Whip pink/Gas Tawa

Belakangan ini berita mengenai nitrous oxide (N2O) atau yang kerap disebut sebagai “gas tawa” menjadi perbincangan di Indonesia. Ternyata, tren mengenai menghirup gas tawa ini sudah viral terlebih dahulu di Amerika Serikat sejak 2022 lalu lho Ma!😱

Pemerintah negara bagian New York sampai mengambil langkah tegas sejak beberapa tahun terakhir berupa aturan baru yang melarang penjualan krim kocok kalengan kepada siapapun yang berusia dibawah 21 tahun dengan tujuan mencegah remaja menyalahgunakan nitrous oxide yang terkandung di dalamnya🥶

Di Indonesiapun, ternyata ada yang menjual sejenis ini lho Ma! Ada baiknya kita sebagai orangtua tetap waspada dan memberikan informasi yang jelas kepada anak agar mereka tidak mengikuti trend belaka.

#Popmamanews

1/26 Diedit ke

... Baca selengkapnyaNitrous oxide, yang dikenal sebagai gas tawa, memang semakin ramai dibicarakan terutama karena tren negatif penyalahgunaannya di kalangan remaja. Dari pengalaman banyak orangtua yang saya kenal, kesadaran akan bahaya gas ini masih sangat minim. Banyak anak yang menganggapnya hanya sekadar hiburan karena efek euforia dan sensasi melayang yang ditimbulkannya. Padahal, seperti yang dijelaskan oleh para ahli, penggunaan N2O tanpa pengawasan medis bisa membawa dampak buruk seperti gangguan saraf, kesemutan, bahkan kerusakan fungsi otak akibat kekurangan oksigen. Selain itu, gas ini juga dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang penting untuk kesehatan saraf dan produksi sel darah merah, sehingga efek jangka panjangnya sangat berbahaya. Saya sendiri pernah berbicara dengan beberapa remaja yang mengaku mencoba menghirup gas ini karena ikut-ikutan tren di media sosial. Situasi ini memperlihatkan betapa pentingnya peran orangtua dan sekolah untuk memberikan edukasi yang jelas dan faktual. Jangan sampai anak-anak hanya tahu tren tanpa memahami risikonya. Untuk itu, selain mengawasi penggunaan produk seperti krim kocok kalengan yang mengandung nitrous oxide, komunikasi terbuka dengan anak sangat penting. Bagikan informasi tentang bahaya nyata dan dampak jangka panjang yang mungkin tidak langsung terlihat. Dengan begitu, mereka dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan tidak tergoda ikut-ikutan tren berisiko tinggi. Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga perlu mempertimbangkan regulasi yang lebih ketat untuk mencegah peredaran gas ini agar tidak mudah diakses oleh anak di bawah umur, seperti yang sudah dilakukan di New York. Semoga dengan semakin banyak orangtua dan masyarakat yang melek akan bahaya gas tawa, tren negatif ini tidak berkembang luas dan anak-anak kita bisa tetap aman dari pengaruh buruk zat kimia berbahaya.