Flexing?🤔
Pernah denger istilah flexing? Ternyata banyak dikaitkan dengan penyakit mental… Kalo belum paham simak disini yuk, Ma!✨
#popmama #millenialmama #flexing #mentalhealth #mentalhealthmatters
Kalau dengar kata gaul untuk pamer ala sultan, yang langsung kepikiran pasti: flexing. Di media sosial, flexing ini bentuknya macam‑macam. Ada yang pamer liburan mewah, belanja di mall pakai tas branded, sampai struk belanja jutaan rupiah sengaja difoto dan di‑upload. Dulu aku juga sempat mikir, “Ah, itu cuma gaya hidup mereka aja.” Tapi makin ke sini, makin kelihatan kalau budaya pamer ini bisa ngaruh banget ke kesehatan mental, baik pelaku maupun orang yang lihat. Secara sederhana, flexing adalah tindakan memamerkan atau menyombongkan sesuatu yang kita punya ke khalayak umum. Bisa harta, prestasi, pasangan, sampai gaya hidup sehari‑hari. Di satu sisi, menurut beberapa psikolog, pamer itu wajar kalau tujuannya untuk memotivasi diri, misalnya share pencapaian biar makin semangat. Tapi jadi bahaya kalau flexing dipakai untuk menutupi rasa insecure, kesepian, atau cemburu sama kehidupan orang lain. Dari pengalamanku scroll medsos, sering banget lihat orang yang kelihatan hidupnya serba “sultan”. Awalnya jadi termotivasi, tapi kalau lagi capek atau lagi ngerasa kurang, kadang malah jadi bandingin diri sendiri. Lama‑lama bisa muncul rasa minder, overthinking, bahkan stres karena merasa ketinggalan jauh. Ternyata hal kayak gini nggak sepele, lho. Beberapa sumber kesehatan mental menyebutkan kalau tekanan sosial dari budaya pamer bisa memicu kecemasan, depresi, sampai gangguan kepribadian tertentu pada orang yang memang sudah punya kerentanan sebelumnya. Di sisi lain, orang yang suka flexing juga belum tentu benar‑benar bahagia. Ada yang pamer karena butuh pengakuan, ingin dianggap sukses, atau sekadar menjaga citra. Kalau likes dan komentarnya turun, mereka bisa ikutan cemas dan merasa nggak berharga. Ini yang bikin flexing kadang jadi lingkaran nggak sehat: makin insecure, makin sering pamer, makin butuh validasi. Sebagai orang tua atau calon orang tua, menurutku penting banget buat peka sama budaya ini. Anak dan remaja sekarang tumbuh dengan kata gaul seperti flexing, sultan, dan sejenisnya. Kita perlu ajak ngobrol pelan‑pelan tentang bedain mana sharing pencapaian yang sehat, dan mana pamer berlebihan yang bisa bikin capek secara emosional. Misalnya, ajak anak refleksi: "Kenapa sih kamu pengin upload ini? Biar senang aja atau biar dilihat orang lain?" Pertanyaan kecil kayak gitu bisa bantu mereka lebih sadar sama motivasi di balik tiap postingan. Pada akhirnya, punya barang bagus atau hidup nyaman itu nggak salah sama sekali. Yang jadi masalah adalah ketika kita mengukur harga diri dari seberapa mewah yang bisa kita pamerkan. Belajar menikmati hal sederhana, bersyukur, dan membatasi waktu di media sosial bisa jadi langkah kecil untuk melindungi kesehatan mental di tengah tren flexing ala sultan yang lagi marak di mana‑mana.





















































