bisa mengarah pada kesimpulan bahwa Allah menyebar zat-Nya di seluruh alam semesta. Namun, berdasarkan dalil dalam QS Al-Isrā’ [17]:1 dan QS Ṭāhā [20]:5, serta penjelasan para ulama seperti Imam Syafi’i, justru Allah bersemayam di atas ‘Arsy, menunjukkan tingginya kedudukan-Nya. Dari pengalaman saya mengikuti ceramah dan membandingkan berbagai pendapat ulama salaf, konsep Allah Maha Tinggi ini sangat penting agar kita tetap menjaga keagungan dan kemuliaan Allah. Kedekatan Allah dengan makhluk bukan berarti secara tempat, melainkan melalui ilmu dan rahmat-Nya yang meliputi seluruh ciptaan. Ini juga mempertegas bahwa Nabi Muhammad ﷺ diangkat ke langit bukan tanpa alasan, tetapi untuk memperkuat keyakinan kita akan posisi Allah yang mulia. Selain itu, penghayatan mendalam tentang Mi’raj mengajak kita memahami bahwa ibadah shalat yang diperintahkan melalui peristiwa ini adalah bentuk hubungan spiritual yang khusyuk, bukan sekedar komunikasi biasa. Hal ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai dan menghayati posisi Allah sebagai Dzat yang Maha Agung dan transenden, namun juga Maha Dekat kepada kita sesuai kehendak-Nya. Dengan pemahaman ini, saya merasa lebih mantap dalam menjalankan ibadah dan mengusung tauhid murni, serta menghindari pemahaman yang menyamakan Allah dengan makhluk. Semoga kita semua bisa terus menguatkan akidah dan meningkatkan ketakwaan melalui pengkajian yang benar tentang hakikat Allah yang Maha Tinggi dan Maha Dekat tanpa mengurangi keagungan-Nya.